Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Ulasan Film Backrooms (2026), Gerbang Horor ke Lore yang Lebih Gede
Backrooms (dok. A24)
  • Kane Parsons sukses membawa karya horor YouTube-nya ke layar lebar dengan naskah sederhana namun atmosfer mencekam yang setia pada nuansa analog horor khas Backrooms.
  • Aksi Chiwetel Eijofor dan Renate Reinsve menjadi pusat kekuatan film, menampilkan dinamika emosional yang kuat saat karakter mereka terseret ke dunia misterius Backrooms.
  • Sinematografi, efek visual, dan desain suara berlapis menciptakan ketegangan intens, termasuk detail unik seperti penggunaan bahasa Indonesia dalam elemen audio film.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Backrooms 2026 akhirnya tayang, dan bagaimana dengan penilaian dari kami sendiri terhadap film debut layar lebar pencipta horor YouTube aslinya tersebut? Temukan di sini!

Synopsis Backrooms (2026)

Seorang pengusaha mebel menemukan ruang kuning tanpa ujung di tembok ruang bawah tanah tokonya. Apa yang ia temukan di dalamnya akan menguak trauma tidak hanya bagi dirinya, namun orang-orang yang terlibat di sekitarnya.

Backrooms
2026
4/5
Directed by Kane Parsons
ProducerShawn Levy, Dan Cohen, Dan Levine, James Wan, Michael Clear
WriterWill Soodik, Kane Parsons
Age Rating17+
GenreKengerian, Misteri, Cerita Fiksi
Duration111 Minutes
Release Date27-05-2026
Themecalifornia, monster, therapist, surrealism, childhood trauma, alcoholism, found footage, 1990s, other dimension, based on web series, psychological, liminal, body horror, psychological horror, liminal space, analog horror, sci-fi horror, bewildered, foreboding, liminal horror
Production HouseAtomic Monster, 21 Laps Entertainment, A24, Phobos, The North Road Company
Where to WatchCinema
CastChiwetel Ejiofor, Renate Reinsve, Mark Duplass, Finn Bennett, Lukita Maxwell

Trailer Backrooms (2026)

1. Debut yang mengangkat karya aslinya!

Backrooms (dok. A24)

Kane Parsons dalam mengadaptasi karyanya sendiri ke dalam layar lebar benar-benar maksimal secara naskah dan pengarahan. Momen-momen sinematik yang lebih linear dalam Backrooms tidak hanya dibuka dengan callback ke nuansa analog horor yang ia bawakan dalam seri The Backrooms di awal kemunculannya di YouTube, namun juga punya momen-momen mencekam sejati yang setia dengan tema horor dalam ruang-ruang terbengkalai.

Premis yang dibawakan berikut dengan naskahnya juga hadir dengan sederhana, dan membiarkan atmosfer film yang bekerja dengan sendirinya. Komposisi adegannya sendiri lebih memilih untuk sabar dalam memunculkan kengerian di dalamnya, bahkan setelah monster dalam diri mereka muncul.

2. Di-carry kedua lead-nya!

Backrooms (dok. A24)

Chiwetel Eijofor dan Renate Reinsve mengangkat lebih dari setengah porsi film ini dengan keberadaan mereka yang hadir bahkan di luar bingkai adegan film. Sebagai kedua tokoh fokus dalam film ini, mereka berdua yang sama-sama bermain sebagai korban yang tahu-tahu terseret ke dalam Backrooms membawakan persona yang menangkap pengalaman seram seperti apa yang ingin disampaikan dalam film ini, terlebih dalam menggambarkan perbedaan reaksi mereka dalam menemukan kengerian yang terjadi di area lain tersebut.

Sebagai tokoh yang berada di luar pusaran horor yang sangat personal tersebut, Lukita Maxwell dan Finn Bennett membawakan akting yang meyakinkan ketika mereka juga ikut terjerat dalam kegelapan yang dibawakan oleh lokasi ini. Selain itu, Mark Duplass sebagai pihak ketiga yang menggambarkan referensi besar dari lore Backrooms di luar filmnya sendiripun dapat memberikan penampilan yang meyakinkan dalam pendeknya durasi tokohnya di film tersebut.

3. Suara mencekam dan tahu-tahu Indonesia!

Backrooms (dok. A24)

Sinematografi Jeremy Cox dan editing Greg Ng serta terjemahan efek visual yang dibawakan oleh tim Alan Derksen pun membuat kengerian dalam film ini berlapis dari yang tampak maupun yang tidak tampak lewat gagasan-gagasan obyek yang terjebak di dalam set film tersebut. Kemudian, Kane Parsons sendiri yang ikut terlibat dalam musik Edo Van Breemen mengawasi nuansa dan musik ikonik yang dibawakan oleh horor Backrooms bahkan sebelum film layar lebarnya tayang.

Satu hal menarik yang datang dari tim desain suara Eugenio Battaglia yang hadir dalam film ini juga keunikan mereka dalam meramu ketegangan film melalui langkah dan bunyi-bunyi yang senyap. Bahkan ketika bunyi yang ramai seperti salam dari radio dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia pun menambah keseraman film tersebut dan menjaga kesunyiannya.

Apa pendapatmu sendiri terhadap film Backrooms? Bagikan di kolom komentar!

Editorial Team

Related Article