Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ulasan Film Evil Dead Burn, Body Horror Maksimal yang Minim Emosi
Dok. Sony Pictures (Evil Dead Burn)

Franchise Evil Dead selalu punya tempat khusus di hati para pencinta horor. Dari era Ash Williams yang legendaris, kebangkitan modern lewat Evil Dead (2013), hingga Evil Dead Rise yang sukses mengubah apartemen kumuh menjadi neraka, seri ini pantang main-main dalam urusan menumpahkan darah.

Kini, tongkat estafet beralih ke tangan sutradara Sébastien Vaniček yang sebelumnya sukses membuat penonton merinding lewat Infested. Melalui instalasi terbaru bertajuk Evil Dead Burn, film ini beranjak dari formula kabin di tengah hutan ke arena baru, sebuah rumah keluarga terpencil bersalju. Pertanyaannya, apakah film ini mampu menjaga warisan brutal dari Necronomicon Ex-Mortis? Berikut ulasannya!

1. Teror Mengancam di Balik Trauma

Dok. Sony Pictures (Evil Dead Burn)

Fokus cerita kita kali ini jatuh pada karakter Alice (diperankan oleh Souheila Yacoub), seorang janda muda yang tengah berduka. Berniat mencari ketenangan dan menyembuhkan luka batin, ia berkunjung ke rumah keluarga mendiang suaminya yang terisolasi oleh badai salju. Sialnya, momen berkabung tersebut hancur berantakan ketika entitas iblis kuno kembali terlepas.

Satu per satu anggota keluarga mulai kerasukan dan berubah menjadi Deadite yang haus darah. Secara premis, Evil Dead Burn sebenarnya memiliki fondasi penceritaan yang kuat untuk menggali aspek psikologis mengenai trauma dan kelamnya konflik keluarga. Latar musim dingin yang mengisolasi para karakternya juga sukses memberikan nuansa klaustrofobik yang mencekam sedari awal film berjalan.

2. Eksekusi Visual yang Bikin Ngilu

Dok. Sony Pictures (Evil Dead Burn)

Kalau kalian mencari kengerian visual dan pesta darah, Evil Dead Burn dipastikan tidak akan mengecewakan, bahkan sangat mungkin menguji ketahanan perut. Vaniček benar-benar melepaskan segala batasan dan menyajikan tingkat gore yang sangat ekstrem. Pengaruh kuat dari film-film New French Extremity sangat terasa di sini. Benda-benda rumahan biasa dieksploitasi habis-habisan menjadi senjata mematikan yang siap merobek daging tanpa ampun.

Di sisi teknis, sinematografer Philip Lozano layak mendapat apresiasi tinggi. Tangkapan kameranya, terutama lewat teknik long-take, minim potongan dan pergerakan kamera berputar yang dinamis, sukses merangkum setiap detail kekacauan dengan memukau. Ditambah lagi, komitmen pada penggunaan efek praktis (practical effects) membuat setiap adegan berdarah terasa kotor, berbobot, dan menjijikkan dalam artian terbaik.

3. Minim Ruang Bernapas dan Dangkalnya Emosi

Dok. Sony Pictures (Evil Dead Burn)

Sayangnya, di balik departemen teknis yang solid, film ini tersandung kelemahan di sektor penulisan karakternya. Sutradara tampaknya terlalu asyik menyiksa karakternya tanpa ampun hingga lupa memberikan ruang bagi penonton untuk benar-benar peduli pada nasib Alice. Potensi drama emosionalnya dibiarkan dangkal dan akhirnya tertimbun di bawah literan darah merah.

Selain itu, elemen komedi gelap (dark comedy) yang biasanya menjadi ciri khas penyeimbang di franchise Evil Dead nyaris absen total di sini. Keseluruhan film terasa sangat mean-spirited dan sarat akan keputusasaan. Alih-alih merasa terhibur dengan wahana horor yang disajikan, paruh akhir film justru bisa terasa layaknya siksaan mental yang melelahkan karena intensitas kengeriannya yang tak pernah turun sekalipun.

4. Kesimpulan Akhir

Dok. Sony Pictures (Evil Dead Burn)

Secara keseluruhan, Evil Dead Burn adalah sebuah surat cinta yang sangat sadis, dirancang khusus untuk memuaskan rasa lapar para penikmat horor ekstrem. Film ini memang gagal mengawinkan mitologinya dengan kedalaman cerita yang berbobot, namun ia tidak pernah ingkar janji dalam menghadirkan sajian sinematik yang brutal dan tanpa sensor. Bagi kalian yang punya nyali berlebih, bersiaplah menghadapi kengerian Deadite yang tak kenal ampun ini di bioskop terdekat. Sebuah tontonan yang dijamin akan membuat kalian meringis ngilu hingga layar berganti menjadi credits!

Sinopsis Evil Dead Burn (2026)

Evil Dead Burn mengikuti kisah Alice (Souheila Yacoub), seorang janda muda yang tengah berduka dan mencari ketenangan dengan mengunjungi rumah keluarga mendiang suaminya yang terisolasi di tengah badai salju. Sayangnya, upaya Alice untuk menyembuhkan luka batinnya berubah menjadi mimpi buruk ketika kekuatan iblis kuno dari Necronomicon Ex-Mortis tanpa sengaja terlepas. Satu per satu anggota keluarganya mulai kerasukan dan bertransformasi menjadi Deadite haus darah, menjebak Alice dalam arena mematikan yang memaksanya berjuang mati-matian untuk bertahan hidup dari teror keluarganya sendiri.

Disutradarai oleh Sébastien Vaniček, instalasi terbaru dari franchise legendaris ini menyajikan teror klaustrofobik tanpa henti dengan tingkat gore yang sangat ekstrem. Meninggalkan elemen komedi gelap khas seri terdahulunya, film ini murni mengandalkan eksploitasi visual yang brutal lewat penggunaan practical effects yang memukau dan manipulasi benda-benda rumahan menjadi senjata mematikan. Dengan atmosfer mencekam di tengah dinginnya salju dan keputusasaan yang konstan, Evil Dead Burn hadir sebagai sajian horor sadis yang dirancang khusus untuk menguji nyali serta ketahanan perut para penontonnya.

Evil Dead Burn
2026
3/5
Directed by Sébastien Vaniček
ProducerRobert Tapert, Sam Raimi
WriterSébastien Vaniček, Florent Bernard
Age Rating21+
GenreKengerian, Cerita Seru
Duration110 Minutes
Release Date07-07-2026
Themefuneral, widow, supernatural, possession, dysfunctional family, sequel, grief, spirit, demon, spin off, family, book of the dead, evil dead, demonic possession, death of husband, aggressive, abusive husband, supernatural horror, body horror, ghoulish, tragic
Production HouseNew Line Cinema, Screen Gems, Ghost House Pictures
Where to WatchCinema XXI, CGV, Cinepolis, Flix
CastSouheila Yacoub, Tandi Wright, Hunter Doohan, Luciane Buchanan, Erroll Shand

Trailer Evil Dead Burn (2026)

Curated For You

Editorial Team

Related Article