Kami ngobrol bareng Black Petrol dan Annisya sesaat sebelum kolaborasi mereka di Coma, M Bloc Space pada 24 Agustus. Apa saja cerita mereka tentang penggemar lokal? Temukan di sini!
Cerita Black Petrol soal Konser Intim Jakarta, Nge-Jam Bareng Annisya!
1. Baru dari LaLaLa Fest 2026!
Q: Selamat datang ke Indonesia dan otsukare buat LaLaLa Festival! Gimana pendapatnya tentang audiens Indonesia segar dari pertunjukan kalian di festival tersebut?
takaosoma: Audiens Indonesia itu lumayan tidak banyak minum alkohol atau nge-party, tapi walau seperti itupun mereka yang minumnya kopi atau air ini tension-nya tetap naik. Jadi, kami mulai mengerti dan dapat melihat pola masyarakat dan pencinta musik di sini jadi semangatnya tetap naik.
2. Kolaborasi dengan Annisya
Q: Ketika berkolaborasi dengan musisi lokal, bagaimana kalian nge-vibe dengan Annisya dalam nge-remix track kalian?
SOMAOTA: Ketika mempersiapkan lagunya, kami juga telah mendengarkan lagu-lagunya Annisya buat dapat feel-nya, dan begitu dicoba perform langsung dapet vibe-nya bersama Annisya.
Annisya: Buatku seru banget karena waktu aku berkesempatan juga untuk melakukan tur di Jepang, aku belum sempat menemukan Black Petrol. Sekarang begitu mereka datang ke Indonesia kami terhubung, berkolaborasi, aku merasa mereka punya karakter, warna musik mereka sendiri yang bikin aku senang ketika kami punya kesamaan di latar belakang seperti mereka doyan hip hop dan jazz, begitupun aku doyan hip hop dan jazz. Kolaborasi ini pun langsung terasa alami di antara kami.
3. Waktu dalam membentuk diaspora
Q: Berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk menyesuaikan gaya musik dari nuansa electro-jazz yang diusung dulu sampai ke nuansa UK garage yang diusung di album Diaspora saat ini?
takaosoma: Waktu kami di Kyoto, kami sering melakukan street performance, banyak orang juga yang chipping in tidak hanya dari orang Jepang, namun juga orang Korea, Inggris, orang dari luar negeri. Dari sana, aku melihat bagaimana lagu bisa mempersatukan berbagai macam selera, namun juga berbagai macam bangsa, dan dari situlah kami dapat mengalami evolusi sampai musik di Diaspora saat ini.
4. Antara pendengar luar negeri dan lokal!
Q: Selagi tur luar negeri ini, bagaimana kalian membandingkan vibe antara pendengar lokal dan luar negeri?
SOMAOTA: Terasa perbedaan tidak hanya dari segi budaya, tapi fresh banget sampai segi gestur tubuhpun, bahkan seperti kemarin waktu pertama kali kami kemari (LaLaLa Fest 2026) kami melihat respon antara penonton ke kami itu terasa beda banget variasinya.
5. Terus bereksperimen
Q: Dari Free Jazz, Electro hingga UK Garage, ada genre yang lagi kalian targetin atau harapkan untuk dieksperimen selanjutnya?
takaosoma: Apa pun genre atau niche-nya, kami suka banget bereksperimen dengan sound yang sesuai dengan taste dan apa yang bikin kami tertarik pada saat ini, misal seperti bunyi UK Garage sekarang, tanpa harus terikat pada keseragaman apa pun.
Apa pendapatmu tentang lagu-lagu Black Petrol dan Annisya? Sampaikan di kolom komentar!
Untuk informasi yang lebih lengkap soal anime dan manga, film, game, serta gadget, yuk gabung komunitas Warga Duniaku lewat link berikut:
Discord: https://bit.ly/WargaDuniaku
Tele: https://t.me/WargaDuniaku
WA Channel: https://bit.ly/WAChannelDuniaku
Curated For You
- Black Petrol Gelar Konser Intim di Coma M Bloc Space25 Agu 2026, 18:15 WIB
- Kami Ngobrol Bareng WOLF HOWL HARMONY, Pengen ke Indonesia!20 Agu 2026, 13:00 WIB
- Ngobrol Bareng Daruma Rollin Soal Inspirasi Musik Sampai Kolaborasi!16 Jul 2026, 12:00 WIB