Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Ini Isi Rangkuman Rapat Dialog Terbuka Industri Gim, Bahas IGRS!
Dialog Terbuka Industri Gim (Berbagai Sumber)
  • Dialog Terbuka Industri Gim membahas tujuan IGRS sebagai panduan klasifikasi konten agar industri gim lebih aman, nyaman, dan mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional.
  • Pelaku industri menyampaikan kekhawatiran bahwa regulasi RC dapat menghambat regenerasi developer baru serta menurunkan peluang penjualan gim lokal di pasar domestik.
  • Pihak Komdigi menjelaskan masalah RC disebabkan bug teknis dari Steam dan menegaskan pemblokiran hanya dilakukan setelah proses panjang serta koordinasi dengan pelaku usaha.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dialog Terbuka Industri Gim juga mengeluarkan rangkuman rapat dar Bahas IGRS!

1. Tujuan hadirnya IGRS!

Berdasarkan Rangkuman Rapat/FGD tentang IGRS oleh Community Lead @gamedevjakarta dan Founder Curious Tail Fajri Rahmadhanny, acara Dialog Terbuka Industri Gim yang diadakan 8 April oleh Komdigi bersama pelaku industri game tersebut membahas tentang tujuan IGRS dan masalah dalam penegakannya. Ketua Tim Kebijakan dan Klasifikasi Gim Tita Ayuditya Surya. bercerita tentang tujuan IGRS, yaitu sebagai pacuan dalam memilih konten untuk dikonsumsi oleh orang yang sesuai.

"Pak Sony (Direktur Ekosistem Digital Komdigi Sonny Hendra Sudaryana) juga menjelaskan kalau misi beliau adalah mempercepat growth ekonomi di digital juga, lalu mencontohkan: kalau ada anak yang alergi makanan, orang tua bisa mengecek info di package makanan yang menjelaskan ada atau tidak kandungan yang men-trigger alergi. Jadi beliau ingin menjadikan industri game ini lebih aman dan nyaman, sehingga pengonsumsi game dan pencipta game tahu batasan siapa saja yang bisa mengonsumsi hasil karya mereka," buka rangkuman tersebut.

2. Pertanyaan dari pelaku industri!

Dalam laporan tersebut, CEO Gamecom Team Nanda memberikan tanggapan, “Pak, yang terjadi dengan RC ini justru menghambat pertumbuhan industri kita.” Nanda khawatir kalau dipersulit dengan permasalahan RC, takutnya industri game di Indonesia malah jadi tidak ada regenerasi pelaku usaha baru.

Presiden Asosiasi Game Indonesia Shafiq Husein menyampaikan bahwa AGI mendukung visi dan misi IGRS ini, dan siap menjembatani komunikasi antara pelaku industri dan masyarakat. Namun, "AGI sendiri hanya berperan sebagai jembatan, karena kekuatan tetap berada di tangan para pembuat kebijakan, dan kemajuan tentu hanya bisa terjadi apabila semua pihak turut bergerak bersama: pelaku industri, pembuat kebijakan, maupun masyarakat konsumer game," ungkap Shafiq senada dengan tanggapan AGI terkait IGRS tanggal 6 April.

Dany juga mengutarakan keresahannya untuk masa depan developer yang baru merintis. "Untuk memulai saja sudah banyak sekali halangannya, dan dengan RC yang seperti memblokir karya kita seperti itu, bagaimana kita bisa menjual dan berkembang di lokal? Apa jadinya market kita kalau kita tidak bisa berjualan di rumah kita sendiri?" ungkap Dany.

3. Jawaban pihak Komdigi

Sonny menjawab dengan menggarisbawahi bahwa yang terjadi kemarin adalah bug dari Steam dan pengolahan rating dari data yang tidak ditemukan, kemungkinan karena belum mengisi survei dan dokumennya. Jadi memang pihak dari Steam ada andil peran dari masalah ini. Menjawab tanggapan CEO Toge Productions Kris Antoni terhadap RC yang berakibat karya bisa diblokir kapan saja, Sonny menjelaskan lagi bahwa Komdigi tidak bisa memblok karya kecuali memang sudah diberikan teguran berulang-ulang dan memang ada dorongan dari keresahan masyarakat. "Tapi sayangnya RC ini memang digunakan di negara lain sebagai produk yang diblokir. Jadi sebaiknya ada label lain yang diberikan agar konsumen tahu bahwa game ini masih dalam pemeriksaan atau belum memberikan info konten mereka, tetapi masih bisa dikonsumsi."

Laporan tersebut lanjut menjelaskan bahwa Komdigi masih tetap punya kekuatan memblok game, tetapi dengan proses yang lebih panjang lagi dengan pelaku usaha secara langsung dan kerja sama dengan platform, jadi tidak dari IGRS-nya itu sendiri. Setelah itu diskusi masih berlanjut tentang pemetaan regulasi yang masih kurang detail dan memang belum matang.

"Semoga kita sama-sama bisa ambil peran membuat IGRS yang melindungi pelaku industri dan masyarakat juga," tutup laporan tersebut.

Apa pendapatmu terhadap isi rapat diskusi pelaku industri game terhadap IGRS ini? Sampaikan di kolom komentar!

Editorial Team