Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Luffy dan Blackbeard karakter One Piece (dok. Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)
Luffy dan Blackbeard karakter One Piece (dok. Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)

Intinya sih...

  • Luffy dan Kurohige sama-sama egois, namun dengan tujuan yang berbeda. Luffy bertindak karena emosi dan insting, sementara Kurohige bergerak dengan perhitungan jangka panjang.

  • Chaos ala Luffy membebaskan orang lain dari belenggu, seperti ketika ia meninju Saint Charlos di Sabaody. Sedangkan chaos ala Kurohige cenderung merusak dan meninggalkan kehampaan.

  • Imu adalah kebalikan dari Luffy dan Kurohige, mewakili keteraturan absolut yang dibangun di atas penindasan. Final Saga akan menampilkan pertarungan antara dua jenis chaos melawan kendali absolut.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak pergerakan Monkey D. Luffy dan Marshall D. Teach (Kurohige) berujung pada disrupsi besar terhadap tatanan dunia One Piece.

Jika kita coba pikir baik-baik, kondisi dunia One Piece pasca time skip memang tak bisa dilepaskan dari aksi dua nama ini.

Kerajaan runtuh. Keseimbangan kekuatan berubah. Figur-figur yang dulu tak tergoyahkan tersingkir.

Dalam arti tertentu, keduanya sama-sama pembawa chaos.

Namun di situlah menariknya. Meski dampaknya sama-sama menghancurkan status quo, jenis chaos yang diciptakan Luffy dan Kurohige sangat berbeda, baik dari niat, cara, maupun konsekuensi jangka panjangnya.

Yang satu merobek dunia karena ia menolak dikekang.

Yang lain merusaknya.

Lalu, apa sebenarnya perbedaan mendasar antara chaos ala Luffy dan chaos ala Kurohige?

Di mana titik persamaan mereka, dan di mana garis pemisahnya?

Mari kita bedah satu per satu.

1. Lucunya, kalau kita sederhanakan mereka sebenarnya sama-sama punya aspek egois

Duel besar Luffy selanjutnya akan melawan Blackbeard sampai mati. (Fiction Horizon)

Menariknya, baik Monkey D. Luffy maupun Kurohige sebenarnya bukan pembawa perubahan karena visi besar tentang dunia yang lebih adil. Mereka tidak bergerak seperti Monkey D. Dragon dan Pasukan Revolusioner, yang sejak awal memang memiliki agenda ideologis untuk merombak tatanan dunia.

Jika aksi Luffy atau Kurohige menjatuhkan negara, mengguncang struktur kekuasaan, atau mengubah keseimbangan global, itu lebih sering merupakan efek samping dari kehendak pribadi mereka, bukan tujuan utamanya.

Namun di sinilah letak perbedaannya.

Luffy bertindak terutama karena emosi dan insting. Ia bergerak karena tidak menyukai musuhnya, dan biasanya karena musuh itu menyakiti orang-orang yang ia anggap teman. Luffy hampir tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi setelah ia menang. Ia tidak merancang masa depan... ia hanya memastikan ketidakadilan di depannya dihentikan sekarang juga.

Sebaliknya, Kurohige bergerak dengan perhitungan jangka panjang. Setiap langkahnya terasa sebagai bagian dari rencana besar yang masih disembunyikan. Namun egoisme Kurohige memiliki bentuk yang jauh lebih dingin. Jika Luffy sering melawan demi melindungi sahabat, Kurohige justru rela mengorbankan siapa pun (termasuk orang yang pernah ia hormati seperti Shirohige) demi tercapainya rencana tersebut.

Singkatnya:

-Luffy egois karena ia mengikuti hatinya tanpa memikirkan akibat dunia.

-Kurohige egois karena ia menempatkan dunia sebagai alat bagi tujuannya sendiri.

Dampaknya sama-sama menghancurkan tatanan lama.

Namun arah kehancurannya… sangat berbeda.

2. Luffy: chaos yang membebaskan

momen Luffy vs Saint Charlos dari anime One Piece Episode 396 (dok. Toei Animation)

Salah satu contoh paling ikonik dari chaos ala Luffy adalah ketika ia meninju Saint Charlos di Sabaody. Tidak ada perhitungan. Tidak ada strategi. Jelas bukan tindakan terencana, dan akibatnya, Bajak Laut Topi Jerami langsung berada dalam bahaya besar.

Namun motif Luffy saat itu sangat sederhana: Charlos menembak Hatchan. Itu saja sudah cukup. Status Tenryuubito tidak berarti apa pun baginya.

Chaos yang tercipta memang brutal. Namun efeknya justru membebaskan. Kekacauan itu, ditambah ledakan Haoshoku Haki Rayleigh setelahnya, membuka jalan bagi Camie dan para budak untuk lepas dari penindasan. Bahkan, salah satu budak yang terbebas adalah Stansen, yang kelak bergabung dengan New Giant Warrior Pirates di bawah Hajrudin, dan akhirnya bertemu kembali dengan Luffy di Elbaph.

Dampaknya tidak berhenti di situ.

Dalam flashback Kuma di Egghead arc, terungkap bahwa aksi Luffy di Sabaody diam-diam disaksikan Kuma. Momen itu menyentuh dan menginspirasinya. Kuma sadar bahwa Topi Jerami belum siap menghadapi New World, dan justru karena keyakinannya pada Luffy, ia memutuskan untuk mengirim mereka terpencar ke berbagai tempat agar bisa bertahan dan tumbuh lebih kuat. Bagi Kuma, Luffy bukan sekadar bajak laut sembrono; ia melihat potensi penyelamat dunia dalam tindakan spontan itu.

Pola ini terus berulang sepanjang perjalanan Luffy.

Apakah ia memicu chaos? Jelas. Itu sudah ia lakukan sejak awal cerita.

Namun hampir selalu, setelah kekacauan itu mereda, orang-orang yang ia sentuh justru memperoleh kebebasan atau setidaknya kehidupan yang lebih baik daripada sebelumnya.

Ini terjadi mulai dari Shells Town yang dikuasai Kapten Morgan sampai ke Wano.

Chaos Luffy memang merusak tatanan lama.

Tapi yang ia hancurkan biasanya adalah belenggu terhadap kebebasan orang lain.

3. Kurohige: Chaos destruktif

Kurohige One Piece

Ada satu negara yang secara teknis pernah terbebas dari tirani karena kehadiran Kurohige: Drum Kingdom. Kedatangannya membuat Wapol kabur tunggang-langgang. Hingga kini kita bahkan belum sepenuhnya tahu alasan Kurohige menyerang negeri itu.

Namun yang menarik adalah apa yang terjadi setelah Kurohige pergi.

Drum Kingdom tidak berubah menjadi negeri yang lebih bebas atau optimistis. Warganya tetap muram dan penuh paranoia terhadap bajak laut. Sambutan awal mereka kepada Bajak Laut Topi Jerami pun dingin dan penuh kecurigaan. Baru setelah Luffy mengalahkan Wapol dan Chopper menemukan rumah barunya, negeri itu benar-benar bergerak ke arah baru, hingga kelak dikenal sebagai Sakura Kingdom.

Artinya, bahkan dalam satu kasus di mana tindakan Kurohige tampak “membantu”, dampaknya tetap meninggalkan kehampaan. Tidak ada pemulihan. Tidak ada harapan baru.

Dan itu adalah versi terbaik dari chaos yang ia bawa. Versi buruknya lebih parah.

Lihat saja dampaknya di Impel Down. Aksi Kurohige di sana menyebabkan kekacauan masif: banyak tahanan tewas, sementara kriminal paling berbahaya justru lolos. Skandal itu sedemikian besar hingga Sengoku akhirnya mundur, terutama karena Pemerintah Dunia memilih menutup-nutupi fakta tersebut alih-alih menerbitkan bounty baru bagi para pelarian.

Belum lagi dampak pembunuhan Shirohige. Dengan kematian Yonko itu, wilayah-wilayah yang sebelumnya dilindungi (termasuk Fish-Man Island) kehilangan jaminan keamanan. Mereka terpaksa mencari pelindung baru, bahkan untuk Fish-Man Island sampai harus mencoba memenuhi kehendak Big Mom demi bertahan hidup.

Semua ini mengarah pada satu kesimpulan yang konsisten:

Kurohige bertindak semata-mata untuk dirinya sendiri. Ia tidak peduli pada apa dampaknya setelahnya, siapa yang menderita, siapa yang kehilangan, atau siapa yang harus memulai dari nol.

Berbeda dengan Luffy, chaos yang dibawa Kurohige bukan membebaskan, melainkan menghancurkan.

4. Dua pembawa chaos melawan kendali absolut

Nika dan Imu di One Piece

Di sisi yang sepenuhnya berbeda dari Luffy dan Kurohige, berdirilah Imu.

Jika Luffy dan Kurohige adalah chaos dalam dua bentuk, maka Imu adalah kebalikannya secara total: keteraturan absolut yang dibangun di atas penindasan.

Ia menutupi sejarah dunia, memonopoli kebenaran, dan memberi keabadian kepada lima sosok tertinggi pemerintahan (Gorosei) agar sistem yang ia bangun tidak pernah runtuh oleh waktu.

Kekuatan Imu pun mencerminkan filosofi itu. Alih-alih membebaskan atau menghancurkan, ia mengikat. Melalui kontrak seperti Perjanjian Laut Dangkal, Dalam, hingga Sangat Dalam, bahkan hingga Domi Reversi yang menjadikan target sebagai iblis, Imu memastikan kepatuhan mutlak. Kontak berarti ikatan. Ikatan berarti kendali. Dan kendali berarti dunia tidak pernah benar-benar bergerak.

Dalam konteks ini, Imu bukan sekadar musuh terakhir, ka adalah status quo yang dipaksakan selama berabad-abad.

Karena itu, Final Saga menjadi unik. Imu berpotensi berhadapan dengan dua jenis chaos sekaligus:

-Luffy, chaos yang membebaskan dan merusak belenggu tirani,

-Kurohige, chaos yang merusak dan memakan dunia demi ambisi pribadi.

Satu wajah opresi absolut melawan dua rasa chaos yang sama-sama menolak dikendalikan.

Dan pertarungan akhirnya bukan hanya soal siapa yang paling kuat, melainkan dunia seperti apa yang layak bertahan setelah segalanya runtuh.

Pertanyaannya tinggal siapa yang akan menang? Salah satu wajah chaos atau wajah dari keteraturan absolut?

Editorial Team