Scopper Gaban (Dok. Manga One Piece)
Perbedaan kesan antara Scopper Gaban dan Silvers Rayleigh tidak bisa dilepaskan dari fungsi naratif yang mereka jalani di masanya masing-masing.
Saat Rayleigh pertama kali diperkenalkan, ia hadir sebagai legenda yang tak lagi membutuhkan pembuktian. Tanpa banyak penjelasan, pembaca langsung memahami siapa dirinya dan seberapa mengerikannya ia. Di Sabaody, bahkan tanpa bertarung habis-habisan, Rayleigh terasa jelas berada di level yang melampaui seluruh kru Topi Jerami saat itu.
Namun, fase cerita One Piece kini sudah sangat berbeda. Topi Jerami bukan lagi kru pemula yang membutuhkan “tembok kekuatan” untuk menunjukkan betapa jauhnya mereka tertinggal. Bahkan, mulai muncul spekulasi bahwa Monkey D. Luffy dengan Gear 5 mungkin sudah mampu mengalahkan Rayleigh dalam skenario rematch.
Di titik inilah fokus Oda bergeser.
Alih-alih memperkenalkan legenda lama sebagai standar kekuatan, Oda kini sedang “menjual” sosok yang lebih berpengalaman, lebih keras, dan lebih relevan untuk mendorong Topi Jerami melampaui batas mereka saat ini. Dalam konteks ini, Gaban berfungsi bukan sebagai pengingat masa lalu, melainkan sebagai pintu menuju level kekuatan berikutnya.
Tak mengherankan jika Gaban diberi panggung luas, momen dominan, dan konteks konflik yang serius. Semua ini dirancang agar pembaca menaruh perhatian penuh padanya, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai potongan puzzle penting dari era Roger yang baru sekarang mulai terungkap sepenuhnya.
Rayleigh telah menyelesaikan perannya sebagai penjaga dan pengungkap dunia lama. Gaban, sebaliknya, sedang dibangun sebagai jawaban atas pertanyaan yang belum pernah kita tahu jawabannya. Seperti bagaimana mengatasi keabadian God's Knight.
Dan selama fokus naratif ini masih berlangsung, wajar jika Gaban terasa lebih unggul, setidaknya untuk sekarang.