Dok. Sony Pictures (Masters of The Universe)
Sebagian besar film ini memanfaatkan practical effects dan set nyata yang berpadu apik dengan adegan stunt yang solid, termasuk performa apik dari stuntwoman Christiaan Bettridge. Adegan pertarungannya sukses menggabungkan elemen kartun liar dan aksi fisik tanpa membuang akar animasinya. Sayangnya, integrasi CGI pada beberapa bagian kurang mulus, terutama pada penampilan Cringer, sang harimau raksasa yang bisa bicara. Terlepas dari kelemahan visualnya, karakter Cringer sendiri sangat menghibur.
Bagi para penggemar, Masters of the Universe dipenuhi Easter eggs, berbagai adegan post-credits, cameo besar, hingga referensi video viral klasik "Fabulous Secret Powers". Estetika musiknya yang terasa seperti "sampul album heavy metal" dieksekusi dengan brilian oleh komposer Daniel Pemberton, lengkap dengan lengkingan solo gitar dari Brian May (Queen) dan lagu penutup bergaya 1983 yang dibawakan oleh The Darkness.
Pada akhirnya, Masters of the Universe berhasil menang justru karena ia menolak untuk menjadi serius. Di era di mana banyak adaptasi franchise klasik terjebak dalam ambisi untuk tampil kelam dan edgy, Travis Knight berani mengambil rute sebaliknya: merangkul totalitas kekonyolan materinya tanpa rasa malu. Menonton film ini tidak ubahnya seperti menemukan kembali kotak action figure usang di sudut kamar masa kecil kita. Ia absurd, berlebihan, dan sama sekali tidak masuk akal, tetapi justru di situlah letak pesonanya. Sebuah eskapisme sinematik yang menjadi pengingat hangat bahwa terkadang, tujuan utama dari sebuah hiburan hanyalah untuk murni bersenang-senang.