York mengkhianati Vegapunk. (dok. Toei Animation/One Piece)
Ada satu potongan SBS yang sangat penting untuk memahami ini.
Dalam SBS volume 113, Oda menjawab pertanyaan fans soal York:
“Jika York ingin menjadi Naga Langit, apakah itu berarti Vegapunk juga sebenarnya menginginkan hal yang sama, meski hanya sedikit, sebelum dirinya terpecah?”
Jawaban Oda (yang panjang dan jujur) pada intinya menyampaikan satu hal krusial: hasrat untuk memiliki segalanya, bahkan hal yang menjijikkan seperti menjadi Naga Langit, adalah bagian dari sifat manusia.
Oda bahkan menegaskan: semua manusia menyimpan keserakahan besar dalam diri mereka, manusia baru benar-benar “menjadi manusia” ketika mereka punya alasan untuk menahan keinginan itu.
Dalam konteks Vegapunk, “alasan” itu diwakili oleh Shaka (Good), sementara Greed berdiri sendiri sebagai York.
Artinya apa?
Vegapunk asli memang memiliki benih keserakahan, termasuk hasrat absurd seperti ingin berada di posisi tertinggi dunia. Namun pada dirinya yang utuh, hasrat itu ditahan dan dikontrol oleh aspek-aspek lain: moral, logika, empati, dan rasa tanggung jawab.
Masalahnya muncul setelah pemisahan.
York adalah Greed murni, tanpa penyeimbang. Maka wajar jika:
Ia ingin menjadi Tenryuubito.
Ia mengkhianati seluruh satelit lain.
Ia rela menjual dunia demi kenyamanan dan status.
Di dalam dirinya, aspek yang menahan Vegapunk asli tidak ada!
Dan di sinilah posisi Lilith jadi menarik.
Karena Greed dipisahkan, “kejahatan” Lilith tidak berkembang menjadi kerakusan ekstrem. Lilith tidak ingin kekuasaan absolut. Ia tidak ingin menjadi Naga Langit.
Ia tidak mau mengorbankan segalanya demi posisi aman.
Kejahatannya berhenti di level: pragmatis, oportunis, oportunisme kecil demi bertahan hidup.
Justru karena aspek Greed tidak ditumpahkan ke Lilith, dia terasa lebih “murni” dibanding jika seluruh sisi negatif Vegapunk dilebur jadi satu.
Dengan kata lain: Lilith tidak jahat karena kurang empati, dia “jahat” karena masih manusiawi.
Dan itu membuatnya jauh lebih simpatik dibanding York, serta jauh lebih masuk akal dibanding stereotip “evil clone” pada umumnya.