Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
8 Perbedaan Hunter x Hunter Dibanding Manga Shonen Lain!
Hunter x Hunter: Phantom Rouge (Dok. Netflix)
  • Hunter x Hunter menonjol karena perkembangan kekuatan Gon yang lambat, dunia cerita yang tidak berpusat padanya, serta konflik yang sering diselesaikan lewat strategi daripada adu kekuatan.
  • Sistem Nen membatasi karakter dengan risiko dan syarat berat, membuat setiap pertarungan terasa menegangkan dan penuh konsekuensi nyata bagi para penggunanya.
  • Perkembangan karakter di seri ini unik: Gon bisa kehilangan kendali karena emosi, sementara antagonis seperti Meruem justru menunjukkan sisi kemanusiaan yang mendalam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebelumnya kita sudah membedah bagaimana Chimera Ant Arc Hunter x Hunter terasa sangat berbeda dibandingkan story arc shonen pada umumnya.

Namun sebenarnya bukan hanya Chimera Ant Arc saja yang unik.

Sejak awal, Yoshihiro Togashi seperti sengaja membuat Hunter x Hunter berkembang dengan cara yang berbeda dari kebanyakan manga shonen. Bahkan jika dibandingkan dengan banyak manga shonen modern sekalipun, sejumlah keputusan ceritanya masih terasa tidak biasa.

Apa saja?

1. Gon Butuh Waktu Sangat Lama untuk Memiliki Jurus Andalan

Gon Freecss vs. Knuckle Bine (dok. MADHOUSE/Hunter x Hunter)

Dalam banyak manga shonen, protagonis biasanya sudah memiliki kemampuan khas sejak awal cerita atau setidaknya mendapatkannya dalam waktu relatif cepat.

Luffy misalnya sudah memiliki kekuatan Buah Iblis sejak awal cerita.

Naruto memang memulai cerita sebagai ninja yang lemah, tetapi sejak awal sudah memiliki Kurama sebagai sumber potensi besar dan kemudian mengembangkan jurus-jurus khas seperti Kage Bunshin.

Bahkan Urameshi Yusuke dari Yu Yu Hakusho pun memperoleh Rei Gun cukup cepat.

Gon berbeda.

Sejak awal kita tahu ia memiliki fisik luar biasa, insting tajam, dan tekad yang kuat. Namun semua itu belum membuatnya memiliki jurus khas yang benar-benar bisa disebut sebagai "signature move." Bahkan setelah mempelajari Nen, Gon masih membutuhkan waktu yang panjang hingga akhirnya mengembangkan dasar Jajanken di Greed Island Arc, dan teknik ini disempurnakan kira-kira di Chimera Ant arc.

Jika dibandingkan dengan protagonis shonen lain, perkembangan kekuatan Gon berlangsung jauh lebih lambat. Begitu lambatnya hingga Hunter x Hunter 1999 sebenarnya berakhir sebelum Gon mendapatkan jurus spesialnya!

2. Gon Tidak Selalu Mengalahkan Musuh Utama Story Arc

Gon Freecss vs. Genthru (dok. MADHOUSE/Hunter x Hunter)

Mayoritas protagonis shonen biasanya akan mendapat jatah mengalahkan antagonis utama suatu arc. Sebaliknya, Hunter x Hunter tidak selalu berjalan seperti itu.

Kemenangan Gon atas Genthru di Greed Island terasa istimewa justru karena itu menjadi salah satu momen langka ketika ia benar-benar mengalahkan villain utama sebuah arc.

Sebelumnya, Gon masih sangat jauh dari level Hisoka saat Ujian Hunter. Di Yorknew City Arc, konflik utama melibatkan Phantom Troupe dan Kurapika. Gon praktis tidak berada di level yang memungkinkan dirinya menghadapi anggota inti kelompok tersebut. Bahkan kemudian di Chimera Ant Arc, Gon tidak melawan Meruem sang Ant King. Musuh yang ia hadapi adalah Neferpitou.

Ada beberapa konflik besar dalam Hunter x Hunter yang pada akhirnya tidak diselesaikan Gon melalui duel langsung. Ini membuat cerita terasa lebih realistis dan dunia terasa tidak selalu menunggu protagonis menjadi cukup kuat.

Terus kok ceritanya masih terasa seru?

Togashi biasanya menyajikan Gon mencapai tujuan meski tidak memenangkan duel. Ini termasuk mencuri nomor Hisoka di Ujian Hunter, dimana misi secara teknis tercapai meski Gon tidak suka Hisoka menyerahkan nomornya. Atau lulus ujian Hunter meski Hanzo jauh mengunggulinya.

3. Dunia Tidak Berputar Mengelilingi Gon

Kurapika mengalahkan Uvogin. (dok. MADHOUSE/Hunter x Hunter)

Ini mungkin salah satu aspek paling unik dari Hunter x Hunter.

Dalam banyak manga shonen, tindakan protagonis sering menjadi pusat dari hampir semua perkembangan dunia cerita. Namun dunia Hunter x Hunter tetap bergerak bahkan ketika Gon tidak terlibat.

Saat Gon berada di ambang kematian setelah Chimera Ant Arc, dunia tidak berhenti menunggunya pulih. Asosiasi Hunter tetap mengadakan pemilihan ketua baru dan berbagai tokoh penting terus menjalankan agenda mereka masing-masing.

Ketika Gon akhirnya berhasil bertemu Ging dan sedang menjalani masa pemulihan, konflik terbesar berikutnya tetap berlangsung tanpa dirinya.

Bahkan di Succession Contest Arc, Gon sama sekali tidak menjadi bagian dari cerita utama.

4. Banyak Konflik Diselesaikan dengan Strategi, Bukan Adu Jurus

Kurapika menangkap Chrollo. (dok. MADHOUSE/Hunter x Hunter)

Banyak pertarungan di Hunter x Hunter tidak dimenangkan oleh karakter yang memiliki serangan paling kuat.

Sebaliknya, strategi, informasi, persiapan, dan kondisi pertempuran sering kali menjadi faktor penentu kemenangan.

Kurapika bisa mengalahkan Uvogin bukan karena ia lebih kuat secara fisik, melainkan karena kemampuan Nen yang dirancang khusus untuk menghadapi Phantom Troupe.

Meski Chrollo adalah salah satu karakter terkuat di cerita, yang jika dalam situasi duel mampu melawan Zeno dan Sylva Zoldyck sekaligus dan bahkan mengalahkan Hisoka, kekuatan Nen Kurapika bisa membuatnya tak berdaya.

Hisoka mengalahkan lawan-lawannya dengan tipu daya dan kreativitas, karena kekuatan dasar Nen-nya sendiri sebenarnya sangat sederhana... tapi fleksibel.

Bahkan kemenangan manusia atas Meruem pada akhirnya tidak ditentukan oleh kekuatan Nen, melainkan oleh strategi Netero dan Poor Man's Rose.

Karena itulah banyak konflik dalam Hunter x Hunter terasa seperti permainan catur dibanding sekadar adu kekuatan.

5. Sistem Kekuatan yang Membatasi Karakternya Sendiri

Kurapika (dok. MADHOUSE/Hunter x Hunter)

Banyak manga shonen memperlakukan kekuatan sebagai sesuatu yang terus meningkat tanpa batas.

Nen justru bekerja dengan cara yang berbeda.

Semakin kuat sebuah kemampuan, biasanya semakin besar pula syarat, risiko, atau keterbatasannya.

Kurapika memperoleh kekuatan luar biasa terhadap Phantom Troupe karena mempertaruhkan nyawanya sendiri. Gon memperoleh kekuatan untuk menghancurkan Pitou dengan mengorbankan seluruh potensinya.

Konsep ini membuat pertarungan Hunter x Hunter terasa lebih menegangkan karena kekuatan besar hampir selalu memiliki harga yang harus dibayar.

6. Protagonis dan Antagonis Tidak Selalu Berkembang ke Arah yang Kita Harapkan

Kematian Meruem dan Komugi. (dok. MADHOUSE/Hunter x Hunter)

Dalam banyak manga shonen, protagonis biasanya tumbuh menjadi lebih heroik sementara antagonis semakin tenggelam dalam kejahatan.

Hunter x Hunter sering melakukan hal yang sebaliknya.

Meruem yang awalnya tampak seperti monster perlahan menjadi lebih manusiawi.

Sebaliknya, Gon yang selama ini dikenal baik hati dan penuh semangat justru kehilangan kendali akibat amarah dan keinginan balas dendam.

Perubahan seperti ini membuat perkembangan karakter dalam Hunter x Hunter terasa sulit ditebak.

7. Gon Membuktikan bahwa Hati Murni Tidak Selalu Berarti Baik dan Rasional

Gon dewasa (dok. MADHOUSE/Hunter x Hunter)

Di banyak manga shonen, protagonis yang memiliki hati murni biasanya juga akan menjadi sosok yang paling benar secara moral.

Hunter x Hunter mengambil pendekatan berbeda.

Sejak awal cerita, Gon memang digambarkan sebagai anak yang polos, jujur, dan memiliki tekad luar biasa. Namun Togashi berkali-kali menunjukkan bahwa kepolosan Gon tidak selalu berarti ia memahami situasi dengan baik.

Gon sering menilai orang berdasarkan hubungan personalnya dengan mereka, bukan berdasarkan standar moral yang konsisten.

Ia bisa menerima fakta bahwa Killua berasal dari keluarga pembunuh. Ia bisa berteman dengan orang-orang yang jelas berbahaya. Di sisi lain, ia juga bisa sangat marah ketika seseorang menyakiti orang yang ia sayangi.

Sifat ini mencapai puncaknya di Chimera Ant Arc.

Ketika Kite tewas, Gon tidak mampu menerima kenyataan tersebut. Ia terus berharap bahwa Neferpitou dapat memperbaiki keadaan. Saat harapan itu hancur, Gon kehilangan kendali sepenuhnya.

Yang menarik, kemarahan Gon terasa jauh lebih mengerikan karena selama ini ia dikenal sebagai anak yang baik. Alih-alih bertindak rasional, ia justru mengorbankan seluruh masa depannya demi memperoleh kekuatan untuk membalas dendam.

8. Kuartet Utama Berpisah Relatif Cepat

Gon, Killua, Leorio, dan Kurapika pada ujian pertama. (dok. MADHOUSE/Hunter x Hunter)

Banyak manga shonen membentuk kelompok utama lalu menjaga mereka tetap bersama sepanjang cerita.

Hunter x Hunter mengambil pendekatan berbeda.

Setelah Gon, Killua, Kurapika, dan Leorio bertemu di Ujian Hunter dan melalui berbagai peristiwa bersama, mereka justru berpisah relatif cepat setelah arc keluarga Zoldyck.

Kurapika memilih memburu Phantom Troupe, Leorio mengejar cita-citanya menjadi dokter, sementara Gon dan Killua melanjutkan petualangan mereka sendiri.

Meski tetap berteman, mereka tidak terus bergerak sebagai satu tim. Mereka sempat reuni di Yorknew, tapi lalu pisah lagi.

Ini terhubung dengan poin "dunia tidak berputar mengelilingi Gon." Para karakter utama memiliki tujuan, pekerjaan, dan kehidupan masing-masing yang tetap berjalan bahkan ketika mereka tidak sedang bersama.

Editorial Team

Related Article