Reuven dan Candelle menolong Brook. (Dok. Shueisha, Eiichiro Oda/One Piece)
Setiap teori konspirasi membutuhkan motif.
Dan kalau Pemerintah Dunia memang berada di balik tragedi Esperia, ada beberapa kemungkinan alasan yang bisa dipertimbangkan.
Mengincar budak dari negeri musik
Esperia dikenal sebagai negeri musik.
Jika Pemerintah Dunia memang berniat meminta seribu budak sebagai pengganti upeti, maka besar kemungkinan di antara seribu orang itu akan ada banyak musisi, pengrajin instrumen, dan seniman.
Kita sudah berkali-kali melihat Tenryuubito memperlakukan manusia seperti koleksi. Mereka mengumpulkan raksasa, Fish-Man, Mink, bahkan manusia biasa untuk memenuhi keinginan pribadi mereka.
Jadi keinginan memiliki "seribu budak dari negeri musik" terasa tidak mustahil.
Menghukum negeri yang dianggap membangkang
Ada juga kemungkinan yang lebih sederhana.
Beberapa tahun sebelumnya, Reuven pernah menghajar anggota Angkatan Laut yang menyiksa Brook kecil.
Battle Convoy bahkan mendukung tindakan tersebut.
Peristiwa itu mungkin saja dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap otoritas Pemerintah Dunia.
Jika benar, Esperia bisa jadi sudah masuk daftar hitam jauh sebelum tragedi kabut terjadi.
Mereka sejak awal mengincar Shuri
Ini mungkin teori yang paling menarik.
Dari semua anggota Kesatria Dewa yang kita kenal, status Shuri terasa unik.
Garling menua. Sommers menua. Namun Shuri tampaknya tidak.
Dari saat ia terlihat sebagai pelayan Imu puluhan tahun lalu hingga era sekarang, penampilannya nyaris tidak berubah.
Ini membuat banyak pembaca bertanya-tanya: Apa sebenarnya yang membuat Shuri begitu istimewa di mata Imu?
Kalau Imu memang sudah mengincar Shuri sejak lama, maka tragedi Esperia bisa saja menjadi langkah awal untuk membawanya ke bawah kendali Pemerintah Dunia.