Screenshot The Blood of Dawnwalker. (Dok. Rebel Wolves, Bandai Namco Entertainment Asia)
Untuk aspek open-world, The Blood of Dawnwalker sekilas tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar revolusioner.
Dalam banyak aspek, ini masih merupakan open-world RPG yang cukup familiar: ada outpost musuh untuk diserang, tempat-tempat tinggi untuk dipanjat demi melihat lingkungan sekitar, serta berbagai aktivitas dan lokasi yang bisa ditemukan ketika menjelajah.
Namun ada satu hal yang membuat eksplorasinya lebih menarik.
Pengalaman menjelajahmu dapat berbeda tergantung apakah kamu bermain sebagai Coen siang atau Coen malam.
Selain itu, dunia juga dapat berubah berdasarkan tindakanmu. Misalnya, memburuknya hubungan dengan rezim vampir dapat membuat situasi di dunia menjadi semakin berbahaya.
Jadi meskipun fondasi open-world-nya cukup familiar, sistem dualitas Coen dan dunia yang bereaksi terhadap tindakanmu membuat eksplorasinya tetap terasa menarik.
Ada satu hal yang menurut saya agak lucu sekaligus ngeselin.
Game ini tidak benar-benar menghalangi jalur Coen dengan pagar, barikade, atau batasan geografis yang jelas. Kamu bisa saja berjalan menuju area yang secara teori belum cocok untuk karaktermu.
Masalahnya?
Musuh di sana bisa jauh lebih kuat.
Biasanya kamu akan melihat ikon tengkorak merah pada health bar musuh sebagai tanda bahwa lawan tersebut berada jauh di atas kemampuanmu. Dan pukulan mereka sangat sakit.
Dari tadinya kamu merasa badass karena bisa membabat musuh di area yang sesuai level, kamu bisa tiba-tiba mati hanya dalam satu atau dua serangan dari bandit rendahan atau serigala di area yang lebih berbahaya.
Hal serupa berlaku pada quest.
Perhatikan simbol yang menyertai sebuah quest. Jika sebuah quest masih terlalu berbahaya untuk Coen, biasanya akan ada ikon yang mengindikasikannya.
Itu pada dasarnya adalah petunjuk keras dari game: “Bro, leveling dulu.”