ilustrasi dewa (unsplash.com/New York Public Library)
Melihat ke belakang, ada sejumlah nama yang dipercaya sebagai dewa hujan oleh banyak peradaban. Sesuai namanya, mereka bertugas mengatur turunnya hujan, baik sebagai kebaikan maupun bentuk kemurkaan. Berikut sejumlah contohnya.
Di peradaban Aztec, ada Tlaloc yang dikenal sebagai dewa hujan, petir, dan kesuburan. Pada tugasnya, dia bisa mencurahkan hujan untuk kehidupan serta mendatangkan badai atau banjir saat murka.
Dalam tradisi China kuno, ada dewa hujan yang dikaitkan dengan turunnya hujan dari langit, yakni Yu Shi. Pada beberapa penggambaran, dia sering disebut membawa bejana tembikar berisi air dan cukup memercikkan setetes saja untuk menurunkan hujan ke daratan.
Di peradaban Maya, ada Chaac. Dia digambarkan membawa kapak petir yang dipercaya dapat memecah awan dan menurunkan hujan.
Pada peradaban Mesir kuno, ada sosok dewi bernama Tefnut yang bertanggung jawab atas masalah hujan dan unsur air. Ketidakhadirannya dapat dikaitkan sebagai bentuk bencana seperti kekeringan.
Di kawasan Slavia, ada pula dewi Dodola sebagai pengatur hujan dan badai. Orang-orang yang percaya biasa melakukan ritual seperti doa dan tarian agar dia datang ke kota untuk membawa hujan.