Charlotte Katakuri (dok. Toei Animation/One Piece)
Bab 902 memberi kita gambaran paling jujur tentang siapa sebenarnya Charlotte Katakuri.
Setelah kalah dari Monkey D. Luffy, Katakuri tergeletak. Akhirnya berbaring setelah biasanya ia tidak mau terlihat berbaring di publik. Di momen itulah Charlotte Brulee menghampirinya dan mengucapkan kalimat yang membuka semuanya: “Kamu memasang peran sebagai pria tak terkalahkan demi kami, bukan?”
Brulee mengakui bahwa ia sudah lama tahu kebohongan Katakuri, bahwa sang kakak sebenarnya bisa berbaring, bisa jatuh, bisa rapuh. Dan itu bukan kebohongan demi ego, melainkan demi keluarga.
Dulu, Katakuri kecil hidup tanpa peduli citra. Ia tidak menutupi mulutnya yang menyerupai belut pelikan, tertawa bebas, berkelahi seenaknya, dan menjalani hidup apa adanya. Namun semua itu berubah ketika Brulee terluka akibat balas dendam seseorang yang pernah dikalahkan Katakuri.
Sejak saat itu, Katakuri membuat keputusan besar.
Ia berhenti menjadi lembut. Ia berhenti menjadi naif. Ia memaksakan diri menjadi sosok sempurna (tak terkalahkan, tak pernah jatuh, tak pernah berbaring) agar tidak ada lagi saudara-saudarinya yang menderita karena kelemahannya.
Lalu, apakah Katakuri loyal pada Big Mom?
Iya.
Tapi loyalitas itu bukan karena takut atau tunduk manut karena Big Mom adalah ibunya.
Katakuri memiliki hasrat mandiri: melindungi saudara dan saudarinya dengan caranya sendiri, bahkan jika itu berarti mengorbankan jati dirinya.
Di sinilah perbedaannya dengan banyak anak Big Mom lainnya.
Sebagian besar saudara Katakuri sekadar mengikuti kehendak ibu mereka, menjadi pion, administrator, atau petarung yang menjalankan perintah.
Katakuri, sebaliknya, memilih perannya sendiri. Ia menjadikan dirinya “raja bayangan” keluarga Charlotte, bukan karena diperintah, tapi karena ia menginginkannya.
Dan di titik itulah, Haoshoku Haki menemukan tempatnya.