Haoshoku Haki Joy Boy ke Gorosei One Piece
Perang Dunia Shinobi Keempat di Naruto pada dasarnya dipicu oleh satu pemantik yang jelas: Tobi menuntut Ekor Delapan dan Ekor Sembilan, Lima Kage menolak, dan konflik pun meledak.
Di balik itu memang ada rencana besar Infinite Tsukuyomi, tapi secara struktural, konfliknya tetap terpusat pada satu musuh utama dan satu tujuan besar yang relatif konkret.
Yang menarik, Lima Desa yang sebelumnya punya sejarah panjang saling curiga dan berperang justru bisa relatif cepat bersatu menghadapi ancaman bersama. Ada dinamika, tentu, tapi garisnya jelas: dunia ninja vs satu antagonis besar, lalu Madara muncul sebagai eskalasi.
Sekarang bandingkan dengan situasi di One Piece.
Dunia menuju titik perang bukan karena satu tuntutan langsung, melainkan karena fondasi globalnya sendiri mulai retak.
Imu telah memimpin dari balik bayangan selama ratusan tahun, sementara World Government membangun stabilitas di atas kebohongan, penghapusan sejarah, dan penindasan sistematis. Fakta bahwa dunia perlahan tenggelam saja sudah cukup menjadi bom waktu, dan itu baru satu lapisan.
Lalu datang pengungkapan dari Dr. Vegapunk: dunia mengetahui bahwa siapa pun yang menemukan One Piece berpotensi menentukan arah masa depan global. Itu bukan sekadar harta karun lagi, itu kunci tatanan dunia.
Akibatnya? Semua faksi kuat tersisa terdorong bergerak. Ada yang ingin merebutnya. Ada yang ingin mencegah bajak laut mendapatkannya. Ada yang mungkin ingin menghancurkan sistem yang ada.
Oh ngomong-ngomong, itu belum semuanya.
Jadi ada momen Imu diam-diam membunuh Nefertari Cobra. Pembunuhan itu disaksikan oleh Wapol dan Sabo.
Sabo bisa saja difitnah sebagai dalang, dan karena itu tak ada yang akan percaya dia selain Revolusioner. Tapi kalau Wapol keceplosan? Dampaknya bisa luar biasa, apalagi ia dan Nefertari Vivi saat ini berada di bawah perlindungan Big News Morgans, sosok yang mengendalikan arus informasi dunia.
Bayangkan juga jika kebenaran tentang Tahta Kosong tersebar luas. Fakta bahwa ada seseorang yang selama ini diam-diam duduk di kursi yang seharusnya tidak dimiliki siapa pun. Dan orang itu telah membunuh Cobra yang dihormati. Itu bukan cuma isu politik, itu krisis legitimasi global.
Negara-negara seperti Arabasta dan sekutunya bisa saja mendadak menarik kepercayaan dari Pemerintah Dunia. Revolusi bisa pecah di berbagai tempat, bukan karena satu komando pusat, tapi karena kepercayaan runtuh.
Dan di situlah bedanya.
Jika Perang Dunia Shinobi Keempat terasa seperti konflik besar dengan satu poros utama, maka perang akhir One Piece terasa seperti badai yang terbentuk dari banyak tekanan sekaligus: politik, sejarah, informasi, ideologi, dan ambisi pribadi.
Bukan satu pemicu.
Bukan satu musuh.
Melainkan sistem global yang mulai kolaps dari dalam.