(Dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword)
Way of the Sword mengambil Musashi pada titik ketika hidupnya seharusnya mulai memasuki fase penting setelah menghadapi perguruan Yoshioka.
Namun dalam versi game, takdir Musashi kemudian dibelokkan secara supernatural.
Alih-alih melanjutkan perjalanan hidupnya seperti dalam sejarah dan legenda, ia justru terbunuh... lalu hidup lagi dan terseret ke dalam konflik melawan Genma, dengan Oni Gauntlet berada di tangannya.
Ini menarik karena Musashi yang digunakan game bukan Musashi tua yang sudah dikenal sebagai filsuf dan penulis The Book of Five Rings.
Ia juga belum mencapai sosok Musashi yang dalam kisah-kisah populernya mulai mencari makna hidup yang lebih luas, termasuk fase ketika ia sempat meninggalkan kehidupan sebagai pengembara dan menjalani kehidupan yang lebih tenang.
Ini adalah Musashi yang secara teknik pedang sudah sangat kuat, tetapi secara spiritual dan filosofis masih dalam perkembangan.
Bahkan dalam kisah populer tentang hidupnya, jika takdir berjalan seperti yang dikenal dalam legenda, ia masih akan menghadapi berbagai pertarungan besar setelah konflik Yoshioka.
Untuk protagonis sebuah game action, posisi ini terasa sangat ideal.
Musashinya sudah cukup kuat untuk dipercaya menghadapi monster dan pendekar legendaris, tetapi masih memiliki ruang perkembangan karakter yang besar.
Jadi pemain tidak mendapatkan Musashi yang sudah sempurna, melainkan Musashi yang sudah sangat hebat, tetapi masih perlu berkembang sebelum menjadi legenda.