Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Jiren (dok. Toei Animation/Jiren)
Jiren (dok. Toei Animation/Jiren)

Intinya sih...

  • Son Goku mencapai True Ultra Instinct, mengintegrasikan emosi Saiyan, dan melebihi level Jiren.

  • Frieza kembali dengan Black Frieza yang melampaui True Ultra Instinct Goku dan Ultra Ego Vegeta.

  • Son Gohan mencapai wujud Beast yang membuatnya kandidat nyata untuk level tertinggi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika Jiren tampil di Tournament of Power dalam Dragon Ball Super, auranya benar-benar seperti tembok terakhir.

Ia bukan sekadar kuat. Ia terasa sudah melampaui kebanyakan petarung fana, lebih mendekati Dewa Kehancuran.

Bahkan ketika Goku mencapai Perfected Ultra Instinct, wujud berambut putih yang bergerak tanpa berpikir, pertarungan itu terasa seperti momen klimaks tertinggi Dragon Ball. Saat itu, rasanya sulit membayangkan ada yang bisa melampaui level tersebut.

Tapi… ini Dragon Ball.

Seri ini hidup dari eskalasi. Musuh baru hampir selalu lebih kuat dari musuh sebelumnya. Dan kalau ancamannya naik, para hero pun harus ikut naik level. Power creep di Dragon Ball sudah jadi bagian dari DNA ceritanya.

Beberapa arc setelah Tournament of Power, peta kekuatan mulai berubah drastis. Muncul transformasi baru. Muncul petarung dengan titel “terkuat di semesta.” Muncul kekuatan yang bahkan membuat Ultra Instinct terasa seperti tahap peralihan.

Jadi sekarang pertanyaannya: Siapa saja karakter Dragon Ball yang kini terasa lebih kuat dari Jiren?

Dengan kriteria:

  • Terasa lebih kuat dari Perfected Ultra Instinct, wujud yang sempat membuat Jiren kewalahan, atau sudah menunjukkan bukti konkret melampauinya.

  • Bukan dewa (jadi tidak termasuk Beerus, Whis, dan para Angel).

Ini daftarnya!

1. Son Goku

True Ultra Instinct Goku. (Dok. Shueisha/Dragon Ball Super)

Son Goku adalah bukti hidup bahwa di Dragon Ball, kemenangan bukan akhir... itu cuma semacam checkpoint.

Mari kita luruskan satu hal dulu.

Di Tournament of Power dalam Dragon Ball Super, Goku memang mencapai Perfected Ultra Instinct. Rambut putih, gerakan tanpa pikir, tekanan dewa. Namun ia belum benar-benar menguasainya. Tubuhnya tertekan karena beban kekuatan itu, dan wujud tersebut buyar bahkan sebelum Jiren benar-benar tumbang sepenuhnya.

Itu bukan bentuk yang stabil. Itu puncak sesaat.

Sejak arc Galactic Patrol Prisoner (arc Moro), Goku berkembang jauh. Ia mulai menguasai Ultra Instinct dengan lebih matang, bahkan mampu memproyeksikan wujud raksasa dari energinya sendiri, mirip konsep avatar energi seperti Susanoo di Naruto, tapi dalam gaya Dragon Ball.

Lalu di Granolah the Survivor Saga, evolusinya makin jelas.

Goku mencapai True Ultra Instinct, sebuah bentuk yang tidak lagi menuntut dirinya menjadi “kosong”. Ia tetap mempertahankan insting otomatis Ultra Instinct, namun mengintegrasikan emosi khas Saiyan yang selama ini justru menjadi sumber kekuatannya.

Dan ini penting.

Di Tournament of Power, Ultra Instinct terasa seperti sesuatu yang “dipinjam” dari level malaikat. Di Granolah Saga, Ultra Instinct terasa seperti milik Goku sendiri.

Jika kita berbicara tentang Jiren versi Universal Survival Saga, Jiren yang menghadapi UI Goku pertama kali, maka Goku versi sekarang terasa jauh lebih efisien dan matang.

Ia tidak lagi kehabisan stamina secara brutal. Ia tidak lagi bertarung melawan batas tubuhnya sendiri. Dan ia tidak lagi sekadar mengejar level Jiren.

Ia sudah melewatinya.

2. Frieza

Black Frieza dan Vegeta. (Dok. Shueisha/Dragon Ball Super)

Kalau mundur ke Tournament of Power di Dragon Ball Super, versi terbaik Frieza saat itu (Golden Frieza) jelas bukan tandingan Jiren dalam duel satu lawan satu.

Frieza dihajar.

Ia baru bisa memberi perlawanan berarti ketika bekerja sama dengan Son Goku dan Android 17, itu pun saat Jiren sudah kelelahan dan melemah. Saat itu, posisi Frieza jelas di bawah Jiren. Tapi Dragon Ball jarang berhenti di satu titik.

Pasca Granolah the Survivor Saga, Frieza muncul kembali dengan wujud yang benar-benar mengubah peta kekuatan: Black Frieza. Wujud ini ia tempa dari latihan panjang di ruang yang menurutnya mirip Hyperbolic Time Chamber.

Dan hasilnya? Brutal.

Ia mengalahkan Gas dari keluarga Heeter, yang sebelumnya begitu sulit disingkirkan bahkan setelah berkali-kali bangkit dengan tubuh rusak, dengan relatif mudah. Bahkan sebelum benar-benar serius.

Lalu momen paling mencolok: Frieza menjatuhkan Ultra Ego Vegeta dan True Ultra Instinct Goku… dengan satu serangan telak.

Bukan pertarungan panjang. Bukan duel penuh strategi.

Frieza bahkan tidak membunuh mereka, tampaknya sudah puas hanya menegaskan level kekuatan sudah berbeda sekarang.

Jika Jiren versi Tournament of Power harus menghadapi Frieza yang sekarang, situasinya terasa sangat berbeda. Frieza bukan lagi petarung oportunis yang mengandalkan celah. Ia kini adalah ancaman frontal, dengan kekuatan yang secara eksplisit melampaui dua Saiyan yang sudah berkembang jauh sejak era Jiren.

Dan jujur saja… Frieza sekarang terasa seperti monster yang bahkan Jiren pun harus waspadai.

3. Son Gohan

Son Gohan Beast di DBS: Super Hero. (Dok. Toei Animation/Dragon Ball Super: Super Hero)

Di Tournament of Power dalam Dragon Ball Super, jelas masih ada jarak besar antara Son Gohan dan Jiren.

Mereka memang tidak sempat bertarung langsung, tapi dari dinamika pertarungan saja sudah terlihat: Jiren adalah tembok yang bahkan Goku dan Vegeta kesulitan menembusnya. Gohan saat itu kuat namun belum di level ancaman utama.

Sekarang situasinya berbeda.

Gohan telah mencapai wujud baru: Beast.

Transformasi yang pertama kali muncul di Dragon Ball Super: Super Hero ini kemudian diperdalam dalam manga Dragon Ball Super. Dan di sana kita melihat sesuatu yang benar-benar menegaskan betapa ngerinya wujud ini.

Beast bukan sekadar lonjakan tenaga mentah. Dalam sparring melawan Perfected Ultra Instinct Goku, Gohan bukan hanya mampu mengimbangi, ia bahkan mencapai kecepatan dan tekanan serangan yang membuat insting otomatis Goku kesulitan menghindari pukulannya.

Itu poin penting.

Ultra Instinct adalah teknik yang bereaksi tanpa berpikir. Jika sebuah serangan masih bisa menembus atau setidaknya menyentuh pertahanannya, berarti level tekanan dan timing-nya sudah luar biasa tinggi.

Ditambah lagi, berbeda dari Super Saiyan 2 masa remaja yang lahir dari ledakan emosi tak terkendali, Beast tampak sepenuhnya stabil. Gohan tetap tenang, tetap fokus, tetap rasional walau terasa lebih agresif. Potensi besarnya kini berpadu dengan kontrol yang matang.

Dengan kombinasi itu, Gohan versi sekarang terasa bukan lagi “petarung potensial”. Ia adalah kandidat nyata untuk level tertinggi.

Jika Jiren versi Tournament of Power harus menghadapi Beast Gohan saat ini, bukan tidak mungkin situasinya akan jauh lebih sulit bagi Pride Trooper tersebut.

4. Granolah

Granolah powered up. (mangaplus.shueisha.co.jp/Dragon Ball Super)

Granolah sempat jadi anti-villain dari Granolah the Survivor Saga, sebelum intervensi keluarga Heeters membuat dia sepenuhnya beralih jadi protagonis.

Granolah diadu domba oleh keluarga Heeters untuk melawan Goku dan Vegeta. Granolah sendiri punya dendam pada Frieza Army, dan bangsa Saiyan dulu yang menyebabkan bangsa Cerealian punah. Jadi tak heran Granolah pun mudah dibuat melawan mereka, meski Goku dan Vegeta pada akhirnya beda dari kebanyakan Saiyan.

Granolah mengorbankan banyak usia hidupnya untuk membuat dirinya jadi petarung terkuat di semesta. Dan kuncinya bukan sekedar kekuatan mentah, ia juga pragmatis dan cerdik dalam bertarung. Ini terbukti ketika Perfected Ultra Instinct Goku berhasil mendesaknya tapi ia tetap menemukan cara untuk melumpuhkan Goku dengan efektif. Granolah lalu bisa diadu juga dengan Ultra Ego Vegeta dan mengunggulinya.

Di akhir saga, Granolah memang masih hidup, meski dengan usia yang jauh berkurang akibat pengorbanannya demi menjadi "yang terkuat di semesta". Tapi jika kita membandingkan Granolah versi “petarung terkuat di semesta” dengan Jiren versi Tournament of Power, hasilnya tidak lagi terasa sepihak.

Jika Jiren tidak berkembang sejak era tersebut, Granolah dalam puncaknya sangat mungkin mampu menandingi bahkan mengalahkannya.

5. Broly

penampilan Broly dalam game Dragon Ball terbaru (dok. Bandai Namco Entertainment/Dragon Ball: Sparking! Zero)

Memang benar, di Tournament of Power dalam Dragon Ball Super, Jiren mampu mengatasi Kale dengan satu serangan telak.

Padahal Kale, dalam mode berserk-nya, jelas dirancang sebagai “Broly versi Universe 6”.

Tapi ketika Broly versi resmi kanon diperkenalkan di Dragon Ball Super: Broly, skala ancamannya terasa berbeda jauh.

Broly Universe 7 bukan sekadar Saiyan berserk. Dalam wujud dasar saja, ia sudah mampu menekan Goku dan Vegeta. Saat berubah menjadi Super Saiyan biasa, tekanannya meningkat drastis, cukup untuk memaksa dua Saiyan itu bergantian naik level.

Dan ketika ia mencapai Super Saiyan Full Power, wujud berambut hijau yang sering disebut fans sebagai Legendary Super Saiyan?

Broly berubah menjadi bencana alam hidup.

Ia menghajar Frieza tanpa ampun, dan memaksa Goku dan Vegeta melakukan fusion menjadi Gogeta.

Dan hanya Gogeta yang mampu melampauinya dengan jelas.

Sekarang pertanyaannya sederhana: Apakah Jiren bisa menghadapi Gogeta?

Itu saja sudah membuka diskusi besar. Dan jawaban pribadi saya adalah tidak, Gogeta akan melampauinya. Bahkan mungkin Gogeta akan mengatasi Jiren lebih mudah dari mengatasi Broly.

Memang, Jiren mungkin bisa memanfaatkan sifat berserk Broly, menunggu celah, menyerang dengan kepala dingin. Tapi Super Saiyan Full Power Broly bukan tipe lawan yang bisa diselesaikan dengan satu momentum seperti Kale.

Ia tumbuh selama pertarungan berlangsung. Ia beradaptasi secara instingtif. Dan ia tidak punya batas emosional saat lepas kendali.

Yang membuatnya makin mengerikan adalah fakta terbaru: Broly kini berlatih di planet Beerus. Terakhir terlihat, ia mulai belajar mengendalikan dirinya di pertarungan.

Dan ini poin krusial.

Broly selama ini sudah termasuk level teratas tanpa kontrol penuh. Jika suatu hari ia mampu mencapai Super Saiyan dengan stabil dan sadar sepenuhnya?

Ia berpotensi menjadi salah satu petarung terkuat (bahkan mungkin yang terkuat) di Universe 7.

Dan dalam skenario itu, Jiren tidak lagi menghadapi petarung berserk… melainkan monster yang tahu persis apa yang ia lakukan.

Editorial Team