Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Pennywise
Pennywise (dok. New Line Cinema/ It Chapter One)

Intinya sih...

  • Pennywise adalah sumber utama kebusukan di Derry, tidak ada entitas lain yang berdiri di baliknya.

  • Vecna terasa lebih manusiawi dan tragis, sementara Pennywise tidak pernah bisa dipahami sepenuhnya.

  • Pennywise lebih banyak menyebabkan dampak fatal ke grup tokoh utama dibanding Vecna di Stranger Things.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tahun 2025, kita disuguhi dua kisah yang secara garis besar tampak mirip: sekelompok anak muda menghadapi teror yang seharusnya jauh di luar kapasitas mereka.

-IT: Welcome to Derry membawa kita kembali ke Derry tahun 1962, era sebelum The Losers Club pernah ada.

-Stranger Things memasuki babak pamungkasnya di Season 5, dengan konfrontasi terakhir melawan Vecna.

Keduanya punya monster ikonik. Keduanya melibatkan trauma, kehilangan, dan ketakutan anak-anak.

Namun, meski sama-sama “monster yang akhirnya didesak bocah”, Pennywise tetap terasa lebih seram dibanding Vecna.

Kenapa?

1. Monster yang berada di balik segalanya versus monster yang terasa masih di bawah monster lain

Vecna di Stranger Things season 4 (dok. Netflix/Stranger Things)

Pennywise adalah sumber utama dari hampir seluruh kebusukan di Derry.

Bahkan ketika ia sedang “terlelap”, jejak kehadirannya tetap terasa: kekerasan yang dibiarkan, anak-anak yang menghilang, dan orang dewasa yang memilih menutup mata. Teror di Derry tidak pernah benar-benar berhenti, ia hanya menunggu siklus berikutnya.

Tidak ada entitas yang berdiri di balik Pennywise. Ia bukan pion, bukan alat, dan bukan pelayan dari kekuatan lain. Pennywise adalah pusat dari lingkaran kengerian itu sendiri.

Sebaliknya, Vecna justru terasa sebagai monster yang masih berada di bawah bayangan yang lebih besar.

Sepanjang Stranger Things, Vecna berulang kali memosisikan dirinya sebagai pengendali, bahkan meyakini bahwa Mind Flayer hanyalah perpanjangan kehendaknya. Namun yang tersaji hingga akhir justru menunjukkan ironi pahit: keyakinan itu lebih mirip kebohongan yang ia ucapkan pada dunia, dan pada dirinya sendiri.

Ketika dihadapkan pada memori pertemuan pertamanya dengan Mind Flayer, terlihat jelas bahwa Henry bukan sosok dominan, melainkan sosok yang ketakutan.. Namun bahkan saat memori itu diputar ulang, Vecna tetap membantah klaim Will bahwa Mind Flayer mengendalikannya. Ia bersikeras bahwa hubungan mereka setara.

Di situlah perbedaannya menjadi sangat kontras.

Pennywise adalah dalang. Vecna adalah boneka, yang mengira dirinya berdiri sejajar dengan dalangnya.

Dan ilusi superioritas itulah yang, secara tidak langsung, justru membuat Vecna terasa lebih “kecil” dibanding Pennywise.

2. Vecna bisa dipahami, Pennywise tidak

Pennywise (dok. New Line Cinema/ It Chapter One)

Vecna adalah monster yang, sekejam apa pun aksinya, masih bisa kita pahami secara psikologis. Di balik sosok Vecna, masih ada bayang-bayang Henry Creel.

Horor Vecna lahir dari emosi yang sangat manusiawi, diperkuat oleh pengaruh Mind Flayer. Itu membuat Vecna tragis. Kita bisa menelusuri sebab-akibatnya, memahami kemarahannya, bahkan (di level tertentu) mengerti kenapa ia menjadi seperti sekarang.

Namun justru karena itu, Vecna menjadi terbaca.

Berbeda total dengan Pennywise.

Pennywise jauh lebih menakutkan karena tidak pernah bisa dipahami sepenuhnya. Bahkan ketika kita “tahu” bahwa ia adalah makhluk kosmik dari luar realitas, pengetahuan itu tidak memberi rasa aman... justru sebaliknya: bikin Pennywise makin horor.

Pengetahuan tidak memperkecil ancaman Pennywise. Ia hanya menegaskan satu hal: manusia tidak relevan dalam skala keberadaannya.

Welcome to Derry bahkan menegaskan lapisan horor tambahan: wujud badut ikonis Pennywise bukanlah identitas aslinya. Sosok itu ia adopsi dari badut populer bernama asli Bob Gray, sebuah topeng yang dipinjam dari budaya manusia.

Artinya, Pennywise tidak “menjadi” badut karena itu dirinya. Ia memakai badut karena itu bentuk paling efektif untuk menjebak mangsanya.

Dia bukan monster dengan wajah. Dia adalah sesuatu yang memakai wajah.

Dan di situlah letak horor sejatinya: Vecna adalah manusia yang berubah menjadi monster. Pennywise adalah monster yang berpura-pura menjadi manusia, hanya agar lebih mudah memakan mereka.

3. Dampak mengerikan Pennywise ke tokoh utama lebih dieksplorasi

Pennywise (dok. New Line Cinema/ It Chapter One)

Georgie Denbrough, penjahat seperti Patrick Hockstetter, Stan Uris yang dengan bijak memutuskan lebih baik dirinya mati ketimbang melawan Pennywise saat dirinya tidak siap mental, Eddie Kaspbrak...

Pennywise menjatuhkan banyak korban ternama dalam konfliknya dengan The Losers Club. Bahkan yang selamat pun masih menyimpan luka batin di dalam diri mereka.

Pennywise bukan hanya membunuh. Ia menghancurkan kesinambungan hidup para korban dan penyintasnya. Bahkan mereka yang selamat tetap membawa trauma seumur hidup.

Pendekatan ini bahkan ditegaskan ulang di IT: Welcome to Derry.

Di episode awal, penonton sempat mengira Teddy Uris, Susie Malkin, dan Phil Malkin akan menjadi pusat cerita, tokoh-tokoh yang tampak “aman” secara naratif. Namun dugaan itu langsung dipatahkan: mereka justru menemui ajal secara cepat dan menyakitkan.

Pesannya jelas: tidak ada karakter yang benar-benar aman di dunia Pennywise.

Bandingkan dengan Vecna di Stranger Things.

Korban Vecna memang banyak, dan kematiannya sering brutal. Namun secara mengejutkan, dampaknya terhadap para tokoh utama terasa kurang... impresif?

Terutama di season 5 dimana pada akhirnya banyak nama penting terasa seperti dilindungi oleh plot armor. Vecna jadi terasa kurang tajam taringnya.

4. Pengungkapan menakutkan di IT: Welcome to Derry soal Pennywise

Pennywise (dok. Warner Bros. Pictures/It)

IT: Welcome to Derry lalu memberi lapisan horor ekstra ke Pennywise.

Meski latar filmnya 1962, Pennywise ternyata memandang masa lalu, masa sekarang, dan masa depan terjadi bersamaan. Jadi dia sudah melihat kematiannya, bahkan sebelum Marge Truman (Marge Tozier, ibu Richie) menikah dan punya anak!

Ini memberi ketidakpastian. Ini membuat kisah prekuel yang kita lihat bukan benar-benar prekuel, karena bisa saja Pennywise memanfaatkan pengetahuan masa depannya untuk menyebabkan kematian dini orang tua tokoh penting.

Dia gagal melakukan ini di IT: Welcome to Derry, tapi dengan season berikutnya dikabarkan akan mundur lagi ke 1930 saat Pembantaian Geng Bradley... bagaimana kalau Pennywise hanya perlu berhasil sekali untuk menghancurkan timeline yang kita kenal? Bagaimana kalau dia tinggal mencoba dengan terus mundur semakin jauh?

Sementara itu Vecna, seseram apapun dia, sejauh ini terasa lebih linear waktunya. Ketika Joyce akhirnya menghabisi dia di season 5 kita bisa merasakan kalau ya itulah akhirnya.

5. Monster yang sudah ada sejak awal versus monster dari season 4

Vecna (dok. Netflix/Stranger Things)

Salah satu masalah terbesar dari Vecna adalah momentum naratifnya.

Vecna baru benar-benar diperkenalkan di Season 4. Namun setelah debut itu, baru kita tahu dampak Vecna ke cerita sebenarnya sangat besar.

Secara konsep, Vecna menjadi sosok yang penting, personal terikat langsung dengan trauma karakter utama.

Namun ia juga terasa diperkenalkan terlambat, lalu mendadak diposisikan sebagai pusat dari hampir semua horor sebelumnya.

Bandingkan dengan Pennywise.

Sejak novel IT, sejak adaptasi film, hingga sejak episode-episode awal IT: Welcome to Derry, Pennywise selalu ditegaskan sebagai sumber utama teror.

Tidak ada pengungkapan “mendadak” yang mencoba memusatkan ulang ancaman. Tidak ada kebutuhan untuk mengoreksi masa lalu.

Apapun versi kisah IT yang kita konsumsi, satu hal selalu konsisten: Pennywise sudah ada sejak awal, dan akan selalu menjadi pusat kengerian cerita.

Itulah mengapa ketegangan terhadap Pennywise terasa berbeda.

Penonton tidak penasaran apakah dia penting, itu sudah jelas. Yang membuat penasaran adalah: bagaimana sesuatu yang terasa sedemikian di luar nalar ini bisa dikalahkan?

Editorial Team