Review Kekkai Sensen and Beyond: Sebuah Kisah Urban yang Lebih Personal

Kekkai Sensen and Beyond kini kembali hadir dengan segala keabsurdan Hellsalem's Lot dan para penghuninya. Akankah musim kali ini lebih menghibur dari sebelumnya?

Review Kekkai Sensen and Beyond: Sebuah Kisah Urban yang Lebih Personal

Review Kekkai Sensen and Beyond: Sebuah Kisah Urban yang Lebih PersonalSukses dengan musim pertamanya, Kekkai Sensen and Beyond kini kembali hadir  dengan segala keabsurdan Hellsalem's Lot dan para penghuninya. Akankah musim kali ini lebih menghibur dari sebelumnya?

[duniaku_baca_juga]

Sinopsis

[duniaku_adsense]

Alkisah di sebuah kota yang menyatu dengan dunia lain, terdapat sebuah organisasi yang berisi para manusia berkemampuan super bernama Libra. Kelompok ini memiliki tujuan menjaga keseimbangan dunia dan membersihkan setiap kekacauan yang mustahil ditangani manusia biasa.

Sama seperti sebelumnya, musim keduanya masih bercerita tentang keseharian Leonardo Watch dan para anggota Libra lainnya dalam menghadapi setiap permasalahan yang terjadi di kota Hellsalem’s Lot.

Tidak seperti musim pertamanya, kali ini jalan ceritanya mengadaptasi manganya. Namun karakter original seperti Black dan White masih dimunculkan dalam cerita kali ini.

Mampukah Leonardo menemukan jawaban yang dicarinya selama ini?

Plot Episodik yang Lebih Personal

Bisa dibilang Kekkai Sensen and Beyond ini jauh lebih terasa slice of life-nya dari pada musim pertamanya yang rilis dua tahun yang lalu. Episode satu dengan yang lain tak memiliki hubungan yang erat satu sama lain kecuali beberapa cerita yang dibagi dari dua bagian. Tentu saja, model plot seperti ini gagal memancing rasa penasaran muncul.

Hal itu bisa dipahami mengingat bahwa musim pertamanya dulu sebenarnya merupakan flashback yang sudah terjadi dan diceritakan kembali oleh Leonardo. Musim keduanya lah yang sekarang baru dialaminya seperti dalam manga.

[read_more id="356416"]

Jika dilihat baik-baik, anime ini seolah dibuat untuk menjawab pernyataan penonton mengenai beberapa hal yang terlewat di musim pertamanya. Beberapa karakter yang dulu jarang mendapat spot sekarang dijelaskan secara gamblang dan mendetail. Hal itu yang membuat penonton bisa mengenal lebih dekat dengan para tokoh.

Selain itu, misteri mengenai kota yang dijadikan sebagai latar cerita juga mulai terkuak sedikit demi sedikit. Sayangnya, karena sorot ceritanya lebih berfokus ke karakter membuat anime ini masih menyisakan banyak pertanyaan bagi para penonton.


Apa saja nilai positif dari Kekkai Sensen and Beyond? Penggalian karakternya atau musiknya yang enak didengar? Klik halaman selanjutnya!

Pendalaman Karakter yang Lebih Mendalam

[duniaku_adsense]

Hal positif dari anime ini tentu saja perkembangan tokohnya. Leonardo Watch yang dulunya sering dijadikan sasaran kesialan akhirnya mampu beradaptasi dengan kegilaan kota Hellsalem’s Lot. Kemudian, karakter yang jarang mendapat sorotan seperti Michella dan Gilbert akhirnya bisa mendapat jatah tampil yang lebih banyak.

Selain itu, beberapa karakter populer yang latar belakangnya masih misterius satu-persatu mulai terkuak. Kita bisa mengetahui bagaimana rapuhnya Chain jika Steven tak eksis dalam cerita. Kita juga bisa mengetahui masa lalu Zed yang terlihat serius dan bertata krama justru menyimpan kesepian yang mendalam.

Tapi tokoh yang paling membuat penulis simpati justru adalah K.K dan Blood Breed yang ditemuinya di sekolah. Ia merupakan contoh seorang ibu yang dilematis saat memilih nyawa masyarakat atau kebahagiaan putranya.

Tak hanya itu, tokoh antagonis seperti Blood Breed yang dikira hanya sebatas monster ternyata juga memiliki naluri orang tua seperti manusia.

Musik Latar yang Jazzy dan Penuh Emosional

[read_more id="358050"]

Di balik kekurangannya, anime ini juga memiliki nilai tambah tersendiri dari segi musik, baik opening-ending dan pengiring adegan. Dari lagu opening-ending, meskipun tak se-memorable “Hello World” dari Bump of Chicken dan “Sugar Song and Bitter Step”-nya Unison Square Garden, setidaknya “Fake Town” yang juga dinyanyikan oleh Unison Square Garden dan “Step Up Love” milik DAOKO terasa gampang nyantol di telinga.

Musik pengiringnya sendiri benar-benar sangat eargasm sesuai untuk menggambarkan kehidupan urban yang terlahir dari perpaduan dunia manusa dan dunia alternatif. Unsur jazzy-nya yang khas masih mendominasi untuk setiap adegan terutama saat terjadinya pertarungan.

Namun yang membuat soundtrack anime ini bagus adalah pesan emosional yang tersampaikan pada para penonton. Contohnya adalah “Tortoise Knight” yang diputar saat adegan klimaks di episode terakhirnya membuat penulis tersentuh meski unsur deus ex machina masih begitu terasa.


Sayangnya, banyak kekurangan yang didapati dalam Kekkai Sensen and Beyond. Apa sajakah itu? Klik halaman selanjutnya!

Komedi yang Kurang Intens

[duniaku_adsense]

Penulis mengakui jika intensitas adegan komediknya tak sebanyak season pertamanya. Hanya ada beberapa episode yang berhasil memancing tawa dari semua episode yang ada. Jika ditanya episode yang mana, mungkin hanya episode yang menampilkan adegan antara Zapp, Chain, dan Leonardo yang sukses membuat penonton ngakak.

Formula rantai pem-bully-an yang sering dijadikan bahan lawakan bagi para penggemarnya. Rasanya tak afdol jika adegan Zapp yang membully Leo di setiap kesempatan atau Chain yang kerap menyiksa Zapp tak dihadirkan dalam cerita ini.

Selain itu, gaya bicaranya Zapp yang terkesan lebih nyolot juga memegang peran penting dalam mempertahankan suasana ceria dalam setiap episodenya. Bisa dibilang, Zapp diibaratkan sebagai pemantik yang dibuat untuk menyulut tawa para penonton.

Sedangkan Leonardo lebih berperan sebagai tsukkomi dalam cerita ini. Hal itu tentu wajar mengingat pengisi suara Leonardo sering menonjolkan cengkok khas Shinpachi dari serial Gintama. Caranya merespon setiap kejadian absurd di Hellsalem’s Lot juga menjadi lelucon tersendiri yang minimal bisa membuat tersenyum.

Banyaknya Adegan yang Repetitif

Review Kekkai Sensen and Beyond: Sebuah Kisah Urban yang Lebih PersonalJika kalian menonton anime ini, pasti kalian menyadari ada sesuatu yang sering diulang-ulang. Adegan yang sama tapi serupa bisa ditemui di beberapa episode seperti kondisi rumah sakit pra-insiden dan pasca-insiden serta cara Klaus dan Leonardo bertahan dari gempuran musuh di episode 2 dan 12.

Adegan repetitif juga bisa didapat dari  kejadian hancurnya restoran di episode 12 dan episode 10 season 1. Jangan lupa, anime ini juga masih mengakhiri episode terakhir dengan adegan yang diambil dari episode pertama sama seperti sebelumnya.

Entah untuk menghemat budget atau memang estetikanya terletak di situ, poin ini justru mengurangi nilai dari anime ini.

Aksi Memukau yang Sayangnya Kekurangan Jatah Waktu

Sama seperti sebelumnya, aksi tempur yang serba kilat membuat penulis terpana. Jurus-jurus darah yang mendominasi masih sangar. Sayangnya, setiap pertarungan ditampilkan terlalu singkat dan habis dalam satu kali tarikan nafas.

Pertarungan dengan Blood Breed yang sebenarnya sudah penulis nanti-nantikan juga tak kalah membosankan dibanding dengan season pertamanya. Memang jalan pertarungannya lebih logis dan pragmatis. Sayangnya, hal itu tentu saja mengurangi antusiasme dari para penonton yang mengharapkan pertarungan dahsyat dari anggota Libra.

Pertempuran yang paling memukau justru muncul dari Leonardo. Sebagai karakter yang lemah secara fisik, caranya menghadapi musuh dan trik-trik yang dimunculkannya jauh lebih mengesankan daripada karakter lain yang mampu menyelesaikan dengan cara One Punch Man.

Kesimpulan : Tak Ada Adik, Kakaknya pun Jadi

[read_more id="358209"]

Terlepas dari semacam kekurangannya, Kekkai Sensen and Beyond cocok untuk kamu yang menggemari gemerlap kehidupan kota nan absurd. Nuansa gelap namun funky terasa begitu pekat namun tak membuat sesak. Di sini, kita seolah masih bisa tertawa meskipun tumpukan masalah seolah tak mau berhenti menindih.

Meskipun jalan ceritanya tak segreget musim pertamanya, kita bisa mengenal setiap tokohnya lebih mendalam. Tidak hanya para protagonisnya utama, karakter lain yang jarang mendapat sorotan juga terasa lebih simpatik setelah latar belakangnya diperlihatkan.

Penutupan konfliknya sendiri begitu emosional meskipun deus ex machina masih terasa dan tak sebagus yang dulu. Penulis harus mengakui, kunci suksesnya terletak pada peletakan setiap soundtrack pada setiap adegan tepat sasaran dan membuat atmosfer cerita terasa lebih hidup.

Jadi, jika kamu ingin tontonan absurd dengan musik yang eargasm, Kekkai Sensen and Beyond bisa menjadi pilihan yang tepat.

Diedit oleh Snow

Artikel terkait

Latest