Key visual Jakarta Futura Connectiva.
“JFC 2026 hadir dengan melihat IP bukan hanya sebagai karya kreatif, tetapi juga sebagai aset yang memiliki potensi ekonomi dan bisnis. Kami ingin mempertemukan kreator dan pemilik IP dengan studio, publisher, investor, brand, serta mitra internasional untuk membuka peluang licensing, co-production, adaptation, distribution, hingga investasi. Indonesia memiliki talenta dan karya kreatif dengan potensi untuk berkembang lebih jauh. Si Juki, Tahilalats, dan Milk & Mocha Bear menunjukkan bahwa IP lokal dapat tumbuh melampaui medium awal dan menjangkau audiens yang lebih luas. Melalui JFC, kami ingin membuka lebih banyak peluang agar IP Indonesia dapat menemukan mitra yang tepat, berkembang menjadi bisnis, dan memiliki akses ke pasar yang lebih luas,” - Sunny Gho, Ketua Asosiasi Komik Indonesia, selaku pelaksana dari Forum Bisnis Jakarta Futura Connectiva.
Selama dua hari penyelenggaraan, JFC akan menghadirkan rangkaian program yang dirancang untuk mempertemukan kebutuhan bisnis dengan kapasitas industri kreatif. Melalui B2B matchmaking, peserta dapat melakukan pertemuan satu lawan satu dengan calon pembeli, investor, publisher, dan mitra bisnis. Sementara IP Market menjadi ruang bagi pemilik IP untuk memperkenalkan dan menawarkan propertinya untuk kebutuhan licensing dan pengembangan lebih lanjut.
JFC juga menghadirkan Creative Conference yang membahas berbagai aspek bisnis industri animasi, komik, dan gim. Topiknya mencakup ekonomi kreatif, hak dan kontrak, model produksi dan monetisasi IP, pengembangan komik menjadi animasi, hingga pendanaan creative IP. Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain “The 360° Creative Economy”, “The Business of Content”, “Comic Creators as Brand Partners”, “From Comic to Animation”, dan “Funding Creative IP”. JFC juga menyiapkan Deal-Signing Spotlight untuk menyoroti kesepakatan yang terbangun selama penyelenggaraan.
JFC juga menghadirkan praktisi profesional dari industri kreatif mancanegara, seperti Bunsho Kajiya, dari Shogakukan Asia; Victor Lee dari DNABLE Korea Selatan; dan Tatsuki Hirayanagi dari Jepang. Untuk memantik pertumbuhan industri komik, JFC juga menghadirkan sesi editorial review bersama Ayano Hagiwara, produser dan editor dari penerbit besar jepang, Shogakukan.