3 Seri Film Marvel dengan Kualitas Paling Konsisten! Bagus Terus?

- Menjaga kualitas beberapa film berturut-turut dinilai sulit, termasuk untuk franchise Marvel.
- Captain America, Guardians of the Galaxy, dan Spider-Man dinilai memiliki kualitas yang relatif konsisten berdasarkan Rotten Tomatoes.
- Spider-Man versi Tom Holland mencatat empat skor Rotten Tomatoes di atas 90 persen.
Menjaga kualitas sebuah seri film bukan perkara mudah.
Bahkan karakter sepopuler Marvel pun bisa mengalami naik-turun. Iron Man punya Iron Man 2, sementara Iron Man 3 juga masih memiliki beberapa kelemahan. Thor bahkan punya The Dark World dan kemudian Love and Thunder.
Jadi ketika sebuah franchise bisa menghasilkan beberapa film berturut-turut dengan kualitas yang relatif konsisten, itu sebenarnya cukup mengesankan.
Berikut beberapa seri film Marvel yang menurut saya berhasil menjaga konsistensinya!
Table of Content
1. Trilogi Captain America Era Chris Evans

Chris Evans dalam film Captain America: The Winter Soldier (dok. Marvel Studios/Captain America: The Winter Soldier) Penilaian Rotten Tomatoes:
Captain America: The First Avenger — 80%
Captain America: The Winter Soldier — 90%
Captain America: Civil War — 90%
Trilogi ini benar-benar berhasil menyajikan perjalanan Steve Rogers sebagai Captain America.
Film pertamanya memang terasa seperti salah satu kisah superhero paling konvensional di Phase 1 MCU. Namun Chris Evans sudah berhasil menegaskan bahwa ia benar-benar cocok sebagai Steve Rogers.
Lalu The Winter Soldier mengubah formula tersebut secara drastis.
Film ini mengambil pendekatan thriller spionase, lengkap dengan konspirasi, infiltrasi, dan pertarungan jarak dekat yang brutal. Film tersebut juga menegaskan bahwa Captain America bukan sekadar “pria dengan tameng.”
Steve Rogers justru adalah salah satu petarung paling berbahaya di MCU.
Kemudian Civil War harus menangani masalah yang jauh lebih besar karena film ini pada dasarnya terasa seperti Avengers 2.5.
Namun meskipun harus memperkenalkan dan mengatur begitu banyak karakter, film tersebut tetap berhasil mempertahankan fokus pada konflik Steve Rogers dan Tony Stark.
Hasilnya?
80% → 90% → 90%.
Bukan hanya konsisten, trilogi ini bahkan terasa seperti perkembangan yang natural dari satu film ke film berikutnya.
2. Trilogi Guardians of the Galaxy

Film penutup trilogi Guardians of the Galaxy (dok. Marvel/The Guardians of the Galaxy 3) Penilaian Rotten Tomatoes:
Guardians of the Galaxy — 91%
Guardians of the Galaxy Vol. 2 — 85%
Guardians of the Galaxy Vol. 3 — 82%
Trilogi Guardians of the Galaxy memang mengalami penurunan agregat skor, tetapi menurut saya justru menarik karena titik terendahnya pun masih mendapatkan respons yang sangat positif.
Film pertama bahkan awalnya menjadi pertaruhan besar.
Guardians bukan nama yang sepopuler Avengers, Spider-Man, atau Captain America bagi penonton umum.
Namun James Gunn berhasil mengubah sekelompok karakter yang relatif tidak dikenal menjadi salah satu keluarga paling populer di MCU.
Vol. 2 memang mendapatkan skor lebih rendah, tetapi tetap sangat menghibur dan memperdalam hubungan antaranggota Guardians.
Kemudian Vol. 3 menjadi penutup trilogi yang emosional.
Film ini mendapatkan skor terendah dari ketiganya, tetapi tetap berhasil menyajikan kisah yang mengharukan sekaligus memberikan penutup yang terasa pantas bagi perjalanan para Guardians.
Bahkan di tengah Phase 5 MCU yang mulai menghadapi masalah dari sisi kritik maupun performa box office, Guardians of the Galaxy Vol. 3 masih terasa seperti salah satu titik terang terbesar.
Jadi meskipun angkanya tidak setinggi trilogi Captain America, konsistensinya tetap patut diapresiasi.
3. Spider-Man

Spider-Man duduk di atas gedung dengan lanskap kota dalam still Brand New Day. (Marvel Studios/Sony Pictures) Penilaian Rotten Tomatoes:
Spider-Man: Homecoming — 92%
Spider-Man: Far From Home — 91%
Spider-Man: No Way Home — 93%
Spider-Man: Brand New Day — 91%
Konsisten di kisaran 90%+ itu gila sih.
Empat film berturut-turut, semuanya mendapatkan skor di atas 90%.
Dan yang menarik, bagi sebagian orang, kualitas film Spider-Man versi Tom Holland justru terasa semakin berkembang dari satu film ke film berikutnya.
Homecoming dan Far From Home sudah merupakan film yang bagus, tetapi ada satu kritik yang kadang muncul: Peter Parker terasa masih cukup sering berada di bawah bayang-bayang karakter atau elemen MCU lainnya.
Peter juga lebih sering beraksi di luar New York.
Far From Home, misalnya, membawa Peter dalam perjalanan ke Eropa.
Kemudian No Way Home mulai membawa Spider-Man kembali ke akar yang lebih personal.
Memang film ini dipenuhi fan service dan konsep multiverse, tetapi pada saat yang sama Peter akhirnya menghadapi konsekuensi yang sangat pahit.
Kehilangan Bibi May, kehilangan hubungan dengan MJ dan Ned, lalu berakhir dalam kondisi di mana tidak ada seorang pun yang mengingat Peter Parker.
Kemudian Brand New Day membawa pendekatan tersebut lebih jauh.
Peter kini menjalani kehidupannya sebagai Spider-Man dan New York kembali menjadi inti cerita.
Ironisnya, film tentang Spider-Man yang begitu identik dengan New York ini justru banyak mengambil lokasi syuting di kota lain seperti Glasgow.
Tetapi secara naratif, arahnya terasa jelas: setelah perjalanan panjang bersama Avengers, multiverse, dan berbagai konflik global, Spider-Man akhirnya kembali terasa seperti pahlawan jalanan New York.
Dan hasil akhirnya cukup menarik.
92% → 91% → 93% → 91%.
Bahkan film dengan skor terendah di antara empat film tersebut masih mendapatkan 91%.
Kalau ukuran kita adalah konsistensi kualitas berdasarkan Rotten Tomatoes, sulit membantah bahwa seri Spider-Man versi ini merupakan salah satu pencapaian paling stabil dalam sejarah film Marvel.


















![[QUIZ] Kalau Jadi Superhero Marvel, Siapa yang Bakal Jadi Mentormu?](https://image.idntimes.com/post/20220810/doctor-strange-in-the-multiverse-of-madness-disney-screens-2-g5xw-7fa5636143b7814fcc0864794e3c64df.jpg)