Godzilla Minus Zero (dok. Toho/Godzilla Minus Zero)
Meskipun memiliki kesempatan untuk mewujudkan rencana balas dendamnya, Murakami akhirnya mengurungkan niat tersebut.
Sebelum pertarungan terakhir melawan Ghidorah, Kenji Noda ternyata sempat menemui Murakami secara pribadi. Noda menyadari bahwa teknologi Resonance Wave Amplifier berpotensi menjadi senjata yang sangat berbahaya apabila digunakan untuk kepentingan balas dendam.
Ia kemudian mengingatkan Murakami bahwa membalas kehancuran Hiroshima dengan menghancurkan kota lain hanya akan menciptakan siklus peperangan yang tidak pernah berakhir. Pada akhirnya, perkataan Noda berhasil membuat Murakami mempertimbangkan kembali tindakannya. Ia memilih meninggalkan ambisi balas dendam dan menghancurkan hasil penelitiannya agar teknologi tersebut tidak disalahgunakan.
Menariknya, keputusan Murakami ini juga berkaitan dengan pesan utama Godzilla Minus Zero.
Dalam wawancara dengan The Playlist pada 6 November 2026, Takashi Yamazaki menjelaskan bahwa dirinya ingin menggambarkan perang sebagai siklus kemarahan dan balas dendam yang terus memicu penderitaan berikutnya.
Menurut Yamazaki, sejarah manusia dipenuhi rangkaian konflik yang muncul akibat dendam dari generasi sebelumnya. Melalui keputusan Murakami, ia ingin menunjukkan bahwa siklus tersebut sebenarnya masih bisa dihentikan apabila seseorang bersedia melepaskan kebenciannya.
Dengan demikian, adegan Godzilla menghancurkan New York bukan sekadar visual spektakuler untuk memperlihatkan kehancuran yang bisa ditimbulkan monster tersebut. Adegan itu juga menggambarkan betapa berbahayanya dendam manusia ketika kekuatan sebesar Godzilla berada di tangan seseorang yang ingin membalas masa lalunya.