Donquixote Doflamingo (dok. Toei Animation/ One Piece)
Donquixote Doflamingo sering dianggap fans One Piece sebagai benchmark New World.
Logikanya sederhana: kalau seorang kapten atau kelompok tidak bisa menghadapi Doflamingo, maka mereka hampir pasti tidak akan selamat melangkah lebih jauh di wilayah Yonko.
Dan itu masuk akal.
Doflamingo punya tiga jenis Haki, Busoshoku yang solid, Kenbunshoku yang fungsional, serta Haoshoku Haki. Tapi masalahnya, tidak ada satu pun dari Haki itu yang berada di level tertinggi. Semuanya kuat, berbahaya, dan teknis, namun masih bisa diatasi oleh petarung yang benar-benar melampaui batas manusia biasa.
Ia memang sudah mencapai Awakening Ito Ito no Mi, dan pada masanya itu terasa luar biasa. Namun jika dilihat dari perspektif Final Saga, Awakening Doflamingo, meski tetap destruktif, sudah terasa sebagai level “oke tapi gak istimewa”, bukan puncak kekuatan dunia.
Nah, di sinilah Loki masuk.
Kalau Doflamingo adalah ambang batas New World, maka Loki adalah entitas yang berdiri jauh di atas ambang itu. Bukan hanya lebih kuat, tapi berada di kelas ancaman yang sama sekali berbeda.
Bayangkan skenario Dressrosa: Machvise saja sempat merepotkan Hajrudin, dan di sana Doflamingo bisa mengontrol medan lewat manipulasi dan strategi.
Sekarang ganti Hajrudin dengan Loki.
Satu ayunan Ragnir yang dilapisi Haoshoku Haki, disertai petir sebagai efek lanjutan, kemungkinan besar sudah cukup untuk membuat Doflamingo kelabakan. Awakening benang atau tidak, tubuh Doflamingo tetap manusia, dan itu adalah kelemahan fatal melawan kekuatan mentah Loki.
Singkatnya, kalau Doflamingo adalah ujian kelulusan New World, maka Loki adalah bencana alam yang bahkan tidak masuk kurikulum ujian itu.