Vinsmoke Niji. (Dok. Shueisha, Eiichiro Oda, Toei Animation/One Piece)
Kalau membahas anak yang “lebih jahat” dari ayah, keluarga Vinsmoke agak unik.
Ichiji, Niji, dan Yonji bukan sosok sadis tanpa arah. Mereka masih bisa bertindak heroik dalam situasi tertentu. Dan mereka adalah petarung garis depan, bukan ilmuwan manipulatif dengan ambisi kelam seperti Judge. Jadi dalam aspek tertentu, Judge mungkin lebih berbahaya.
Namun justru di situlah ironinya.
Judge melakukan eksperimen genetik untuk menghilangkan emosi anak-anaknya. Ia ingin prajurit sempurna, tanpa ragu, tanpa takut, tanpa simpati.
Dan ia mendapatkannya.
Di bab 864, saat keluarga Vinsmoke dijebak oleh Bajak Laut Big Mom, tiga saudara itu hanya… pasrah. Tidak marah. Tidak takut. Tidak berontak. Mereka menerima kemungkinan kematian tanpa ekspresi berarti. Mereka bahkan tidak peduli jika ayah mereka akan mati bersama mereka.
Vinsmoke Reiju setidaknya menunjukkan ketenangan yang elegan. Judge sendiri? Ia menangis menyadari dirinya dikhianati oleh Big Mom.
Ia menciptakan anak-anak tanpa emosi dan pada saat hidup mereka terancam, mereka bahkan tidak menunjukkan keinginan untuk hidup atau hasrat untuk menolongnya.
Itu bukan kekuatan. Itu kekosongan. Ichiji, Niji, Yonji tumbuh sebagai anak-anak tanpa hati nurani, bahkan dibanding Judge, dan itu sepenuhnya salah Judge sendiri.
Dan yang paling pahit?
Yang menyelamatkan mereka justru Sanji, anak yang dianggap gagal. Anak yang masih punya emosi, dan pada akhirnya jadi anak yang masih peduli.