Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Install

5 Hal Menarik dari Box Office Street Fighter (2026), di Bawah Target?

5 min read
5 Hal Menarik dari Box Office Street Fighter (2026), di Bawah Target?
Ken menyerang Dhalsim dengan jurus Shoryuken (dok. Paramount Pictures/Street Fighter)
  • Street Fighter (2026) meraih US$51,1 juta secara global pada akhir pekan pembukaan, termasuk US$31 juta dari pasar domestik Amerika Serikat.

  • Film ini mencatat opening domestik tertinggi dalam sejarah franchise live-action dan menduduki posisi pertama box office Amerika Serikat.

  • Pendapatan globalnya masih di bawah proyeksi US$70 juta serta tertinggal dari Resident Evil dan Mortal Kombat II.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Angka box office akhir pekan pembukaan Street Fighter (2026) akhirnya terungkap.

Film adaptasi game fighting legendaris ini berhasil menduduki posisi pertama box office domestik Amerika Serikat. Namun, ada beberapa hal menarik dari pencapaiannya, terutama karena pendapatan globalnya ternyata masih di bawah proyeksi awal.

Seberapa besar pendapatan Street Fighter sejauh ini? Bagaimana perbandingannya dengan film-film sebelumnya dan adaptasi game lain?

Mari kita bedah lima hal menarik dari box office Street Fighter (2026)!

  1. 1. Pendapatan globalnya mencapai US$51,1 juta

    Ken dalam film Street Fighter
    Noah Centineo sebagai Ken (dok. Paramount Pictures/Street Fighter)

    Dilansir Box Office Mojo, Street Fighter (2026) meraup pendapatan sebesar US$51,1 juta di seluruh dunia pada akhir pekan pembukaannya.

    Berikut perinciannya:

    • Domestik Amerika Serikat: US$31.000.000
    • Internasional: US$20.100.000
    • Total global: US$51.100.000

    Kalau kamu penasaran dengan kontribusi Indonesia, Box Office Mojo mencatat bahwa pasar Indonesia menyumbang sekitar US$384.000 dari total pendapatan internasional tersebut.

    Angka ini menjadi gambaran awal mengenai performa film yang mengadaptasi franchise fighting populer milik Capcom tersebut di bioskop seluruh dunia.

  2. 2. Opening domestik tertinggi dalam sejarah franchise Street Fighter

    Andrew Koji dalam film Street Fighter
    Andrew Koji dalam film Street Fighter (dok. Paramount Pictures/Street Fighter)

    Meski belum mencapai target globalnya, Street Fighter (2026) mencatatkan rekor tersendiri di franchise ini.

    Sebagai perbandingan, Street Fighter (1994) meraup US$9.508.030 pada akhir pekan pembukaannya di pasar domestik Amerika Serikat. Film tersebut padahal harus bersaing dengan Dumb and Dumber, film komedi yang kemudian menjadi salah satu film klasik pada masanya.

    Sementara itu, saya tidak menemukan data yang cukup untuk memastikan angka akhir pekan pembukaan Street Fighter: The Legend of Chun-Li (2009). Namun, pendapatan domestik total film tersebut hanya mencapai US$8.742.261.

    Yep, saya serius. Angka total domestik The Legend of Chun-Li separah itu.

    Dengan pendapatan domestik sebesar US$31 juta pada akhir pekan pembukaannya, Street Fighter (2026) berhasil mencatatkan opening tertinggi dalam sejarah film live-action franchise ini.

    Namun, rekor tersebut perlu dilihat dalam konteks yang tepat. Opening terbesar dalam franchise belum otomatis berarti filmnya sukses secara komersial, terutama ketika dibandingkan dengan biaya produksi dan proyeksi pendapatannya.

  3. 3. Berhasil menduduki posisi pertama box office Amerika Serikat

    M. Bison dalam materi promosi film Street Fighter produksi Legendary Pictures dan Paramount Pictures.
    M. Bison. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter)

    Berikut daftar lima film dengan pendapatan domestik tertinggi pada akhir pekan lalu:

    • Street Fighter — US$31,0 juta
    • You Can See Everything — US$15,0 juta
    • Other Mommy — US$8,4 juta
    • Whalefall — US$8,0 juta
    • Sense and Sensibility — US$7,3 juta

    Dengan pendapatan US$31 juta, Street Fighter berhasil mendominasi box office domestik Amerika Serikat pada pekan pembukaannya, unggul dari film-film lain dalam daftar tersebut.

    Namun, ada satu hal menarik yang patut diperhatikan ketika kita membandingkan performa film-film ini.

    You Can See Everything meraup US$15 juta meski hanya ditayangkan di 855 bioskop. Sebaliknya, Street Fighter memperoleh US$31 juta dari 3.575 lokasi penayangan.

    Artinya, You Can See Everything berhasil menarik perhatian penonton dengan jumlah bioskop yang jauh lebih sedikit. Film tersebut mengangkat kisah Elizabeth Holmes, pendiri Theranos, dalam periode menjelang dirinya menjalani hukuman penjara.

    Tentu saja, kedua film memiliki pendekatan pasar dan jangkauan penonton yang berbeda. Meski begitu, perbandingan ini menarik untuk menunjukkan bahwa posisi pertama box office tidak selalu menceritakan seluruh kisah di balik performa sebuah film.

  4. 4. Pendapatannya masih di bawah proyeksi awal

    Still cut film Street Fighter (2026) (dok. Paramount Pictures/Street Fighter)
    Still cut film Street Fighter (2026) (dok. Paramount Pictures/Street Fighter)

    Inilah bagian yang membuat pencapaian Street Fighter menjadi menarik untuk dibahas.

    Dilansir The Hollywood Reporter, film ini sempat diproyeksikan meraup pendapatan domestik di kisaran pertengahan US$30 juta hingga US$43 juta. Pasar internasional juga diharapkan menyumbang pendapatan dalam kisaran yang serupa, sehingga total global akhir pekan pembukaannya diperkirakan dapat mencapai sekitar US$70 juta.

    Kenyataannya, Street Fighter hanya mengumpulkan US$51,1 juta secara global.

    Dengan demikian, pendapatan pembukaannya berada sekitar US$18,9 juta di bawah proyeksi US$70 juta, atau kurang lebih 27 persen lebih rendah.

    Jadi, meskipun berhasil menduduki posisi pertama box office domestik Amerika Serikat, pencapaian global Street Fighter masih belum memenuhi ekspektasi awal.

    Ini menjadi pengingat bahwa posisi pertama box office dan keberhasilan memenuhi target pendapatan adalah dua hal yang berbeda.

  5. 5. Opening-nya masih di bawah Resident Evil dan Mortal Kombat II

    Zangief siap membanting Ken. (Dok. Paramount/Street Fighter, dok. Warner Bros./Mortal Kombat II)
    Zangief siap membanting Ken. (Dok. Paramount/Street Fighter, dok. Warner Bros./Mortal Kombat II)

    Hal menarik lainnya adalah performa Street Fighter jika dibandingkan dengan dua film adaptasi game lain yang juga dirilis pada 2026.

    Berikut perbandingan pendapatan global akhir pekan pembukaan ketiganya:

    • Resident Evil (2026) — US$108,3 juta
    • Mortal Kombat II (2026) — US$63 juta
    • Street Fighter (2026) — US$51,1 juta

    Resident Evil (2026) tampil paling kuat dengan pendapatan pembukaan US$108,3 juta, lebih dari dua kali lipat pencapaian Street Fighter.

    Sementara itu, Mortal Kombat II juga mencatatkan angka pembukaan lebih tinggi, yakni US$63 juta.

    Dengan kata lain, Street Fighter bukan hanya gagal mencapai proyeksi global sekitar US$70 juta, tetapi juga memulai perjalanan box office dengan angka yang lebih rendah dibandingkan dua adaptasi game tersebut.

    Tentu, pendapatan akhir Street Fighter dan Resident Evil masih dapat berkembang seiring berjalannya waktu.

    Namun, perbedaan angka ini tetap menarik untuk diamati, terutama karena ketiganya mengadaptasi franchise game yang sudah dikenal luas oleh penggemar.

  6. Jadi, bagaimana performa box office Street Fighter (2026)?

    Ken lawan Ryu. (Dok. Paramount/Street Fighter, dok. Warner Bros./Mortal Kombat II)
    Ken lawan Ryu. (Dok. Paramount/Street Fighter, dok. Warner Bros./Mortal Kombat II)

    Ada dua sisi yang bisa kita lihat dari pencapaian Street Fighter.

    Di satu sisi, film ini berhasil mencatatkan opening domestik tertinggi dalam sejarah franchise live-action-nya dan menduduki posisi pertama box office Amerika Serikat pada akhir pekan pembukaan.

    Di sisi lain, pendapatan global US$51,1 juta masih berada di bawah proyeksi awal sekitar US$70 juta. Angka tersebut juga tertinggal dari opening Resident Evil dan Mortal Kombat II pada tahun yang sama.

    Perlu diingat pula bahwa pendapatan box office bukanlah uang yang seluruhnya masuk ke kantong studio. Biaya produksi, pemasaran, pembagian pendapatan dengan bioskop, dan faktor lainnya turut menentukan apakah sebuah film akhirnya menguntungkan.

    Jadi, apakah Street Fighter (2026) masih bisa mengejar ekspektasi?

    Kita perlu melihat bagaimana performanya pada pekan-pekan berikutnya. Yang jelas, awal perjalanannya di bioskop menghadirkan sebuah kontras menarik: juara box office pada pekan pembukaan, tetapi belum berhasil memenuhi target yang diharapkan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More