Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
cuplikan Zoro dengan pedang Enma (dok. Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)
cuplikan Zoro dengan pedang Enma (dok. Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)

Intinya sih...

  • Wado Ichimonji (paling patuh): Pedang yang kuat, tajam, dan reliable. Tidak memberontak, stabil, dan selalu siap digunakan di momen genting.

  • Shusui: Bilah hitam yang tahan banting, stabil, dan bisa diandalkan. Terasa sebaiknya dikembalikan ke Wano untuk diletakkan di makam Ryuma.

  • Yubashiri: Pedang "baik" yang ringan dan nyaman digunakan. Hancur akibat kekuatan karat milik Shu, Angkatan Laut.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sepanjang perjalanannya, Roronoa Zoro telah menggunakan berbagai pedang. Setiap bilah memiliki sifat, kehendak, dan tuntutannya sendiri. Ada pedang yang patuh dan stabil, ada pula yang liar dan berbahaya, hingga memaksa Zoro beradaptasi atau mempertaruhkan nyawanya.

Jika pedang-pedang yang pernah digunakan Zoro diurutkan bukan berdasarkan kekuatan atau kelas Meito, melainkan berdasarkan sifat dan tingkat “perlawanan” terhadap pemiliknya, seperti apa susunannya?

Dengan nomor paling bawah sebagai pedang paling patuh dan bisa diandalkan, hingga nomor teratas sebagai pedang paling liar dan menuntut, inilah ranking pedang Zoro berdasarkan sifatnya.

Mari kita mulai!

5. Wado Ichimonji (paling patuh)

cuplikan Zoro dengan pedang Wado Ichimonji (dok. Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)

Wado Ichimonji telah menemani Roronoa Zoro sejak hari ia diserahkan kepadanya di hari pemakaman Kuina. Sejak saat itu, pedang ini bukan sekadar senjata, melainkan penanda awal jalan pedang Zoro, sekaligus pengikat janji yang membentuk seluruh hidupnya.

Secara performa, Wado Ichimonji nyaris tanpa cela. Pedangnya itu kuat, tajam, dan luar biasa reliable, bahkan mampu bertahan dari tebasan Yoru milik Dracule Mihawk. Tidak ada sifat memberontak, tidak ada tuntutan brutal, dan tidak pernah memberi kejutan berbahaya pada pemiliknya. Wado selalu ada, selalu stabil, dan selalu siap digunakan di momen paling genting.

Namun justru di situlah muncul pertanyaan menarik.

Apakah Wado Ichimonji terasa “tenang” karena Zoro telah sepenuhnya menyatu dengannya setelah belasan tahun bersama?

Ataukah sebaliknya, Zoro belum benar-benar menggali dan menantang pedang ini?

4. Shusui

Roronoa Zoro pemilik dari pedang Shusui (dok. Toei Animation/One Piece)

Shusui adalah salah satu dari hanya dua pedang hitam permanen yang diketahui di dunia One Piece. Sebagai hasil perjalanan panjang Ryuma, pedang ini tampil nyaris sempurna: tahan banting, stabil, sangat kuat, dan luar biasa bisa diandalkan. Tidak mengherankan jika, sejak menerimanya, Zoro kerap menjadikan Shusui sebagai andalan.

Shusui terasa seperti bilah yang “sudah selesai”. Tidak menuntut, tidak menguji, dan tidak memaksa pemiliknya berubah. Ia hanya menjalankan fungsinya dengan reliabilitas tinggi karena Ryuma telah membentuknya dengan sempurna.

Namun justru karena itu, Shusui terasa memang sebaiknya dikembalikan ke Wano untuk diletakkan di makam Ryuma.

Proses menjadi pedang bilah hitam itu terasa seperti puncak perjalanan antara pendekar pedang dengan senjatanya. Shusui tadinya bukan bilah hitam namun menjadi begitu seiring petualangannya dengan Shusui.

Jadi Zoro mungkin sebaiknya memang mencoba mencapai pedang bilah hitam dengan usahanya sendiri, bukan mengambil pencapaian orang lain.

3. Yubashiri

Pedang Yubashiri yang dihancurkan oleh angkatan laut (dok. Toei Animation/One Piece)

Yubashiri adalah salah satu pedang “baik” yang pernah dimiliki Zoro. Tidak ekstrem, tidak terkutuk, tapi seimbang dan nyaman digunakan. Saat mengujinya di Whisky Peak, Zoro bahkan mengomentari bahwa Yubashiri adalah pedang yang ringan dan enak di tangan, sebuah bilah yang langsung terasa cocok tanpa perlu adaptasi menyakitkan kayak Enma atau perlu diyakinkan kayak Sandai Kitetsu.

Sayangnya, perjalanan Yubashiri terhenti terlalu cepat. Pedang ini hancur akibat kekuatan karat milik Shu, seorang perwira Angkatan Laut. Bukan karena kalah dalam duel teknik, melainkan karena keadaan yang benar-benar di luar kendali Zoro.

Dan di situlah muncul pertanyaan menarik. Jika Yubashiri selamat dari Shu, akankah ia bertahan hingga hari ini? Ataukah, sebagai pedang yang terlalu “aman”, ia pada akhirnya tetap akan tersingkir, bukan karena lemah, tetapi karena tidak menuntut Zoro untuk berubah?

2. Sandai Kitetsu

Sandai Kitetsu (dok. Toei Animation/One Piece)

Di titik inilah kita mulai masuk ke daftar pedang yang benar-benar “bermasalah”. Bahkan sejak pertama kali mengujinya, Sandai Kitetsu sudah menuntut taruhan ekstrem. Pedang ini dikenal terkutuk, dan Zoro menanggapinya dengan cara paling Zoro: mempertaruhkan lengannya sendiri. Taruhan itu ia menangkan, bukan karena keberuntungan semata, melainkan karena keberanian untuk menerima konsekuensi sepenuhnya jika pedang itu menolaknya.

Sifat Sandai Kitetsu kemudian terlihat jelas di Whisky Peak. Pedang ini mampu memotong bersih palu batu milik bounty hunter Baroque Works, sebuah tebasan yang terjadi bukan karena kehendak sadar Zoro. Di momen itu, Zoro menyadari sesuatu yang penting: pedang legendaris seharusnya hanya memotong ketika pemiliknya memang berniat memotong. Sejak saat itu, Sandai Kitetsu jelas bukan bilah yang “jinak”.

Namun justru di situlah letak keunikannya. Meski liar dan berbahaya, Sandai Kitetsu berujung loyal dan kokoh. Secara teori, sebagai Kitetsu generasi ketiga, pedang ini seharusnya berada di bawah Nidai dan Shodai Kitetsu kualitasnya. Tapi di tangan Zoro, Sandai Kitetsu dibawa melintasi Grand Line hingga New World, bahkan diadu langsung dengan sosok seperti King dari Bajak Laut Kaido, dan tidak goyah.

Sandai Kitetsu bukan pedang yang mudah. Ia menuntut kewaspadaan, kontrol, dan kesiapan untuk dibalas oleh bilah itu sendiri. Namun bagi Zoro, justru pedang semacam inilah yang layak dibawa sejauh itu, pedang yang tidak tunduk begitu saja, tapi mau berjalan bersamanya selama ia mampu menahan risikonya.

1. Enma (paling liar)

Zoro menguasai Enma (dok. Toei Animation/One Piece)

Lucunya, kalau dibandingkan dengan Enma, Sandai Kitetsu malah jadi seperti pedang yang “baik-baik saja”. Jika Kitetsu itu sekedar liar, maka Enma adalah bilah yang tanpa kompromi. Begitu dilepaskan, Enma memaksa penggunanya untuk mengeluarkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, tanpa peduli apakah tubuh itu sanggup menanggungnya atau tidak.

Dampaknya langsung terlihat. Saat pertama kali menghunus Enma, tangan Zoro sampai tampak menyusut, terkuras oleh aliran Haki yang ditarik paksa oleh pedang tersebut. Pada awalnya, Zoro bentrok keras dengan senjatanya, ia mencoba menahan dan mengendalikan kekuatan yang disedot Enma, supaya dia tidak tumbang duluan.

Namun titik baliknya datang saat Zoro mencapai pencerahan penting. Alih-alih terus mengekang Enma, ia memilih untuk membiarkan pedang itu menyerap energinya dengan bebas, meski sadar sepenuhnya bahwa keputusan itu bisa berujung kematian. Di momen itulah, hubungan mereka berubah: bukan lagi tarik-menarik, melainkan kepercayaan yang ekstrem.

Kini, Zoro terasa jauh lebih selaras dengan Enma. Setiap tebasannya menjadi kuat, tajam, dan berbahaya, bukan karena Enma jinak, melainkan karena Zoro telah menerima tuntutan pedang itu sepenuhnya. Enma bukan sekadar senjata paling liar yang pernah ia pegang, tetapi ujian hidup yang memaksa Zoro untuk memahaminya.

Dan Zoro kini terasa telah diterima Enma.

Editorial Team