8 Pertarungan Terbaik di Street Fighter (2026)! Nomor 1 Unik!

Street Fighter (2026) menghadirkan duel beragam, dari baku hantam kocak di klub malam hingga konfrontasi emosional Ryu dan Ken.
Perjalanan Ryu menghadapi Dark Hado menjadi benang merah penting dalam beberapa pertarungan utama.
Ken menemukan kekuatannya sendiri
SPOILER ALERT!
Street Fighter (2026) sudah tayang di Indonesia sejak Rabu ini, mendahului perilisan di Amerika Serikat.
Sudah nonton filmnya?
Film ini menyajikan sejumlah duel menarik, mulai dari pertarungan kocak yang melibatkan banyak petarung hingga konfrontasi emosional yang menentukan nasib karakter utamanya.
Dari semua pertarungan tersebut, mana yang paling saya suka? Berikut daftarnya!
Table of Content
8. Ryu versus Blanka

Blanka diperankan Jason Momoa. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter) Di Street Fighter (1994), penyajian Blanka itu... sangat ajaib. Dan mengecewakan.
Blanka versi Jason Momoa adalah versi lebih setia. Termasuk aspek dia adalah pria liar yang sebenarnya polos.
Dan melihat kelincahan Blanka menghadapi teknik Ryu termasuk hiburan tersendiri di film ini.
7. Ken vs. Dhalsim

Ken mengerahkan Shoryuken melawan Dhalsim. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter) Dhalsim pada dasarnya menerima permintaan Guile untuk membantu Ken. Jadi, ketika keduanya bertarung, duel ini terasa lebih dari sekadar adu kemampuan fisik. Dhalsim juga berusaha memberikan bimbingan spiritual kepada Ken, yang saat itu sedang resah dan bergulat dengan berbagai persoalan dalam dirinya.
Saya sudah menyukai penyajian Dhalsim sejak pertarungan di klub malam. Duel ini semakin meyakinkan saya bahwa Vidyut Jammwal berhasil menghadirkan Dhalsim yang bukan sekadar karikatur, meskipun karakternya harus menerima kekalahan. Ia benar-benar terasa bukan hanya petarung jago, tapi juga sosok yang paham pada gejolak diri manusia.
Ken sendiri juga mengalami perkembangan emosional yang menarik. Pertarungan ini terasa seperti langkah awalnya untuk memperbaiki hubungannya dengan Ryu.
6. Chun-Li vs. Vega dan Juli

Dok. Legendary Pictures (Street Fighter, Chun-Li Hundred Lightning Kick) Salah satu hal yang kurang saya sukai dari film ini adalah minimnya sorotan terhadap para petarung perempuan dalam baku hantam.
Cammy kurang mendapatkan momen pertarungan. Juli, yang diperankan Rayna Vallandingham (seorang praktisi bela diri sungguhan) juga hanya mendapat porsi aksi yang terbatas dan lebih sering terlihat marah dan mengancam di latar belakang.
Bahkan Chun-Li, yang dikenal sebagai Strongest Woman in the World dalam game, tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.
Namun, setidaknya Chun-Li mendapat momen untuk unjuk gigi dalam duel ini. Vega dan Juli mengeroyoknya, tetapi Chun-Li mampu mengerahkan berbagai jurus andalannya, terutama Spinning Bird Kick, untuk membalikkan keadaan.
5. Evil Ryu vs. Akuma

Akuma diperankan Roman Reigns. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter) Akuma akhirnya muncul menjelang penghujung film dan memutuskan untuk menghadapi Ryu.
Dalam pertarungan tersebut, Ryu terdesak hingga akhirnya membiarkan dirinya sepenuhnya ditelan Dark Hado dan berubah menjadi Evil Ryu.
Bagi saya, kelemahan duel ini terletak pada penyajiannya yang terlalu mengandalkan efek visual untuk menggambarkan kedahsyatan Akuma dan Evil Ryu. Akibatnya, koreografinya terasa kurang solid dibandingkan sejumlah pertarungan lain dalam film ini.
Meski begitu, duel ini tetap menjadi salah satu pertarungan terbaik Street Fighter (2026). Pertemuan dua petarung dengan kekuatan luar biasa ini juga menjadi titik penting dalam perjalanan Ryu menghadapi sisi gelap dirinya sendiri.
4. Pertarungan di klub malam

Zangief berhadapan dengan Dan. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter) Lucunya, ini bahkan bukan pertarungan resmi!
Serangkaian kejadian konyol membuat sejumlah petarung akhirnya terlibat baku hantam. Namun, justru inilah momen yang membuat saya girang dan berpikir, "Oh yes. Ini adalah film Street Fighter!"
Dhalsim dengan tubuh lenturnya yang abnormal menghadapi cakar besi Vega. Zangief membanting Dan sebelum kemudian berhadapan dengan Ken.
Guile melayangkan tendangan kepada Vega, sementara Balrog mengerahkan teknik tinju kotornya untuk menghajar Ken.
Koreografinya mantap, dan komedinya pun berhasil di sejumlah bagian. Para petarung tidak hanya mengandalkan kemampuan bertarung masing-masing, tetapi juga memperlihatkan gaya khas yang membuat mereka ikonis dalam game.
Pertarungan ini mungkin hanya menjadi hidangan pembuka sebelum turnamen dimulai. Namun, penyajiannya sudah terasa seperti hidangan utama!
3. Evil Ryu vs. Dan, Chun-Li, dan Ken

Evil Ryu lepas. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter) Evil Ryu berhasil mengalahkan Akuma. Namun, Ryu sudah sepenuhnya dikuasai Dark Hado sehingga justru menjadi ancaman bagi orang-orang di sekitarnya, termasuk Chun-Li, Ken, dan kemudian Dan.
Pertarungan ini menarik karena ada banyak hal penting yang terjadi sekaligus.
Dan membuktikan bahwa dirinya benar-benar peduli kepada Ken. Sepanjang film, ia dituding sebagai lintah yang hanya memanfaatkan Ken. Namun, ketika situasi memburuk, Dan kembali mengenakan gi merah mudanya dan datang untuk menolong. Ia memang licik dan oportunistis, tetapi bukan berarti ia sama sekali tidak punya kepedulian.
Kekuatan Ryu menjadi ancaman yang sulit dibendung. Chun-Li maupun Ken kesulitan menghadapi Evil Ryu, yang sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Ken akhirnya menemukan kekuatannya sendiri. Sepanjang film, ia dihantui rasa rendah diri karena terus membandingkan dirinya dengan Ryu. Namun, pada akhirnya ia mampu mengerahkan Hadoken versinya sendiri yang membara untuk mengalahkan Evil Ryu.
Komedi ketika Ken berusaha membangunkan Ryu mungkin sedikit mengganggu momentum adegannya. Namun, secara keseluruhan, pertarungan ini tetap memikat karena menjadi konklusi bagi konflik terpenting yang dibangun sepanjang film.
Ada satu detail yang membuat kemenangan Ken terasa semakin memuaskan. Dalam flashback, kita sudah beberapa kali diperlihatkan momen ketika Ryu pertama kali berhasil mengerahkan Hadoken, sementara Ken hanya bisa berbalik dan tertunduk.
Karena itu, melihat Ken akhirnya mengerahkan Hadoken ketika ia benar-benar membutuhkannya terasa pas. Ini bukan sekadar kemenangan atas Evil Ryu, melainkan juga momen ketika Ken membuktikan bahwa ia mampu menemukan kekuatannya sendiri.
2. Ryu dan Ken di tengah hujan

Ryu bersiap mengerahkan Hadoken melawan Ken. (Dok. Legendary Pictures, Paramount Pictures/Street Fighter) Saya cukup terkejut dengan penempatan adegan ini.
Kalau hanya melihat trailernya, kamu mungkin mengira adegan Ryu dan Ken berpisah ini merupakan bagian dari masa lalu mereka. Namun, setelah melihat bagaimana semua flashback disajikan dalam format anime, saya mulai curiga bahwa adegan tersebut sebenarnya bukan kilas balik.
Dan ternyata benar!
Adegan ini justru terjadi setelah hubungan Ryu dan Ken sempat membaik. Tapi... Ryu akhirnya mengakui bahwa ia menyabotase Ken dengan merusak undangannya ke World Warriors Tournament pertama karena merasa iri kepadanya. Ken pun menghajarnya.
Di satu sisi, Ken murka karena menyadari bahwa selama ini ia hidup dalam keraguan dan rasa rendah diri akibat perbuatan sahabatnya sendiri. Sementara itu, Ryu merasa dirinya harus menang karena masih memiliki urusan yang belum selesai dengan Akuma.
Duel ini terasa emosional karena bukan sekadar pertarungan antara dua petarung kuat. Ini adalah konfrontasi antara dua sahabat yang menyimpan luka, kecemburuan, dan penyesalan selama bertahun-tahun.
Keduanya mengerahkan teknik-teknik andalan mereka, tetapi yang membuat adegan ini istimewa adalah bobot emosional di balik setiap pukulan dan serangan.
Dan yang paling penting bagi saya: momen ini dibiarkan bernapas tanpa dirusak oleh humor yang tidak perlu.
1. Sagat vs. Ryu
Oh yea, pilihan nomor satu ini mungkin cukup mengejutkan!
Pertarungan ini merupakan bagian dari flashback Ryu sehingga disajikan dalam format anime, bukan live-action. Namun, justru inilah duel yang paling memuaskan bagi saya.
Adegan ini menyajikan semua yang saya inginkan dari pertarungan Ryu melawan Sagat di masa lalu.
Sagat menunjukkan dominasinya. Ia mampu mengungguli Ryu dengan telak, memperlihatkan betapa besarnya perbedaan kemampuan mereka saat itu.
Dark Hado Ryu akhirnya bangkit. Ryu berhasil membalikkan keadaan, tetapi kemenangan tersebut datang dengan konsekuensi mengerikan: ia melukai Sagat dengan sangat parah.
Kemenangan yang tidak membanggakan. Ryu tidak merasa puas atas keberhasilannya. Ia justru dihantui kenyataan bahwa dirinya menang dengan menggunakan kekuatan gelap yang tidak ia sukai.
Semua itu disajikan melalui animasi yang memikat. Reaksi Gouken dan Ken juga membuat adegannya terasa semakin lengkap, karena kita tidak hanya menyaksikan sebuah pertarungan, tetapi juga melihat bagaimana peristiwa tersebut memengaruhi orang-orang di sekitar Ryu.
Bagi saya, duel ini berhasil merangkum konflik utama Ryu: keinginannya untuk menjadi petarung yang lebih kuat, sekaligus ketakutannya terhadap kekuatan yang bisa membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Dan format anime justru membuat adegan ini terasa semakin cocok. Kita mendapatkan pertarungan yang dramatis, ekspresif, dan dekat dengan nuansa Street Fighter yang dikenal lewat berbagai adaptasi animasinya.




















