Jacob Diaz MindsEye (dok. Build A Rocket Boy)
Jika ada satu game yang menjadi simbol kekecewaan kolektif 2025, maka MindsEye adalah kandidat terkuat. Dengan konsep open-world sinematik yang ambisius, game ini sejak awal dipasarkan sebagai pengalaman naratif besar berikutnya. Ekspektasi itu tidak muncul tanpa alasan. MindsEye dikembangkan oleh Build A Rocket Boy, studio yang dipimpin oleh Leslie Benzies, sosok yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai otak di balik kesuksesan seri Grand Theft Auto. Bagi banyak orang, MindsEye bukan sekadar game baru, ia adalah “proyek pembuktian” dari salah satu figur paling berpengaruh di industri.
Sayangnya, realita berkata lain. Saat rilis, MindsEye langsung dibanjiri kritik terkait performa teknis yang bermasalah, desain misi yang monoton, serta dunia terbuka yang terasa kosong dan kurang interaktif. Alih-alih menawarkan kebebasan dan kedalaman seperti yang diharapkan dari nama besar di belakangnya, game ini justru terasa sempit dan kaku. Narasi sinematik yang dijanjikan pun sering terputus oleh gameplay repetitif, membuat pengalaman bermain kehilangan ritme dan urgensi emosionalnya.
Yang paling menyakitkan dari MindsEye adalah kenyataan bahwa game ini hampir berhasil. Ada ide menarik, ada fondasi dunia yang sebenarnya menjanjikan, namun semuanya terasa seperti dirilis sebelum benar-benar matang. Ambisi besar tidak diimbangi dengan eksekusi yang rapi dan fokus desain yang jelas. MindsEye akhirnya menjadi pengingat pahit bahwa reputasi masa lalu—sebesar apa pun—tidak otomatis menjamin kualitas di masa depan.
Kelima game ini menunjukkan satu benang merah yang sulit diabaikan: kekecewaan terbesar lahir bukan dari game yang sepenuhnya buruk, melainkan dari game yang menjanjikan sesuatu yang lebih besar dari apa yang akhirnya mereka berikan. Tahun 2025 dipenuhi judul dengan nama besar, warisan panjang, dan ambisi tinggi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa hype adalah pedang bermata dua. Dalam industri yang semakin kompetitif, nostalgia, reputasi, dan trailer indah tidak lagi cukup. Pada akhirnya, yang menentukan bukan seberapa besar janji yang diucapkan—melainkan seberapa matang ia diwujudkan.