Dead as Disco dari Brain Jar Games membuktikan bahwa musik bukan sekadar susunan nada yang tepat, melainkan sebuah ekspresi gaya dan serangan. Meski baru hadir dalam status Early Access, game ini sudah memiliki semua syarat untuk menjadi "puncak tangga lagu" di genre rhythm beat ’em up. Bayangkan jika Hi-Fi Rush bertemu dengan estetika Devil May Cry dan mekanik fighting game favorit kamu, itulah Dead as Disco.
Review Game Dead as Disco, Perpaduan Seru Beat 'Em Ups dan Rhytm Games

1. Bangkit dari Kubur Demi Satu Konser Terakhir
Perjalanan Charlie bukan sekadar reuni biasa, melainkan sebuah konfrontasi pedih dengan mantan rekan bandnya yang telah menjual jiwa mereka demi ketenaran instan sebagai mega-idola di bawah naungan organisasi bernama Harmony. Meskipun narasinya masih terus berkembang dalam tahap Early Access, misteri tentang siapa sebenarnya yang menghabisi nyawa Charlie menjadi bumbu yang sangat menarik di setiap babak.
Mekanik pertarungannya benar-benar memanjakan insting ritmik pemain, di mana setiap pukulan, hindaran, dan tangkisan harus dilakukan selaras dengan tempo musik. Semakin tepat kamu mengikuti ketukan, semakin mematikan gaya bertarung "Beat Kune Do" milik Charlie, yang puncaknya mampu memicu Fever Meter untuk menghujani musuh dengan rangkaian serangan spesial yang sangat sinematik.
2. Panggung Megah dan Pertarungan Ikonik
Daya tarik utama yang membuat game ini terasa begitu istimewa adalah desain pertarungan bosnya yang ambisius dan penuh warna. Setiap mantan anggota band yang dihadapi Charlie memiliki genre musik dan arena pertarungan yang unik, mulai dari Hemlock yang membawa nuansa punk-rock dengan lagu Maniac, hingga Prophet yang menghadirkan transisi visual luar biasa dari jalanan kumuh menuju stadion megah diiringi dentum hip-hop.
Setiap transisi antar tahap dalam pertarungan ini dieksekusi dengan sangat rapi layaknya sebuah film aksi kelas atas, memberikan kepuasan visual yang jarang ditemukan pada game independen sejenis. Pemain akan merasa seperti sedang menjadi bintang utama dalam sebuah video klip musik yang penuh dengan kekerasan estetik dan penuh energi.
Para bos-bos ini bertarung dengan menggunakan ritme dengan timing yang terlihat di setiap tombol serangan. Bila kamu bisa menekan tombol di waktu yang tepat, kamu akan mengaktifkan serangan spesial yang memiliki animasi khusus dengan daya rusak yang besar. Selain itu setiap bos memiliki kelemahan dan kelebihannya sendiri-sendiri, sehingga kamu diharuskan untuk mempelajari setiap pola dan tempo yang bisa dieksploitasi agar pertempuran berjalan efektif.
3. Kebebasan di Balik Layar
Di antara jadwal pertunjukan yang padat, pemain bisa beristirahat di sebuah bar kumuh bernama The Encore. Tempat ini berfungsi sebagai markas di mana Charlie bisa menghabiskan dukungan dari para penggemarnya untuk memperkuat kemampuan bertarung melalui skill tree yang meski sederhana, namun memberikan dampak yang sangat terasa pada permainan. Yang lebih luar biasa, game ini memberikan kebebasan bagi pemain untuk mengunggah lagu mereka sendiri melalui fitur Free Play, memberikan ruang kreativitas tanpa batas bagi siapa pun yang ingin merasakan sensasi menghajar musuh dengan lagu favorit masing-masing. Meski ada beberapa catatan mengenai tingkat kesulitan yang cukup tajam di bagian bos, pengalaman keseluruhan yang ditawarkan tetap terasa sangat solid dan memuaskan.
4. Sebuah Album Legendaris
Secara keseluruhan, Dead as Disco saat ini mungkin baru terasa seperti sebuah EP (Extended Play) yang singkat namun penuh tenaga, tetapi ia sudah menunjukkan semua potensi untuk menjadi sebuah album legendaris di masa depan. Game ini menuntut pemainnya untuk benar-benar menikmati proses latihan dan menguasai teknik hingga jari-jemari menari secara otomatis di atas kendali seiring dengan irama lagu.
Dengan visual yang modis, daftar lagu yang menghentak, dan karakter-karakter yang eksentrik, Brain Jar Games berhasil membuktikan bahwa meskipun Charlie Disco sempat mati, semangat musik dan aksi yang ia bawa akan terus hidup dan mengguncang panggung industri game. Pada akhirnya, disco memang tidak akan pernah mati.
| Genre | Rhythm, Beat 'Em Up |
| Developers | Brain Jar Games, Inc. |
| Publisher | Brain Jar Games, Inc. |
| Platform | Steam |
| Price | Rp. 171.999 |
Dead as Disco System Requirements
Operating System | Windows 10 |
|---|---|
Processor | Intel Core i5-6500, AMD Ryzen 5 1400, or equivalent |
Memory | 8 GB RAM |
GPU | Nvidia GTX 1060 6GB, AMD Radeon RX 580, or equivalent |
DirectX | DirectX 12 |
Storage | 20 GB available space |