Zoro menguasai Enma (dok. Toei Animation/One Piece)
Lucunya, kalau dibandingkan dengan Enma, Sandai Kitetsu malah jadi seperti pedang yang “baik-baik saja”. Jika Kitetsu itu sekedar liar, maka Enma adalah bilah yang tanpa kompromi. Begitu dilepaskan, Enma memaksa penggunanya untuk mengeluarkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, tanpa peduli apakah tubuh itu sanggup menanggungnya atau tidak.
Dampaknya langsung terlihat. Saat pertama kali menghunus Enma, tangan Zoro sampai tampak menyusut, terkuras oleh aliran Haki yang ditarik paksa oleh pedang tersebut. Pada awalnya, Zoro bentrok keras dengan senjatanya, ia mencoba menahan dan mengendalikan kekuatan yang disedot Enma, supaya dia tidak tumbang duluan.
Namun titik baliknya datang saat Zoro mencapai pencerahan penting. Alih-alih terus mengekang Enma, ia memilih untuk membiarkan pedang itu menyerap energinya dengan bebas, meski sadar sepenuhnya bahwa keputusan itu bisa berujung kematian. Di momen itulah, hubungan mereka berubah: bukan lagi tarik-menarik, melainkan kepercayaan yang ekstrem.
Kini, Zoro terasa jauh lebih selaras dengan Enma. Setiap tebasannya menjadi kuat, tajam, dan berbahaya, bukan karena Enma jinak, melainkan karena Zoro telah menerima tuntutan pedang itu sepenuhnya. Enma bukan sekadar senjata paling liar yang pernah ia pegang, tetapi ujian hidup yang memaksa Zoro untuk memahaminya.
Dan Zoro kini terasa telah diterima Enma.