- Terlalu banyak karakter. Banyaknya petarung yang hadir membuat sebagian karakter terasa kurang berkontribusi terhadap cerita. Beberapa kritikus juga menilai alurnya tidak koheren.
- Fokus naratif kurang jelas. Film ini dinilai kesulitan menentukan aspek cerita mana yang seharusnya menjadi pusat perhatian.
- Tone yang tidak konsisten. Perpaduan aksi, drama, dan komedi dianggap tidak selalu berjalan mulus.
- Komedi yang terasa dipaksakan. Sejumlah lelucon dinilai mengganggu momen serius dan justru merusak momentum dramatis yang sedang dibangun.
Nilai Rotten Tomatoes Street Fighter (2026) Dibuka dengan 44 Persen

Street Fighter (2026) membuka skor Tomatometer 44% dari 55 ulasan kritikus, setelah sempat berada di angka 28% pada awal kemunculan ulasan.
Kritik utama menyoroti terlalu banyak karakter, fokus naratif yang kurang jelas, tone tidak konsisten, dan komedi yang dianggap dipaksakan.
Tomatometer menunjukkan persentase ulasan positif, berbeda dari nilai rata-rata; Street Fighter tetap dinilai memiliki pertarungan menghibur dan momen karakter yang kuat.
Menjelang perilisan resminya di Amerika Serikat, skor Tomatometer untuk Street Fighter (2026) akhirnya terungkap!
Dari 55 ulasan kritikus yang masuk hingga pagi ini, film adaptasi game legendaris Capcom tersebut memperoleh Tomatometer sebesar 44%.
Bahkan, pada jam-jam awal ulasan mulai bermunculan, angkanya sempat hanya mencapai 28%.
Lantas, apa saja yang menjadi sorotan para kritikus? Bagaimana posisi Street Fighter dibandingkan film adaptasi game lainnya yang rilis tahun ini?
Berikut pembahasannya!
Table of Content
1. Apa Keluhan Para Kritikus?

Ken mengerahkan Shoryuken melawan Dhalsim. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter) Jika melihat sejumlah ulasan kritikus yang masuk, ada beberapa keluhan yang berulang kali muncul.
Menariknya, sejumlah kritik tersebut juga muncul dalam ulasan saya sendiri. Meski Street Fighter memiliki pertarungan yang menghibur dan beberapa momen karakter yang kuat, tidak semua elemen film ini berhasil menyatu dengan baik.
2. Kontras Menarik dengan Resident Evil

Resident Evil 2026 (dok. Sony Pictures Entertainment/Resident Evil) Salah satu hal menarik dari perfilman 2026 adalah kehadiran dua film adaptasi game Capcom, yaitu Street Fighter dan Resident Evil.
Namun, penerimaan kritikus terhadap keduanya memperlihatkan kontras yang cukup tajam.
Pada 18 September lalu, saya sempat membahas bagaimana Resident Evil (2026) meraih Tomatometer sebesar 96% berdasarkan 134 ulasan kritikus di Rotten Tomatoes pada pekan awal perilisannya.
Yang lebih menarik, skor 96% tersebut masih bertahan hingga Oktober, ketika jumlah ulasan yang tercatat telah meningkat menjadi 299.
Sementara itu, Street Fighter justru memulai perjalanannya di Rotten Tomatoes dengan skor 44%.
Perbedaan ini menjadi kontras yang unik untuk dua film yang sama-sama diadaptasi dari properti legendaris Capcom dan dirilis dalam tahun yang sama.
Street Fighter juga berada di bawah Mortal Kombat II, yang berhasil mempertahankan status Fresh dengan 63% ulasan positif dari total 207 ulasan kritikus.
Tentu saja, skor Rotten Tomatoes bukan satu-satunya ukuran kualitas sebuah film. Namun, perbandingan ini memperlihatkan bahwa adaptasi game yang sama-sama mengandalkan aksi, humor, dan penghormatan terhadap materi sumber bisa mendapatkan respons kritikus yang sangat berbeda.
3. Apa Sebenarnya Arti Skor Tomatometer?

Still cut film Street Fighter (2026) (dok. Paramount Pictures/Street Fighter) Saya sudah beberapa kali membahas hal ini, tetapi masih ada salah kaprah yang cukup umum mengenai Tomatometer.
Angka tersebut kerap dianggap sebagai nilai rata-rata kualitas film dalam skala 0–100, seperti nilai ujian. Padahal, Tomatometer menunjukkan persentase ulasan kritikus yang dikategorikan positif atau Fresh, bukan rata-rata skor yang diberikan seluruh kritikus.
Artinya, Tomatometer Street Fighter sebesar 44% tidak berarti rata-rata kritikus memberinya nilai 4,4 dari 10.
Angka itu menunjukkan bahwa dari ulasan yang dihitung, sebanyak 44% dikategorikan positif, sedangkan sisanya dikategorikan negatif.
Meski begitu, ada fakta menarik dari data yang tersedia saat artikel ini ditulis. Nilai rata-rata ulasan Street Fighter yang memberikan penilaian berupa angka atau huruf tercatat berada di sekitar 4,90/10.
Jadi, dalam kasus ini, nilai rata-ratanya memang relatif rendah. Namun, perlu diingat bahwa angka tersebut merupakan metrik yang berbeda dari Tomatometer.
4. Saya Memberi Street Fighter Status Fresh, tetapi Sepakat dengan Sejumlah Kritiknya

Still cut Street Fighter (2026) (dok. Paramount Pictures Indonesia/Street Fighter) Menariknya, meski dalam ulasan saya sendiri bagian kelemahan Street Fighter mencapai sekitar 1.000 kata dan terbagi menjadi empat poin, saya tetap cukup terkesan dengan beberapa aspek film ini.
Karena itu, saya memberikan Street Fighter nilai 3,5/5. Jika dikonversi ke sistem kategori Rotten Tomatoes berdasarkan penilaian positif atau negatif, nilai tersebut masih bisa masuk kategori Fresh.
Namun, bukan berarti saya menolak kritik yang dilontarkan para kritikus lain.
Saya justru sepakat dengan beberapa keluhan yang muncul, terutama mengenai humor yang terasa dipaksakan dan merusak momen dramatis, tone film yang membingungkan, serta cerita yang terasa belum sepenuhnya selesai karena masih membuka jalan menuju sekuel.
Bagi saya, Street Fighter tetap memiliki sejumlah keunggulan. Pertarungannya bisa sangat menghibur, beberapa karakter mendapatkan momen yang kuat, dan film ini berhasil menghadirkan dunia game ke layar lebar dengan cara yang menyenangkan.
Namun, semua itu tidak menghapus persoalan dalam penyajian cerita dan konsistensi tonenya.
Pada akhirnya, Street Fighter menjadi contoh menarik bahwa kita bisa menikmati banyak bagian dari sebuah film sambil tetap mengakui kekurangannya. Saya masih merasa film ini layak mendapat nilai 3,5/5, meskipun sejumlah kritik yang membuat Tomatometernya rendah memang punya dasar yang bisa saya pahami.



















