Resident Evil (dok. Sony Pictures Releasing/Resident Evil)
Ini menarik karena Resident Evil (2026) sebenarnya juga memiliki unsur komedi. Bukan komedi ringan, melainkan dark comedy yang muncul di tengah situasi mengerikan.
Saat menghadiri press screening, saya melihat banyak rekan media dan tamu undangan tidak bisa menahan tawa. Padahal, Cregger pernah mengungkapkan bahwa ia mengurangi kadar humornya setelah penonton test screening menilai versi awal filmnya terlalu lucu.
Bahkan, bagian akhir film bisa dianggap sebagai bentuk komedi yang sangat kelam. Respons penonton terhadapnya mungkin terbelah: ada yang menganggapnya efektif, sementara yang lain bisa saja merasa kesal.
Namun, menurut saya, justru di sinilah Resident Evil unggul.
Sejak awal, film ini sudah memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai jenis pengalaman yang ingin ditawarkan: horor yang menegangkan, body horror yang ekstrem, dan komedi gelap yang muncul dari absurditas situasi yang dihadapi Bryan.
Bahkan sebenarnya "situasi serius lalu diganggu humor" pun terjadi di Resident Evil, bukan hanya Street Fighter. Ada momen ketika Bryan merekam pesan yang mungkin menjadi kata-kata terakhirnya untuk sang kekasih. Setelah itu, film kembali menyelipkan dialog komedi bersama seorang ilmuwan Umbrella.
Secara teori, peralihan seperti ini bisa merusak suasana seperti ketika terjadi di film Street Fighter. Namun, dalam konteks filmnya, humor tersebut masih terasa sebagai bagian dari dunia yang sejak awal dibangun Cregger.
Komedi gelap di bagian akhir pun terasa sebagai eskalasi dari tone yang sudah diperkenalkan sebelumnya, bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul hanya untuk memancing tawa.
Sementara itu, Street Fighter mencoba meramu banyak hal sekaligus: drama masa lalu Ryu dan Ken, kisah Chun-Li, ancaman Shadaloo, serta komedi yang kadang terasa seperti American Pie.
Ada momen ketika humor tersebut berhasil. Namun, ada pula adegan ketika lelucon terasa mengganggu konflik emosional yang sedang dibangun.
Masalahnya bukan karena Street Fighter terlalu konyol. Justru absurditas merupakan bagian dari daya tarik franchise ini. Persoalannya adalah bagaimana film tersebut menentukan kapan harus membiarkan momen seriusnya bernapas.
Pemenang: Resident Evil.