Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
5 Fakta Crocodile Tears, Drama Keluarga Mencekam
Crocodile Tears (Dok. thePUBLICIST)
  • Film Crocodile Tears menjadi debut film panjang Tumpal Tampubolon, menghadirkan drama keluarga penuh emosi dan teror psikologis yang intens.
  • Karya ini telah diakui di 33 festival film dunia sebelum tayang resmi di bioskop Indonesia pada 7 Mei 2026.
  • Proses produksinya berlangsung delapan tahun dengan lokasi syuting unik di taman buaya, menciptakan suasana nyata dan mencekam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Film Indonesia kembali menghadirkan karya yang menarik perhatian lewat Crocodile Tears. Disutradarai oleh Tumpal Tampubolon, film ini menawarkan drama keluarga yang nggak biasa karena penuh ketegangan, emosi yang terasa dekat, sekaligus dibalut teror psikologis yang bikin nggak nyaman.

Nah, apa saja yang bikin Crocodile Tears menarik untuk ditunggu? Berikut 6 faktanya.

1. Debut Film Panjang Tumpal Tampubolon

Crocodile Tears (Dok. thePUBLICIST)

Setelah lama dikenal lewat film pendek, Tumpal Tampubolon akhirnya melangkah ke film panjang lewat Crocodile Tears. Lewat debut ini, Tumpal tetap membawa ciri khasnya dalam merangkai emosi cerita secara perlahan tapi terasa intens. 

Konflik yang dihadirkan pun terasa dekat dengan kehidupan, namun tetap menyimpan kejutan yang bikin penonton penasaran.

2. Tayang di Bioskop Mulai 7 Mei 2026

Crocodile Tears (Dok. thePUBLICIST)

Mulai 7 Mei 2026, Crocodile Tears resmi tayang di bioskop dan siap menemani penonton dengan kisahnya yang mencekam. 

3. Diakui di 33 Festival Film Dunia

Crocodile Tears (Dok. thePUBLICIST)

Crocodile Tears sudah lebih dulu mencuri perhatian penonton internasional sebelum tayang di Indonesia. Perjalanannya dimulai dari pemutaran perdana di Toronto International Film Festival 2024, salah satu festival film paling bergengsi di dunia.

Setelah itu, film ini terus melangkah ke berbagai festival besar seperti Busan International Film Festival, BFI London Film Festival, hingga Tallinn Black Nights Film Festival dan Göteborg Film Festival.

Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ke festival lain seperti Adelaide Film Festival, Torino Film Festival, dan Red Sea International Film Festival.

4. Proses Produksi Hingga 8 Tahun

Crocodile Tears (Dok. thePUBLICIST)

Proses pengembangannya memakan waktu hingga delapan tahun, dimulai dari tahap ide, penulisan, hingga akhirnya siap diproduksi. Selama itu, naskahnya bahkan mengalami sekitar 17 kali revisi untuk menemukan bentuk cerita yang paling kuat dan matang.

5. Syuting Unik di Taman Buaya & Cerita Penuh Teror Psikologis

Crocodile Tears (Dok. thePUBLICIST)

Salah satu hal paling menarik dari Crocodile Tears ada di lokasi syutingnya yang nggak biasa. Tim produksi bahkan membangun rumah langsung di dalam taman buaya yang dihuni ratusan buaya hidup, jadi suasana yang terasa di filmnya benar-benar nyata dan mencekam.

Lalu, ceritanya juga menggabungkan realisme magis dan teror psikologis dan konflik keluarga yang dihadirkan terasa dekat. Tapi perlahan berubah jadi penuh tekanan dan bikin nggak nyaman.

Inilah 5 fakta menarik Crocodile Tears yang bikin film ini layak masuk daftar tontonan kamu di bioskop!

Untuk informasi yang lebih lengkap soal anime-manga, film, game, dan gadget, yuk gabung komunitas Warga Duniaku lewat link berikut:

Discord: https://bit.ly/WargaDuniaku

Tele: https://t.me/WargaDuniaku

FAQ Seputar Fakta Crocodile Tears

Genre film Crocodile Tears apa?

Film ini mengusung perpaduan drama keluarga, thriller, dan horor psikologis dengan sentuhan realisme magis.

Siapa saja pemeran utama Crocodile Tears?

Film ini dibintangi oleh Marissa Anita, Yusuf Mahardika, dan Zulfa Maharani sebagai karakter utama.

Siapa rumah produksi di balik Crocodile Tears?

Film ini diproduksi oleh Talamedia bersama beberapa rumah produksi internasional seperti Acrobates Films, Giraffe Pictures, Poetik Films, dan 2Pilots Filmproduction.

Apakah Crocodile Tears diangkat dari kisah nyata?

Tidak, film ini bukan diadaptasi dari kisah nyata, melainkan cerita fiksi yang dibangun dari eksplorasi hubungan keluarga dan sisi psikologis karakter.

Editorial Team