Sejak menit awal, I Was a Stranger menempatkan penonton tepat di tengah kekacauan. Tidak ada pengantar panjang atau konteks historis yang dijelaskan satu per satu. Film ini memilih untuk langsung menenggelamkan kita ke dalam situasi genting yang dialami para tokohnya, seolah ingin mengatakan bahwa perang dan krisis tidak pernah memberi waktu untuk bersiap.
Pendekatan ini membuat pembukaan film terasa menekan. Ketegangan dibangun bukan lewat ledakan atau adegan aksi besar, melainkan lewat rasa panik, kebingungan, dan ketidakpastian. Kamera bergerak mengikuti karakter dengan jarak dekat, menciptakan kesan bahwa penonton ikut terjebak bersama mereka.
Pilihan ini juga memperlihatkan visi sutradara Brandt Andersen yang tidak tertarik pada glorifikasi tragedi. Ia lebih fokus pada dampak emosional yang langsung dirasakan manusia biasa. Perang di sini bukan latar heroik, melainkan kekuatan destruktif yang merampas rasa aman dan identitas.
Meski efektif, pembukaan yang begitu intens bisa terasa melelahkan bagi sebagian penonton. Namun justru dari sinilah film menetapkan nadanya. I Was a Stranger ingin dilihat sebagai pengalaman, bukan sekadar cerita yang ditonton dengan jarak aman.
