Dua puluh delapan tahun adalah waktu yang cukup untuk dunia hancur, membusuk, lalu membangun bentuk baru yang sama sekali tidak sehat. Film ini tidak tertarik menunjukkan kiamat sebagai kejadian besar. Ia justru memotret kehidupan setelah kehancuran menjadi rutinitas. Reruntuhan bukan lagi sesuatu yang mengejutkan, melainkan rumah. Kekerasan bukan insiden, tapi kebiasaan.
Lingkungan yang ditampilkan terasa tua dan lelah. Alam sudah mulai merebut kembali kota, tapi bukan dengan indah. Semua terasa salah tempat, seolah dunia ini sudah berjalan terlalu jauh tanpa manusia. Tidak ada nostalgia berlebihan tentang masa lalu. Film ini seakan berkata bahwa masa lalu sudah mati, dan tak ada gunanya diratapi.
Yang membuatnya menekan bukan skala kehancurannya, melainkan kesan bahwa dunia ini tidak akan pernah pulih. Tidak ada harapan besar, tidak ada tujuan mulia. Yang ada hanya upaya bertahan satu hari lagi, lalu mengulanginya besok, dengan luka baru.
