Shelter membuka kisahnya di sebuah pulau terpencil di Skotlandia, tempat seorang pria memilih hidup terisolasi dari dunia luar. Kesunyian bukan sekadar latar, melainkan pilihan hidup. Ia menjauh dari manusia, hukum, dan ingatan yang terus menghantuinya. Sejak awal, film ini menegaskan bahwa pengasingan adalah bentuk hukuman yang ia ciptakan sendiri.
Segalanya berubah ketika ia menyelamatkan seorang gadis kecil yang hampir tewas di laut. Aksi belas kasih ini terasa sederhana, bahkan manusiawi. Namun Shelter dengan cepat menunjukkan bahwa kebaikan kecil bisa memicu bencana besar, terutama bagi seseorang yang memiliki masa lalu kelam.
Peristiwa penyelamatan tersebut membuka kembali pintu yang selama ini ia kunci rapat. Musuh tak dikenal muncul, kekerasan mendekat, dan pulau yang semula sunyi berubah menjadi arena konflik. Shelter menegaskan satu hal pahit: sejauh apa pun seseorang lari, masa lalu selalu tahu jalan pulang.
Cerita ini berdiri kokoh pada gagasan sebab-akibat. Tidak ada kekerasan yang datang tanpa alasan, dan tidak ada ketenangan yang benar-benar gratis. Shelter terasa seperti pengakuan dosa yang ditunda terlalu lama.
