Film horor Indonesia beberapa tahun terakhir semakin gemar bermain di wilayah abu-abu antara takut dan tawa. Sebelum Dijemput Nenek hadir di jalur itu, bukan sebagai horor yang ingin membuat penonton trauma, melainkan sebagai pengalaman kolektif: menjerit, lalu tertawa bersama. Sejak awal, film ini sudah memberi sinyal bahwa kematian bukan sekadar urusan mistis, tetapi juga urusan keluarga, konflik lama, dan ketidaksiapan manusia menghadapi kehilangan.
Alih-alih membangun atmosfer sunyi yang pelan dan mengendap, film ini memilih tempo yang lebih ramai. Dialognya cepat, karakternya cerewet, dan horornya sering datang bersamaan dengan punchline. Pendekatan ini membuat film terasa dekat dengan penonton urban, terutama generasi muda yang tumbuh dengan meme, komika, dan horor pop.
Namun, di balik bungkus komedinya, film ini menyimpan kegelisahan yang cukup manusiawi: bagaimana jika orang yang kita cintai belum benar-benar “pergi”? Dan bagaimana jika urusan yang belum selesai justru menjadi alasan arwah itu kembali? Dari sinilah Sebelum Dijemput Nenek mulai memainkan temanya dengan cara yang ringan, tapi tidak sepenuhnya kosong.
