Kedatangan tak terduga kedua cucunya membuat seorang kakek harus berhadapan dengan situasi berbahaya. Setelah lama menjalani hidup seorang diri, sang kakek yang memiliki pengalaman sebagai mantan anggota pasukan khusus kembali mengerahkan kemampuan tempurnya untuk melindungi keluarga dari sindikat kriminal.
Ketika ancaman sudah berada di depan mata, sang kakek dan cucu-cucunya hanya punya dua pilihan: menyerah atau melakukan serangan balik.
Itulah gambaran cerita Serangan Balik, film terbaru Netflix yang menjadi kolaborasi perdana sutradara Sidharta Tata dengan dua produser ternama, Kimo Stamboel dan Edwin Nazir. Film ini dibintangi oleh Lukman Sardi, Callista Arum, Sulthan Hamonangan, Derby Romero, dan Donny Alamsyah.
Ketika pertama kali membaca premisnya, ada satu hal yang cukup menarik perhatian saya. "Cucu bertemu kakek" terdengar seperti setup klasik sebuah drama keluarga. Namun, melihat materi trailernya, sepertinya reuni keluarga ini tidak akan berlangsung dengan tenang. Apalagi, kita sudah diperlihatkan aksi Eyang Hari yang menghajar para anggota sindikat kriminal dengan cukup brutal.
Lantas, apa pertimbangan Sidharta Tata ketika memadukan elemen drama keluarga dengan aksi berdarah dalam Serangan Balik?
Saya berkesempatan menanyakan hal tersebut langsung kepada sang sutradara. Rupanya, ada satu konsep yang menjadi pegangan Tata dalam menggarap film ini.