Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Kurohige dan Rocks D. Xebec. (Dok. Toei Animation/One Piece)
Kurohige dan Rocks D. Xebec. (Dok. Toei Animation/One Piece)

Intinya sih...

  • Kehilangan ayah di usia dini

  • Luka batin Teach sendiri parah

  • Teach mungkin memandang nilai positif Rocks sebagai kelemahan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam kilas balik penuh lore di Elbaph arc, kita akhirnya mendapat gambaran lebih utuh soal siapa itu Rocks D. Xebec. Ia adalah pria yang mengincar dunia, dan dia memang brutal, perkasa, plus tak ragu menantang Pemerintah Dunia. Namun menariknya, di balik ambisinya yang mengerikan, Rocks tetap digambarkan sebagai sosok yang setia pada kawan dan menyayangi keluarganya.

Justru di titik inilah ironi besar muncul.

Putranya, Marshall D. Teach alias Kurohige, terasa jauh lebih kelam. Ia tidak segan mengkhianati rekan, membunuh orang yang ia sebut teman, dan memperlakukan siapa pun (kawan atau musuh) sebagai pion yang bisa dibuang kapan saja. Padahal, secara darah, Teach adalah penerus Rocks.

Kenapa bisa begitu?

Kenapa anak dari sosok yang masih punya ayah terhormat justru tumbuh menjadi figur yang tampak tanpa batas moral sama sekali?

Berikut beberapa kemungkinan alasan kenapa sifat Kurohige begitu berbeda (bahkan lebih kejam) dibanding Rocks, ayahnya.

1. Kehilangan ayah di usia yang terlalu dini

Kurohige One Piece

Teach mengalami tragedi God Valley saat usianya baru sekitar dua tahun. Di usia segitu, mustahil baginya memahami siapa ayahnya, apalagi menyerap nilai hidup atau prinsip yang mungkin dimiliki Rocks.

Perlu diingat juga: meski Rocks menyayangi istri dan anaknya, ia tidak hidup bersama mereka. Markas Rocks berada di Hachinosu, sementara Eris dan Teach dititipkan di God Valley, tanah kelahiran Rocks sekaligus tempat persembunyian klan Davy. Artinya, bahkan sebelum tragedi itu pun, interaksi Rocks dengan Teach kemungkinan sudah sangat terbatas.

Dengan kondisi seperti ini, hampir pasti Rocks tak pernah sempat menanamkan nilai personalnya ke dalam diri Teach. Ia gugur terlalu cepat, sebelum anaknya cukup besar untuk mengenal siapa dirinya sebenarnya.

Akibatnya, sosok “Rocks D. Xebec” bagi Teach kemungkinan besar bukan ayah yang nyata, melainkan figur mitos berdasarkan cerita: monster berbahaya yang dibicarakan dunia. Eris mungkin bisa menceritakan sisi Rocks yang setia kawan dan mencintai keluarga, tapi Teach tetap tumbuh dikelilingi cerita tentang ayahnya sebagai iblis yang mengincar dunia.

Dan saya tidak akan terkejut kalau di benak Teach, gambaran ayahnya bercampur antara cerita ibunya dan reputasi mengerikan Rocks di luar sana, menciptakan sosok teladan yang keliru, terdistorsi, dan dingin, jauh dari manusia yang sebenarnya.

2. Luka batin Teach sendiri parah

Teach dan Shirohige One Piece

Apa yang dialami Teach kecil di God Valley bukan sekadar trauma. Hidupnya beneran hancur total dari saat itu.

Ia diarak ke panggung dalam kondisi terluka dan terantai, bersama ibu dan klannya untuk menjadi tontonan Tenryuubito yang haus darah. Mereka ingin membunuh Teach bukan karena apa yang ia lakukan, melainkan karena darah yang mengalir di tubuhnya. Pengalaman seperti ini, di usia dua tahun, akan meninggalkan bekas yang mustahil dihapus. Sudah begitu dia dan ibunya kemudian diburu dalam perburuan manusia sadis God Valley.

Lalu ada tragedi yang bahkan lebih pahit: di tengah kekacauan God Valley, Teach diburu oleh ayahnya sendiri. Bukan karena Rocks membencinya, tapi karena Rocks telah menjadi korban Domi Reversi Imu, diubah menjadi iblis pemburu keluarganya sendiri.

Ia memang selamat, diselamatkan Bartholomew Kuma dan diterbangkan keluar dari God Valley bersama ibunya. Tapi hampir tidak ada indikasi bahwa hidup Teach setelah itu bahagia. Justru sebaliknya.

Di SBS, Oda pernah menggambar para Shichibukai dalam versi anak-anak. Semua terlihat ceria… kecuali Teach. Ia digambarkan duduk menangis sendirian di bawah bulan sabit. Ini kontras yang kuat, karena Teach dewasa nyaris tak pernah diperlihatkan bersedih. Adegan SBS ini terasa seperti petunjuk: Teach tidak sesederhana yang kita kira.

Dan ketika Teach akhirnya memohon diterima ke Bajak Laut Shirohige, ia datang sebatang kara. Tidak ada Eris di sisinya. Artinya, sesuatu telah terjadi pada ibunya juga. Entah ia meninggal, hilang, atau direnggut dunia dengan cara lain.

Jika dirangkai, hidup Teach adalah rentetan kehilangan: klan, ayah, ibu, dan rasa aman. Dalam kondisi seperti ini, sangat masuk akal jika Teach tumbuh dengan nilai yang menyimpang jauh dari idealisme Rocks. Bukan karena ia ingin berbeda, melainkan karena dunia telah mengajarinya bahwa belas kasih, kejujuran, dan kehormatan tidak pernah menyelamatkan siapa pun.

Dan dari luka inilah, Kurohige yang kita kenal sekarang lahir.

3. Teach mungkin memandang nilai positif Rocks sebagai sebuah kelemahan

Marshall D Teach sebagai villain di One Piece(dok. Toei Animation/One Piece)

Ada kemungkinan besar Eris (jika ia bertahan cukup lama bersama Teach) berusaha menyampaikan siapa Rocks D. Xebec yang sebenarnya kepada putranya. Bahwa pria yang diburu dan ditakuti dunia itu bukan iblis, melainkan ayah yang peduli, sosok yang rela mempertaruhkan segalanya demi keluarga.

Tapi di sinilah ironi pahitnya muncul.

Bayangkan posisi Teach. Seorang anak yang:

-Hampir dibantai Tenryuubito hanya karena darahnya,

-Diburu oleh ayahnya sendiri karena Rocks kena kutukan Domi Reversi,

-Kehilangan klan, rumah, dan rasa aman,

-Dan pada akhirnya hidup sendirian di dunia yang kejam.

Lalu ia mendengar kebenaran ini: Rocks kehilangan nyawanya karena ia mencoba menyelamatkan keluarga. Bahwa demi Eris dan Teach, Rocks harus mengorbankan ambisinya untuk menjadi raja dunia, ambisi yang seharusnya ia raih dengan kekuatannya sendiri.

Bagi Teach, ini bisa terdengar bukan sebagai kisah heroik… melainkan bukti kegagalan.

Bagaimana jika Teach menarik kesimpulan pahit: bahwa cinta, loyalitas, dan keterikatan adalah kelemahan fatal? Bahwa itulah celah yang dimanfaatkan dunia untuk menghancurkan Rocks?

Jika begitu, maka masuk akal kenapa Teach tumbuh menjadi sosok yang:

-Tidak menjaga sahabat,

-Tidak segan mengorbankan rekan,

-Tidak membiarkan dirinya terikat secara emosional pada siapa pun.

Bukan karena ia tak mampu merasakan emosi... justru sebaliknya. Ia mungkin takut mengulang kesalahan ayahnya.

Dalam logika Teach, Rocks bukan kalah karena kurang kuat. Rocks kalah karena ia peduli.

Dan jika itu benar, maka keputusan Teach untuk hidup tanpa sahabat sejati, tanpa orang yang benar-benar ia sayangi, bukan sekadar kejahatan… melainkan mekanisme bertahan hidup yang lahir dari trauma terdalamnya.

Ini masih dugaan, tentu saja. Tapi justru karena pahit dan tragis, kemungkinan ini terasa terlalu masuk akal untuk diabaikan.

4. Kemungkinan perbedaan visi untuk memenuhi misi klan Davy

Teach dan Pudding di One Piece 1126. (mangaplus.shueisha.co.jp/One Piece)

Lima puluh enam tahun lalu, Rocks D. Xebec melakukan sesuatu yang nyaris tak masuk akal: menyerbu Mary Geoise sendirian, bahkan sebelum kelompok Rocks benar-benar eksis. Ia berhasil mencapai ruang bunga tempat Imu biasa berdiam, duduk di sana, dan dengan santai berjanji akan kembali sebelum akhirnya kabur. Dari situ sudah terasa: Rocks sejak awal mengincar Imu.

Dari dialog yang terungkap kemudian, kita tahu Rocks memahami sejarah tersembunyi: kisah Davy D. Jones, sosok leluhur klan Davy yang disebut-sebut pernah menjadi raja dunia. Hanya dengan menyebut nama itu, Imu bereaksi keras: marah dan menurut yang dirasakan Rocks sendiri, takut. Nama Davy D. Jones jelas bukan sekadar legenda kosong.

Lebih jauh lagi, ada indikasi kuat bahwa Davy D. Jones memiliki sebuah janji besar yang belum terpenuhi, dan pemenuhan janji inilah yang ditakuti Imu hingga titik ia bersedia memusnahkan seluruh klan Davy.

Dari sini, misi Rocks mulai terlihat lebih jelas. Ia bukan sekadar ingin “menguasai dunia” secara dangkal. Ia ingin menuntaskan janji leluhurnya. Dan sangat mungkin kisah ini diceritakan Eris kepada Teach, tentang siapa ayahnya sebenarnya, tentang janji klan Davy, dan tentang musuh sejati di balik layar dunia.

Namun di sinilah perbedaan krusial muncul.

Jika misi Rocks berangkat dari warisan dan janji, maka misi Teach kemungkinan membawa beban tambahan: luka batin dan balas dendam personal. Teach bukan hanya ingin menuntaskan janji klannya, ia ingin membalas dunia yang telah menghancurkan masa kecilnya, merantai ibunya, dan memaksa ayahnya menjadi monster yang memburunya sendiri.

Tujuan mereka mungkin mirip. Tapi cara mereka menempuh jalan itu sangat berbeda. Lapisan balas dendam ini membuat semua aksi brutal Teach jadi bisa dipahami. Dia bukan sekedar ingin memenuhi mimpi klan tapi juga menuntaskan persoalan pribadinya.

Dan di situlah ironi paling pahitnya: Teach mungkin sedang meneruskan misi ayahnya… dengan cara yang akan membuat ayahnya sendiri ngeri.

5. Teori bahwa Eris sudah mempersiapkan Teach untuk jalan ini

Eris istri Xebec. (Dok. Shueisha, Eiichiro Oda/One Piece)

Yang membuat Kurohige terasa begitu mengerikan adalah betapa jangka panjangnya rencana dia. Sejak memperoleh Yami Yami no Mi, Teach sudah punya deretan rencana yang seperti sudah ia susun sejak lama. Mulai dari menangkap bajak laut naik daun buat jadi Shichibukai, lalu memanfaatkan posisi Shichibukai biar dapat akses membobol Impel Down.

Ia sendiri mengakui bahwa alasannya bergabung dengan Bajak Laut Shirohige hanyalah karena kelompok itu memberinya peluang terbaik untuk mendapatkan Yami Yami no Mi. Jika pengakuan ini jujur, berarti rencana Teach sudah disusun bahkan sebelum ia naik ke kapal Shirohige. Ini menimbulkan pertanyaan besar: dari mana seorang anak korban tragedi God Valley mendapatkan visi sejauh itu?

Di sinilah teori tentang Eris muncul.

Sebagai istri Rocks dan ibu Teach, Eris adalah sosok yang selamat dari God Valley, mengetahui kebenaran tentang Rocks, dan cukup dekat untuk membentuk cara pandang Teach sejak kecil. Eris juga bisa mengajarkan Teach soal klan Davy dan hal-hal lain.

Tidak mustahil jika Eris (yang kehilangan suaminya karena ia memilih menyelamatkan keluarga daripada ambisi dunia) menanamkan pada Teach satu pesan pahit: bahwa dunia ini kejam, dan hanya kekuatan absolut yang bisa membalas ketidakadilan itu. Jadi dia mempersiapkan Teach untuk menuntut balas dengan cara apapun. Demi Rocks. Demi dirinya. Demi klan Davy.

Sulit membayangkan Teach kecil, yang saat God Valley berusia dua tahun dan bahkan tidak sepenuhnya memahami tragedi yang menimpanya, bisa secara organik menyusun rencana balas dendam jangka panjang sendirian. Rasanya pasti ada yang membantu menyusunnya.

Dan betapa tragisnya jika sejak awal Teach tidak “jatuh” ke jalan kelam, melainkan diarahkan ke sana oleh ibunya.

Ini memang masih teori. Namun jika benar, maka nama Eris (yang identik dengan dewi perselisihan, pertikaian, dan kekacauan dalam mitologi Yunani) mendadak terasa sangat tepat. Karena ketiga aspek itu kini diwujudkan Teach di dunia One Piece.

Editorial Team