6 Karakter Street Fighter 2026 yang Penyajiannya Paling Aneh! Cammy?

Sejumlah karakter Street Fighter (2026) dinilai memiliki penyajian yang kurang maksimal meski diperankan aktor dengan potensi kuat.
Guile, Joe, dan Juli dianggap kehilangan fungsi atau identitas khasnya ketika diadaptasi ke layar lebar.
M. Bison dan Cammy White dinilai tampil terlalu berbeda dari karakter yang dikenal melalui game.
Sebelumnya, saya sudah membuat artikel yang menyorot delapan karakter dengan penyajian terbaik di film Street Fighter (2026).
Namun, di tengah sejumlah karakter yang berhasil dihidupkan dengan menarik, ada pula beberapa tokoh yang penyajiannya justru membuat saya mengernyitkan dahi.
Ada yang sebenarnya diperankan oleh aktor yang sangat cocok, tetapi tidak mendapat cukup banyak kesempatan untuk bersinar. Ada pula yang terasa seperti kehilangan identitasnya sendiri ketika diadaptasi ke layar lebar.
Siapa saja karakter Street Fighter (2026) dengan penyajian paling aneh menurut saya? Berikut daftarnya!
Table of Content
6. Zangief

Dok. Legendary Pictures/Capcom (Zangief/Street Fighter V/Street Fighter 2026) Tidak ada yang salah dengan pemilihan aktor Zangief. Olivier Richters, yang memiliki postur tubuh raksasa, jelas cocok untuk memerankan pegulat legendaris ini.
Bantingan-bantingan yang ia lakukan dalam adegan di kelab malam juga menegaskan satu hal kepada saya: Richters punya potensi untuk menjadi Zangief yang ideal.
Sayangnya, potensi tersebut tidak benar-benar dimanfaatkan oleh film.
Setelah kemunculannya dalam adegan tersebut, Zangief tidak mendapatkan peran yang menonjol. Ia terasa seperti karakter yang sekadar diperkenalkan, menunjukkan sedikit kemampuan bertarungnya, lalu menghilang dari cerita.
Bahkan, perannya terasa kurang berarti dibandingkan E. Honda, yang meskipun hanya muncul sebentar, setidaknya memiliki fungsi dan alur yang jelas dalam kemunculannya.
Ini cukup mengecewakan. Zangief merupakan salah satu karakter yang paling berkesan dalam film Street Fighter (1994), terutama berkat komedi yang muncul dari kesetiaannya kepada M. Bison dan kepolosannya dalam memahami situasi.
Olivier Richters sebenarnya berpotensi menghadirkan pesona serupa, tetapi dengan pendekatan yang sesuai untuk film 2026.
Sayangnya, film ini tidak memberinya cukup ruang untuk melakukannya.
5. Guile

Guile minum di klub malam. (Dok. Paramount Pictures/Street Fighter) Cody Rhodes memiliki wibawa dan kepribadian yang cukup menarik untuk memerankan Guile. Ia bisa menghadirkan sosok petarung yang tangguh, sekaligus melontarkan komentar-komentar lucu yang membuat karakternya terasa menyenangkan.
Namun, saya justru bingung dengan fungsi Guile dalam cerita ini.
Seolah-olah ingin mengoreksi pendekatan film Street Fighter (1994), yang menjadikan Guile sebagai tokoh utama, film 2026 malah menempatkannya sebagai karakter pendukung yang sebagian besar berfungsi sebagai comic relief.
Yang lebih mengejutkan, Guile bahkan tereliminasi dari turnamen pada ronde pertama setelah dikalahkan Vega dalam adegan yang berlangsung off-screen.
Ya, salah satu petarung paling ikonik dalam seri ini, yang di promo disorot dengan merchandise seperti popcorn bucket berbentuk rambutnya, bahkan tidak mendapat kesempatan untuk diperlihatkan kekalahannya secara langsung kepada penonton.
Memang, film ini tampaknya masih menyiapkan peran penting bagi Guile dalam perburuan Bison. Namun, cara karakternya disajikan sejauh ini terasa membingungkan.
Cody Rhodes sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi Guile yang menarik. Saya hanya berharap film ini tidak sekadar menggunakan namanya sebagai bahan lelucon sebelum memberinya peran yang lebih berarti.
4. Joe

Akuma menghajar Joe. (Dok. Paramount Pictures/Street Fighter) Saya mulai curiga bahwa pemilihan Joe dalam film ini memang sejak awal dimaksudkan sebagai sebuah lelucon.
Joe merupakan salah satu karakter dari Street Fighter pertama yang tidak memiliki tingkat popularitas seperti Ryu, Ken, atau bahkan sosok seperti Birdie dan Sagat. Dalam film ini, ia justru mendapat fungsi yang sangat spesifik: menjadi petarung yang berhasil memenangkan turnamen ketika peserta lainnya sibuk dengan urusan masing-masing, sebelum akhirnya berhadapan dengan Akuma.
Hasilnya? Joe menjadi juara turnamen yang terasa lebih beruntung daripada benar-benar dominan, lalu dihajar Akuma.
Yang membuat saya semakin heran adalah pilihan aktornya: Alexander Volkanovski, petarung MMA profesional yang punya kemampuan bertarung sungguhan.
Kita memiliki seorang atlet dengan kemampuan bela diri tingkat tinggi, tetapi film justru menggunakan karakternya untuk menghadirkan lelucon tentang seorang juara yang tidak punya kesempatan menghadapi petarung yang selevel dengannya.
Tentu saja, itu bisa menjadi lelucon yang disengaja. Namun, saya tetap merasa ada potensi yang terbuang di sini.
Bahkan, saya sempat berpikir bahwa Heath Wallace Miller, yang sebelumnya dikenal sebagai Heath Slater di WWE, mungkin bisa menjadi pilihan menarik untuk peran Joe. Ia punya pengalaman dalam dunia gulat profesional dan bisa saja cocok untuk memainkan karakter yang fungsi utamanya adalah menjadi bagian dari komedi film lalu kalah.
Dengan begitu, kemampuan bela diri Volkanovski mungkin bisa dimanfaatkan untuk karakter yang mendapat kesempatan bertarung lebih serius.
3. Juli

Juli (Dok. Paramount Pictures, Capcom/Street Fighter) Kalau tim produksi Street Fighter ingin menghadirkan anak buah Bison yang ahli menggunakan senjata berbentuk tongkat, sebenarnya mereka punya pilihan lain: Falke.
Juli sendiri diperankan oleh Rayna Vallandingham, seorang atlet bela diri dengan kemampuan fisik yang mengesankan. Dari sisi pemeran, pilihan ini menjanjikan.
Namun, masalahnya justru terletak pada bagaimana karakter Juli ditampilkan.
Dalam game, Juli memiliki hubungan erat dengan Juni. Keduanya merupakan bagian dari Dolls, pasukan perempuan yang berada di bawah kendali Shadaloo. Identitas Juli tidak hanya terletak pada kemampuan bertarungnya, tetapi juga pada latar belakangnya sebagai salah satu anak buah Bison.
Sayangnya, ciri khas tersebut tidak terlalu terasa dalam film ini.
Setiap kali melihat Juli beraksi dengan tongkatnya, saya justru lebih sering berpikir, "Bukankah karakter seperti ini seharusnya Falke?"
Falke juga merupakan petarung yang memang menggunakan tongkat. Dengan penyesuaian tertentu, karakter tersebut mungkin lebih mudah dimanfaatkan untuk peran seperti ini.
Tentu saja, Juli tidak harus diadaptasi secara persis seperti dalam game. Namun, perubahan karakter tetap perlu mempertahankan sesuatu yang membuatnya terasa khas.
Dalam kasus Juli, saya merasa film ini lebih banyak memanfaatkan penampilan dan kemampuan bela diri Rayna Vallandingham daripada menggali identitas karakter yang ia perankan.
2. M. Bison

M. Bison. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter) Sejak awal, saya menduga M. Bison versi David Dastmalchian akan mengambil pendekatan yang kurang lebih serupa dengan versi Raúl Juliá dalam film Street Fighter (1994).
Secara fisik, Dastmalchian memang tidak terlihat semengancam Bison dalam game. Namun, saya berharap ia bisa menghadirkan sosok diktator yang bombastis, penuh percaya diri, dan memiliki karisma tersendiri, sesuai dengan pendekatan film yang juga banyak bermain dengan humor.
Sayangnya, hasil akhirnya terasa berbeda dari yang saya harapkan.
Bison versi ini lebih terasa seperti sosok eksentrik yang aneh, bahkan sampai menampilkan perilaku yang mengesankan adanya obsesi terhadap kaki. Alih-alih menghadirkan diktator yang karismatik sekaligus menggelikan, karakter ini justru terasa seperti orang aneh yang kebetulan memiliki kekuatan besar.
Perbedaan tersebut penting karena Bison bukan sekadar penjahat yang kuat. Ia adalah sosok yang percaya bahwa kekuasaan dan ambisinya berada di atas segala hal, termasuk kehidupan orang lain.
Versi Raúl Juliá berhasil memadukan kegilaan, kesombongan, dan wibawa dengan cara yang membuat Bison terasa mengancam sekaligus menghibur.
Sementara itu, Bison versi Dastmalchian belum berhasil memberikan kesan serupa.
Akibatnya, ketika ia menyampaikan versi kutipan ikonik "But for me, it was Tuesday" kepada Chun-Li, momen tersebut justru terasa datar. Adegan yang seharusnya menegaskan betapa tidak berartinya tragedi Chun-Li bagi Bison tidak memiliki dampak emosional yang saya harapkan.
Saya tidak mempermasalahkan Dastmalchian sebagai aktor. Masalahnya adalah pendekatan terhadap karakternya.
Bison boleh saja dibuat aneh. Namun, ia tetap harus terasa seperti M. Bison.
1. Cammy White

Cammy White. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter) Dari semua karakter dalam daftar ini, Cammy White mungkin yang paling membuat saya bingung.
Saya bukan satu-satunya yang merasa demikian. Di media sosial seperti X, sejumlah penggemar juga mempertanyakan mengapa karakter Cammy dalam film ini terasa begitu berbeda dari sosok yang mereka kenal melalui game.
Dari segi kostum, Cammy tampak mengambil inspirasi dari penampilannya pada era Street Fighter Alpha. Pilihan ini sebenarnya masuk akal, mengingat pada fase tersebut Cammy masih menjadi bagian dari pasukan Bison.
Namun, ketika berbicara tentang kepribadian, saya merasa film ini mengambil arah yang sangat berbeda.
Cammy dalam film 2026 menunjukkan perilaku eksentrik dan kegilaan yang membuatnya lebih mengingatkan saya kepada Juri Han, atau bahkan Harley Quinn dari DC.
Padahal, Cammy dan Juri memiliki identitas yang cukup berbeda.
Juri dikenal karena sifatnya yang sadistis, provokatif, dan menikmati kekacauan. Cammy, di sisi lain, memiliki perjalanan karakter yang berkaitan erat dengan identitasnya sebagai mantan senjata Shadaloo, serta perjuangannya untuk memahami dirinya sendiri dan menentukan jalan hidupnya.
Cammy memang bisa bersikap dingin, keras, dan berbahaya. Namun, ada perbedaan antara menggambarkan seorang petarung yang sedang berjuang menemukan identitasnya dan menjadikannya sosok eksentrik yang seolah-olah menikmati kegilaannya.
Yang membuat penyajian ini semakin aneh adalah Cammy bahkan tidak mendapat satu pun adegan pertarungan yang benar-benar memperlihatkan kemampuan bertarungnya.
Ini terasa ironis. Cammy merupakan salah satu petarung perempuan paling ikonik dalam seri Street Fighter, dengan teknik bertarung dan gerakan khas yang mudah dikenali penggemar.
Namun, film ini justru lebih tertarik memperlihatkan sisi kepribadiannya yang eksentrik daripada memberinya kesempatan untuk bertarung.
Akibatnya, saya sulit melihat karakter yang selama ini saya kenal melalui game. Saya justru melihat sosok yang terasa seperti hasil gabungan beberapa karakter lain, tetapi tanpa identitas yang cukup kuat untuk berdiri sendiri.
Mungkin sekuelnya nanti akan memberikan penjelasan tambahan tentang perilaku Cammy, termasuk kemungkinan bahwa ada sesuatu seperti cuci otak di balik kepribadiannya dalam film ini.
Namun, untuk sekarang, saya merasa perubahan tersebut belum memberikan hasil yang memuaskan.





![[QUIZ] Dari Superhero Marvel, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega](https://image.idntimes.com/post/20260729/picture5_f808b9a8-3cc7-4f6c-903e-a1d704344050.png)













