Tragedi berdarah di pesta perkawinan (Dok. MD Pictures/Janur Ireng)
Efek santet ini jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.
Jika dibandingkan dengan Sewu Dino, jangkauan santet Janur Ireng jauh lebih luas dan bersifat masif. Sewu Dino lebih menyerupai penyiksaan yang bekerja perlahan, menggerogoti korban sedikit demi sedikit. Sementara itu, Janur Ireng adalah perwujudan pembantaian dalam sekali lepasan.
Yang membuatnya semakin mengerikan, bukan hanya target utama yang terdampak.
Setiap orang yang memiliki keterkaitan dengan korban, baik melalui darah, ikatan batin, maupun hubungan gaib tertentu, berpotensi ikut terseret. Tubuh mereka perlahan menghitam, kesadaran mulai tergerus, dan kendali atas diri sendiri menghilang.
Rasa sakit yang muncul bukan lagi sekadar fisik. Korban akan merasakan penderitaan luar biasa hingga akhirnya terdorong untuk melukai diri mereka sendiri dengan berbagai cara, seolah ada sesuatu yang mengambil alih kemauan mereka sepenuhnya. Bahkan Arjo Kuncoro saja diketahui mati setelah tangannya menggorok lehernya sendiri secara paksa akibat efek santet ini.