Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Kapal Bajak Laut Terbaik di One Piece, Mana yang Terbaik
Shanks dan Red Force (dok. Toei Animation/One Piece)

Intinya sih...

  • Roronoa Zoro adalah karakter One Piece yang mungkin akan membunuh Kesatria Dewa karena tidak memiliki pantangan moral terhadap membunuh.

  • Loki, dengan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, juga bisa menjadi sosok yang membunuh Kesatria Dewa tanpa ragu.

  • Marshall D. Teach (Kurohige) memiliki alasan personal dan moral yang gelap untuk menghabisi Kesatria Dewa, membuatnya berbahaya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kini kita tahu satu hal penting di One Piece: kematian Kesatria Dewa punya dampak langsung pada Imu. Kehilangan satu saja sudah terasa mahal, sampai Imu enggan mengirim investigasi lanjutan ke Elbaph.

Masalahnya? Luffy bukan tipe pembunuh. Sepanjang cerita, ia hampir tak pernah menghabisi musuhnya sampai mati. Bahkan lawan sebesar Kaido pun paling mentok statusnya “tidak diketahui” setelah kalah dan kena ledakan gunung berapi bawah laut.

Kalau begitu, siapa yang bisa, dan mau, melakukan hal yang Luffy tidak akan lakukan? Siapa karakter One Piece yang realistis bakal membunuh Kesatria Dewa, bukan sekadar mengalahkan mereka?

Ini daftar kemungkinan terkuatnya.

1. Roronoa Zoro

Roronoa Zoro (dok. Toei Animation/One Piece)

Zoro sejauh ini memang tak ditampilkan membunuh musuh Topi Jerami secara eksplisit. Tapi berbeda dari Luffy, Zoro tidak punya pantangan moral terhadap membunuh.

Faktanya:

-Zoro pernah membunuh Mr. 7 (versi sebelumnya), yang ia sebut sendiri dalam dialog dengan Miss Doublefinger dan Mr. 1 di Arabasta.

-Di Wano, pejabat yang ia tebas dengan sayatan jarak jauh dari pisau seppuku hampir pasti tidak selamat, dan Zoro tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.

Jadi memang secara karakter Zoro adalah eksekutor. Jika Luffy adalah sosok yang mengalahkan, maka Zoro adalah sosok yang bisa saja mengakhiri kalau diperlukan.

Di final saga, jika membunuh Kesatria Dewa atau bahkan Gorosei benar-benar menjadi syarat untuk melemahkan Imu, Zoro adalah anggota Topi Jerami yang paling logis (dan paling siap) untuk melakukannya.

Bukan karena kebencian, tapi karena itu adalah tugas yang memang harus diselesaikan untuk membantu kemenangan kaptennya.

2. Loki

kekuatan Loki sangat besar hingga ia harus dirantai di Pohon Adam (dok. Viz Media/One Piece)

Kendali Imu pada Raja Harald memaksa Loki melakukan satu hal yang paling ia benci: membunuh ayahnya sendiri. Tindakan ekstrem yang terpaksa ia ambil karena tidak ada pilihan lain.

Nah, Loki sudah mengotori tangannya dengan nyawa orang yang paling ia hormati. Setelah itu, tak ada lagi alasan moral untuk menahan diri jika ia melawan Kesatria Dewa yang bukan Harald.

Jika Loki kembali berhadapan dengan Kesatria Dewa: ia tidak akan bertarung untuk “mengalahkan”. Bukan tidak mungkin ia akan bertarung untuk memastikan mereka tidak pernah bangkit lagi. Sampai mereka hancur total kena hantam Ragnir.

Secara kekuatan, ini juga masuk akal.

Loki adalah pemilik darah Ancient Giant, pengguna Mythical Zoan pusaka Elbaph, pemegang Ragnir, dan pemilik Haoshoku Haki level tinggi.

Jika sosok sekuat Harald (yang bahkan Imu anggap mustahil dikalahkan) bisa tumbang di tangannya, maka Kesatria Dewa lain jelas berada dalam bahaya serius. Keabadian mereka bukan jaminan keselamatan di hadapan Loki. Terutama para Kesatria Dewa yang tak punya Haoshoku Haki untuk melindungi diri mereka.

3. Marshall D. Teach (Kurohige)

Kurohige One Piece

Bab 1166 mengungkap fakta penting:

Gol D. Roger dan Monkey D. Garp bukan sosok yang benar-benar menghabisi Rocks D. Xebec. Keduanya memang melemahkan Rocks, cukup untuk membuat kutukan Domi Reversi yang menguasainya mulai pudar. Namun serangan terakhir, yang mengakhiri hidup Rocks, datang dari Figarland Garling. Sebuah kill steal dingin dari Kesatria Dewa, tepat di momen Rocks sudah tak lagi jadi monster Imu.

Kalau saja Teach tahu ini, ia akan punya alasan yang semakin personal untuk menghabisi Kesatria Dewa. Apalagi Tenryuubito juga sebelumnya sudah menunjukkan ke dia sisi buas manusia, ketika ia dan ibunya dibawa ke panggung dan melihat nafsu haus darah yang mereka tunjukkan ke dirinya.

Dan di sinilah perbedaannya jadi mengerikan.

Kalau Rocks masih punya batas (masih menyisakan ruang untuk kehormatan dan orang yang ia lindungi) Teach tidak. Moral Teach bahkan lebih gelap dari ayahnya. Ia tidak percaya pada belas kasihan, tidak percaya pada duel adil, dan tidak percaya bahwa musuh pantas diberi kesempatan kedua.

Jika Kurohige menjatuhkan seorang Kesatria Dewa itu bukan untuk menghentikan mereka, tapi untuk memastikan mereka benar-benar mati.

Kalau Figarland Garling jatuh di tangan Luffy, mungkin Garling akan dibiarkan hidup.

Tapi kalau dia jatuh di tangan Kurohige, maka bisa jadi dia akan membunuh pria itu seperti Garling membunuh ayahnya.

4. Shanks

Shanks (dok. Toei Animation/ One Piece)

Sekitar 15–14 tahun lalu, Shanks pernah kembali ke Mary Geoise dan bekerja sebagai Pedang Dewa. Ayahnya, Figarland Garling, menyambutnya dengan hangat seperti bisa kamu lihat dari flashback bab 1171. Namun di balik itu, pandangan Garling bahwa orang-orang “dunia bawah” bukan manusia justru membuat Shanks semakin jijik pada darahnya sendiri.

Pengalaman singkat di Mary Geoise ini sangat mungkin membuka mata Shanks terhadap banyak hal: cara kerja Tenryuubito, struktur kontrak dengan Imu, dan (yang terpenting) harga yang harus dibayar jika seorang Kesatria Dewa mati.

Dan dari segi kemampuan? Shanks jelas punya Haoshoku Haki yang cukup untuk membunuh Kesatria Dewa.

Pertanyaannya bukan bisa atau tidak. Pertanyaannya adalah: apakah Shanks mau?

Shanks bukan sosok kejam secara impulsif. Ia bukan pembantai. Tapi justru karena itu, ketika ia memilih bertindak, tindakannya selalu final.

Kita sudah melihat presedennya:

-Di awal cerita, Shanks tanpa ragu membiarkan Lucky Roux menembak kepala anak buah Higuma. Tidak ada peringatan kedua.

-Di Elbaph, ia tidak menghentikan Dorry dan Brogy ketika mereka menghancurkan total kapal kelompok Eustass Kid, padahal Kid dan Killer sudah tumbang, dan kru mereka sudah menyerahkan salinan Road Poneglyph.

Shanks tidak mencari pertumpahan darah.

Tapi ketika seseorang melanggar nilai yang ia anggap tak bisa ditoleransi, mengancam yang lemah, menyerang tanpa batas, atau memaksa konflik, Shanks tidak setengah-setengah.

Dan Kesatria Dewa serta Tenryuubito sudah rutin melanggar nilai itu.

5. Monkey D. Dragon

Monkey D. Dragon (dok. Toei Animation/One Piece)

Tiga puluh delapan tahun lalu, Dragon muda berada di God Valley. Bukan sebagai pahlawan. Bukan sebagai sosok revolusi. Hanya prajurit rendahan Angkatan Laut, tak berdaya di tengah kekacauan, menyaksikan kebrutalan Tenryuubito, dan gagal memenuhi harapan ibu Shanks dan Shamrock untuk membawa kedua anak itu keluar dari neraka tersebut. (Shanks setidaknya masih ditemukan oleh orang yang tepat. Nasib yang nyaris sepenuhnya ditentukan oleh kebetulan.)

Pengalaman ini sangat mungkin menjadi titik hancur Dragon.

Ia melihat langsung bagaimana Tenryuubito memperlakukan manusia sebagai mainan, bagaimana sistem melindungi para monster itu, dan betapa tak bergunanya institusi yang ia layani saat itu. Ia bahkan memutuskan keluar sekalian dari Angkatan Laut ketika Garp menolongnya lolos dari kurungan.

Dari kegagalan itu lahirlah Dragon yang kita kenal sekarang. Bukan reformis. Revolusioner.

Berbeda dengan Luffy yang bertarung karena dorongan hati, atau Shanks yang bertindak demi melindungi keseimbangan, Dragon berperang karena kesimpulan ideologis: dunia ini tidak bisa diperbaiki tanpa mencabut akar busuknya. Targetnya adalah para pengendali yang membuat Pemerintah Dunia busuk: Tenryuubito, bukan negara-negara anggota Pemerintah Dunia itu.

Jika Dragon benar-benar memiliki Haoshoku Haki level tinggi, sesuatu yang sangat masuk akal mengingat Garp dan Luffy memilikinya, maka secara teknis Dragon mampu membunuh Kesatria Dewa.

Dan secara mental? Dragon mungkin adalah satu dari sedikit karakter yang tidak akan ragu melakukannya.

Bukan karena dendam semata. Bukan karena amarah sesaat. Tapi karena, bagi Dragon, membunuh Kesatria Dewa bisa jadi langkah logis dalam perang panjang.

6. Imu

Raksasa Elbaph adalah D. menurut Imu di One Piece

Reaksi Imu terhadap kematian Harald dan eksekusi Jaygarcia Saturn terasa sangat berbeda, dan perbedaan ini justru membuka kemungkinan yang mengerikan.

Ketika Harald mati, Imu tampak benar-benar terguncang. Ia terengah, menegaskan bahwa menciptakan Perjanjian Laut Dalam memiliki harga bagi dirinya sendiri, dan secara eksplisit menolak usulan Gorosei untuk mengirim Kesatria Dewa tambahan ke Elbaph. Alasannya jelas: ia takut kehilangan lebih banyak kesatria.

Namun sikap itu kontras total dengan caranya menangani Jaygarcia Saturn.

Saat Saturn dinilai gagal karena membiarkan Joy Boy lolos, Imu tidak ragu dan tidak emosional. Ia mengeksekusinya dengan murka. Bahkan sebelum Saturn mati, Imu sudah memberi lampu hijau pada Figarland Garling untuk naik menggantikan posisinya, tanpa sepengetahuan Gorosei lain.

Dari sini muncul implikasi penting:Imu kemungkinan bisa membunuh sendiri pemilik Perjanjian Laut Dalam dan Sangat Dalam dengan “biaya” yang lebih ringan dibanding jika mereka dibunuh pihak lain.

Dengan kata lain, cara kematian itu penting.

Jika kesatria mati di tangan musuh, dampaknya ke Imu besar dan berbahaya. Jika dicabut kekuatannya atau dieksekusi langsung oleh Imu, konsekuensinya jauh lebih terkendali.

Ini menjelaskan kenapa Imu takut mengirim Kesatria Dewa ke medan berbahaya seperti Elbaph, tapi tidak ragu menghabisi Saturn ketika ia dianggap gagal total mencegah Joy Boy kabur dari Egghead.

Maka muncul kemungkinan yang ironis dan gelap: Imu sendiri bisa menjadi pembunuh Kesatria Dewa paling konsisten.

Bukan karena amarah melainkan karena kalkulasi.

Jika ada Kesatria Dewa yang antara gagal total, mulai lepas dari kendali, atau berpotensi dibunuh musuh, maka Imu mungkin akan memilih menghabisinya sendiri demi meminimalkan risiko pada dirinya sendiri.

Editorial Team