Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Install

Street Fighter 2026 vs Resident Evil 2026, Mana Lebih Bagus?

11 min read
Street Fighter 2026 vs Resident Evil 2026, Mana Lebih Bagus?
Resident Evil dan Street Fighter, dua film adaptasi game Capcom.
  • Resident Evil unggul dalam menerjemahkan sensasi bermain game, aksi bertahan hidup, fokus protagonis, konsistensi tone, dan penyutradaraan.

  • Street Fighter menang dalam identitas franchise serta kesetiaan terhadap karakter dan elemen ikonis yang dikenal penggemar.

  • Dalam perbandingan tujuh kategori, Resident Evil menang 6–1 karena terasa lebih utuh sebagai film.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ini memang artikel komparasi yang mungkin terasa agak lucu.

Berbeda dari Street Fighter (2026) versus Mortal Kombat II, yang sama-sama merupakan adaptasi game fighting, membandingkan Street Fighter dengan Resident Evil jelas bukan perbandingan yang sepenuhnya apple to apple.

Namun, ada satu hal yang membuat perbandingan ini sulit dihindari: keduanya merupakan film adaptasi game Capcom yang dirilis berdekatan. Resident Evil tayang pada September 2026, disusul Street Fighter pada Oktober.

Keduanya juga mengambil pendekatan yang berbeda dalam menerjemahkan game ke layar lebar. Satu mencoba menghadirkan pengalaman bertahan hidup yang terasa seperti bermain game, sementara yang lain membawa karakter, jurus, dan dunia fighting game ke kehidupan nyata.

Nah, kalau kita bandingkan berdasarkan beberapa kategori, mana yang lebih unggul dan kenapa?

  1. 1. Seberapa Berhasil Menerjemahkan Sensasi Bermain Game?

    Resident Evil 2026
    Resident Evil 2026 (dok. Sony Pictures Entertainment/Resident Evil)

    Untuk kategori ini, izinkan saya mengutip Hideo Kojima.

    Yep, Kojima yang Metal Gear Solid itu.

    Dia mengunggah komentarnya di akun X-nya.

    "...Ini bukan film adaptasi dari 'Resident Evil.' Film ini justru menggambarkan pengalaman saat memainkan 'Resident Evil' dengan controller di tangan. Film ini mengingatkan saya pada perasaan saya saat pertama kali memainkan 'Resident Evil' orisinal di PlayStation pada tahun 1996. Saya persis seperti Bryan di film ini; terus-menerus mengalami game over dan berteriak 'Sial!' berulang kali. haha"

    Kutipan tersebut merangkum salah satu kekuatan unik Resident Evil (2026).

    Ceritanya berbeda jauh dari game. Bryan Hodukavich bukan karakter yang dikenal dari seri tersebut. Namun, sutradara Zach Cregger justru berhasil menerjemahkan bahasa visual dan sensasi bermain game melalui perjalanan Bryan.

    Kita melihat bagaimana seorang karakter harus menghadapi bahaya, mengambil keputusan dalam situasi genting, dan berusaha bertahan hidup dengan peluru terbatas meskipun tidak selalu memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah yang menghadangnya.

    Sementara itu, Street Fighter lebih setia menghadirkan berbagai elemen yang familier dari gamenya. Kita melihat para petarung ikonis, jurus andalan, dan pertarungan yang terasa seperti versi nyata dari game.

    Namun, ada perbedaan mendasar. Street Fighter lebih terasa seperti menyaksikan orang lain memainkan Street Fighter, sedangkan Resident Evil berusaha membuat kita merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang sedang memainkan Resident Evil.

    Saya tidak bisa menyalahkan Street Fighter karena memilih pendekatan berbeda. Game fighting dan survival horror memang menawarkan pengalaman yang berbeda pula.

    Namun, pendekatan Cregger terasa sangat unik. Jika keberhasilan Resident Evil menginspirasi sutradara lain untuk menerjemahkan bahasa gameplay ke dalam sinema dengan cara serupa, kita mungkin akan melihat lebih banyak adaptasi game yang kreatif.

    Pemenang: Resident Evil.

  2. 2. Identitas Franchise dan Kesetiaan terhadap Materi Sumber

    Still cut film Street Fighter (2026) (dok. Paramount Pictures/Street Fighter)
    Still cut film Street Fighter (2026) (dok. Paramount Pictures/Street Fighter)

    Untuk kategori ini, Street Fighter jelas unggul.

    Ketika Resident Evil dirilis pada September, ramai di media sosial penggemar memperdebatkan pendekatan filmnya yang berbeda dari game. Ceritanya mengambil banyak pendekatan beda dari lore game, dan protagonisnya pun merupakan karakter baru.

    Sebaliknya, Street Fighter menghadirkan banyak hal yang langsung dikenali penggemar: karakter-karakter familier, kostum ikonis, gaya bertarung khas, dan jurus-jurus yang selama ini menjadi identitas franchise tersebut.

    Film ini ingin memperlihatkan bagaimana rasanya melihat dunia Street Fighter diwujudkan dalam bentuk live-action. Dalam banyak adegan, pendekatan itu berhasil.

    Namun, ada ironi menarik di sini. Seperti yang kita bahas pada kategori sebelumnya, Resident Evil justru menunjukkan bahwa kesetiaan terhadap materi sumber tidak selalu berarti harus mengikuti karakter atau alur cerita game secara langsung.

    Cregger mengambil kebebasan besar dalam cerita, tetapi berhasil mempertahankan sensasi bermain yang menjadi bagian penting dari identitas Resident Evil.

    Dengan kata lain, kedua film ini sama-sama memahami materi sumbernya, tetapi menerjemahkan pemahaman itu dengan cara berbeda. Untuk kategori ini, saya memberikan kemenangan kepada Street Fighter karena film tersebut lebih langsung menghadirkan karakter dan elemen ikonis yang diharapkan penggemar.

    Pemenang: Street Fighter.

  3. 3. Aksi dan Koreografi

    Still cut film Resident Evil
    Still cut film Resident Evil (dok. Columbia Pictures/Resident Evil)

    Dalam wawancara Zach Cregger dan Austin Abrams bersama Inugami Korone (iya, VTuber itu) Cregger mengungkapkan pendekatan menarik dalam merekam aksi Bryan.

    Ia menjelaskan bahwa ketika Bryan harus melakukan aktivitas fisik atau mempelajari cara menggunakan senjata api, tim produksi terkadang merekam percobaan pertamanya. Misalnya, ketika Bryan harus melompati sesuatu, Abrams tidak diberi kesempatan untuk berlatih terlebih dahulu. Percobaan pertamanya itulah yang berpotensi masuk ke dalam film.

    Pendekatan ini cocok dengan karakter Bryan.

    Berbeda dari Chris Redfield atau Leon S. Kennedy yang memiliki pengalaman tempur, Bryan hanyalah seorang kurir yang terjebak di tengah situasi mengerikan.

    Akibatnya, aksi dalam Resident Evil terasa kacau, mentah, dan tidak selalu berjalan mulus. Ada komedi gelap ketika Bryan bingung gimana melepas pengaman pistol atau SMG, gagal melompati pagar, dan menghadapi berbagai persoalan yang mungkin dianggap sepele oleh protagonis film aksi pada umumnya.

    Namun, justru keterbatasan tersebut membuat konfrontasinya dengan monster terasa menegangkan. Kita tidak pernah benar-benar yakin Bryan mampu mengatasi ancaman berikutnya.

    Ia bukan Leon yang bisa dengan percaya diri melakukan parry terhadap serangan atau menghadapi musuh-musuh luar biasa. Bryan adalah orang biasa yang berusaha bertahan hidup.

    Di sisi lain, Street Fighter menawarkan jenis aksi yang sangat berbeda. Film ini menghadirkan bela diri super yang spektakuler, lengkap dengan jurus-jurus gila yang selama ini dikenal melalui game.

    Keduanya sebenarnya mengejar tujuan berbeda. Street Fighter ingin membuat pertarungan terasa luar biasa, sedangkan Resident Evil ingin membuat aksi bertahan hidup terasa berbahaya dan tidak terduga.

    Namun, saya memberikan kemenangan kepada Resident Evil karena konsistensinya.

    Banyak pertarungan Street Fighter yang memikat, tetapi ada juga momen ketika efek visual terasa terlalu dominan dibandingkan koreografi fisiknya. Sementara itu, aksi Bryan dalam Resident Evil relatif konsisten dengan keterbatasan karakter dan situasi yang dihadapinya.

    Pemenang: Resident Evil.

  4. 4. Protagonis dan Keterlibatan Emosional

    Still cut film Street Fighter (2026) (dok. Paramount Pictures/Street Fighter)
    Still cut film Street Fighter (2026) (dok. Paramount Pictures/Street Fighter)

    Nah, kategori ini menarik karena kedua film mengambil pendekatan yang hampir berlawanan.

    Street Fighter berfokus pada Ryu dan Ken. Hubungan mereka menjadi pusat emosional film, lengkap dengan sejarah persahabatan, kecemburuan, rasa rendah diri, dan konflik masa lalu.

    Ketika film memberikan ruang bagi hubungan keduanya, hasilnya bisa sangat menyentuh. Adegan Ryu dan Ken di tengah hujan, misalnya, menjadi salah satu momen terkuat dalam film.

    Namun, Street Fighter juga ingin mengembangkan berbagai konflik lain. Ada kisah Chun-Li yang menyimpan kebencian terhadap Bison karena kematian ayahnya, ancaman Akuma, serta rencana M. Bison dan Shadaloo.

    Akibatnya, ada kesan bahwa kisah Ryu dan Ken sebenarnya cukup kuat, tetapi perhatian penonton terus ditarik menuju berbagai plot lain yang belum tentu mendapatkan ruang pengembangan sepadan.

    Resident Evil memilih pendekatan yang lebih minimalis.

    Protagonisnya hanya satu: Bryan Hodukavich, seorang kurir yang harus mengantarkan paket ke Rumah Sakit Umum Raccoon City. Ia menghabiskan banyak waktu sendirian karena situasi yang dihadapinya terus memburuk dan banyak orang yang ditemuinya tidak bernasib baik.

    Sejak awal, kita melihat bahwa Bryan bukan pahlawan yang siap menghadapi kiamat zombie. Ia hanyalah orang biasa yang berusaha menyelesaikan tugasnya, sembari menghindari persoalan pribadi yang belum berani ia hadapi.

    Salah satunya adalah hubungannya dengan kekasihnya yang sedang hamil. Bryan selalu menghindari percakapan serius dengannya karena ia sendiri berusaha menghindari tanggung jawab yang menantinya.

    Situasi mengerikan di Raccoon City akhirnya memaksanya menghadapi bahaya sekaligus memikirkan lebih dalam persoalan dalam hidupnya sendiri.

    Bagi saya, Resident Evil unggul telak dalam kategori ini karena satu hal: fokus.

    Film ini tidak harus membagi perhatian di antara banyak protagonis dan konflik. Perjalanan Bryan menjadi pusat cerita, sehingga penonton dapat mengikuti ketakutan, kesalahan, dan keputusan-keputusannya secara lebih dekat.

    Pemenang: Resident Evil.

  5. 5. Konsistensi Tone

    Salah satu adegan di film "Resident Evil" (2026).
    Resident Evil (dok. Sony Pictures Releasing/Resident Evil)

    Ini menarik karena Resident Evil (2026) sebenarnya juga memiliki unsur komedi. Bukan komedi ringan, melainkan dark comedy yang muncul di tengah situasi mengerikan.

    Saat menghadiri press screening, saya melihat banyak rekan media dan tamu undangan tidak bisa menahan tawa. Padahal, Cregger pernah mengungkapkan bahwa ia mengurangi kadar humornya setelah penonton test screening menilai versi awal filmnya terlalu lucu.

    Bahkan, bagian akhir film bisa dianggap sebagai bentuk komedi yang sangat kelam. Respons penonton terhadapnya mungkin terbelah: ada yang menganggapnya efektif, sementara yang lain bisa saja merasa kesal.

    Namun, menurut saya, justru di sinilah Resident Evil unggul.

    Sejak awal, film ini sudah memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai jenis pengalaman yang ingin ditawarkan: horor yang menegangkan, body horror yang ekstrem, dan komedi gelap yang muncul dari absurditas situasi yang dihadapi Bryan.

    Bahkan sebenarnya "situasi serius lalu diganggu humor" pun terjadi di Resident Evil, bukan hanya Street Fighter. Ada momen ketika Bryan merekam pesan yang mungkin menjadi kata-kata terakhirnya untuk sang kekasih. Setelah itu, film kembali menyelipkan dialog komedi bersama seorang ilmuwan Umbrella.

    Secara teori, peralihan seperti ini bisa merusak suasana seperti ketika terjadi di film Street Fighter. Namun, dalam konteks filmnya, humor tersebut masih terasa sebagai bagian dari dunia yang sejak awal dibangun Cregger.

    Komedi gelap di bagian akhir pun terasa sebagai eskalasi dari tone yang sudah diperkenalkan sebelumnya, bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul hanya untuk memancing tawa.

    Sementara itu, Street Fighter mencoba meramu banyak hal sekaligus: drama masa lalu Ryu dan Ken, kisah Chun-Li, ancaman Shadaloo, serta komedi yang kadang terasa seperti American Pie.

    Ada momen ketika humor tersebut berhasil. Namun, ada pula adegan ketika lelucon terasa mengganggu konflik emosional yang sedang dibangun.

    Masalahnya bukan karena Street Fighter terlalu konyol. Justru absurditas merupakan bagian dari daya tarik franchise ini. Persoalannya adalah bagaimana film tersebut menentukan kapan harus membiarkan momen seriusnya bernapas.

    Pemenang: Resident Evil.

  6. 6. Penyutradaraan dan Bahasa Visual

    Akuma.jpg
    Dok. Legendary Pictures (Street Fighter)

    Wah, untuk kategori ini, Zach Cregger menang cukup telak menurut saya.

    Cregger menyajikan cerita yang relatif sederhana, tetapi memanfaatkan durasi sekitar 90 menit untuk membangun pengalaman sinematik yang khas.

    Seperti dalam Barbarian dan Weapons, ia memadukan horor, efek praktis yang ekstrem, serta komedi gelap untuk menangkap absurditas dan kepanikan yang muncul ketika seseorang menghadapi situasi di luar kendalinya.

    Salah satu contoh yang membekas adalah adegan di hamparan salju sunyi yang diterangi cahaya merah dari lampu mobil. Paduan visual tersebut menciptakan suasana yang mudah diingat, sekaligus memperlihatkan bagaimana Cregger menggunakan ruang, warna, dan pencahayaan untuk membangun ketegangan.

    Bahasa visual film ini juga membantu menerjemahkan pengalaman bermain game.

    Di sisi lain, sejumlah masalah Street Fighter terasa berkaitan dengan keputusan penyutradaraan. Ada banyak ide menarik, tetapi tidak semuanya berhasil disatukan menjadi pengalaman yang konsisten. Beberapa adegan bekerja sangat baik, sementara adegan lainnya terasa mengganggu alur atau momentum emosional.

    Tentu, kedua film memiliki tujuan visual yang berbeda. Namun, dalam hal menyatukan pilihan penyutradaraan, atmosfer, dan bahasa visual menjadi pengalaman yang kohesif, Resident Evil terasa lebih berhasil.

    Pemenang: Resident Evil.

  7. 7. Film Utuh atau Sekadar Fondasi untuk Sekuel?

    9ec0df04-9aee-4ed8-b826-63cbbf21960a.jpg
    Dok. Legendary Pictures (Street Fighter)

    Untuk kategori ini, kemenangan Resident Evil terasa cukup jelas.

    Street Fighter berusaha menyajikan kisah Ryu dan Ken dengan konflik Shadaloo sebagai bagian dari cerita yang lebih besar. Namun, setelah film berakhir, konflik Shadaloo masih terasa seperti sedang dipersiapkan untuk sekuel.

    Perjalanan personal Ryu dan Ken memang memperoleh perkembangan dan penyelesaian yang cukup memuaskan. Namun, konflik utama film belum terasa benar-benar tuntas.

    Bagaimana dengan Resident Evil?

    Cregger memilih untuk berfokus penuh pada perjalanan Bryan hingga akhir yang kelam. Film ini tidak terlalu sibuk mempersiapkan berbagai konflik untuk cerita berikutnya.

    Memang, penonton bisa saja merasa kurang puas dengan babak ketiga dari kedua film ini. Namun, setidaknya setelah kredit Resident Evil bergulir, saya merasa telah menyaksikan sebuah film yang memiliki awal, perkembangan, dan akhir yang jelas.

    Street Fighter terasa lebih seperti bab pertama dari kisah yang lebih besar.

    Pemenang: Resident Evil.

  8. Kesimpulan: Resident Evil Menang 6–1!

    Resident Evil 2026
    Resident Evil 2026 (dok. Sony Pictures Entertainment/Resident Evil)

    Wah, hasilnya cukup brutal juga.

    Dari tujuh kategori yang dibandingkan, Resident Evil menang enam kali, sementara Street Fighter hanya unggul dalam kategori identitas franchise dan kesetiaan terhadap materi sumber.

    Tentu saja, perbandingan ini bukan apple to apple. Keduanya merupakan adaptasi dari genre game yang berbeda, dengan pendekatan aksi, karakter, dan tujuan cerita yang tidak sama.

    Namun, perbandingan ini tetap menarik karena memperlihatkan dua cara berbeda dalam menerjemahkan video game ke layar lebar.

    Street Fighter berhasil menghadirkan karakter-karakter ikonis, jurus yang familier, dan pertarungan yang dapat membuat penggemar bersorak. Film ini memiliki banyak momen yang saya nikmati, meskipun saya juga memahami kritik terhadap humornya, kepadatan karakter, dan cerita yang belum sepenuhnya tuntas.

    Sementara itu, Resident Evil mengambil kebebasan lebih besar terhadap karakter dan cerita sumbernya, tetapi berhasil menerjemahkan sensasi bermain game menjadi pengalaman sinematik yang terasa konsisten.

    Inilah yang menurut saya menjadi pembeda utama kedua film tersebut.

    Street Fighter lebih langsung menghadirkan hal-hal yang kita kenal dari game. Resident Evil berusaha membuat kita merasakan pengalaman yang selama ini kita kenal ketika memainkan game tersebut.

    Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, jika pertanyaannya adalah mana yang lebih berhasil menyatukan aksi, karakter, cerita, humor, dan bahasa visual menjadi sebuah film yang utuh, pilihan saya jatuh kepada Resident Evil.

    Dan mungkin inilah salah satu alasan mengapa film tersebut mendapat sambutan kritikus yang jauh lebih positif.

    Sebab, adaptasi game yang berhasil bukan hanya soal seberapa banyak elemen game yang bisa dimasukkan ke layar lebar, melainkan juga bagaimana elemen-elemen tersebut bekerja bersama untuk menghasilkan pengalaman yang memuaskan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More