Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
8 Manga Shonen yang Pendekatan Ceritanya Beda dari Shonen Lain!
JoJo’s Bizarre Adventure Part 6: Stone Ocean (dok. David Production)
  • Artikel membahas delapan manga shonen yang menonjol karena pendekatan cerita, tema, dan gaya penceritaan yang berbeda dari formula shonen klasik.
  • Judul-judul seperti Hunter x Hunter, Attack on Titan, dan Chainsaw Man menampilkan karakter serta konflik yang lebih kompleks, sering kali melibatkan strategi atau tema gelap dibandingkan pertarungan kekuatan semata.
  • Manga lain seperti Sousou no Frieren, Death Note, The Promised Neverland, Devilman, dan JoJo’s Bizarre Adventure memperlihatkan variasi naratif mulai dari refleksi emosional hingga duel intelektual dan tragedi mendalam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat membayangkan manga shonen, biasanya ada sejumlah elemen yang langsung terlintas di kepala: kekuatan persahabatan, semangat pantang menyerah, pertarungan epik, hingga protagonis yang terus tumbuh semakin kuat.

Namun ada sejumlah manga shonen yang mengambil pendekatan berbeda.

Bahkan beberapa di antaranya sering disangka sebagai manga seinen karena tema, atmosfer, atau cara bercerita yang mereka gunakan.

Apa saja?

1. Hunter x Hunter

netflix.com/Hunter x Hunter

Ini sudah dibahas beberapa kali di artikel terpisah, tetapi Hunter x Hunter memang terasa seperti karya yang sengaja memelintir banyak formula shonen.

Yoshihiro Togashi seakan bertanya: "Bagaimana jika kita membuat manga shonen yang tetap terasa sebagai shonen, tetapi tidak selalu mengikuti jalur yang biasa?"

Gon tidak langsung memiliki jurus andalan. Ia sering kali tidak cukup kuat untuk mengalahkan musuh utama suatu arc. Bahkan dunia Hunter x Hunter terasa tetap berjalan tanpa perlu keterlibatan Gon.

Kurapika bisa menjadi pusat cerita dalam satu arc. Killua bisa menjadi fokus utama di arc lain. Bahkan setelah Gon mencapai tujuan utamanya bertemu Ging, konflik besar dunia Hunter x Hunter tetap berlanjut tanpa dirinya.

Ditambah lagi, banyak konflik dalam seri ini diselesaikan melalui strategi, informasi, dan kondisi pertarungan, bukan semata-mata karena karakter tertentu memiliki kekuatan yang lebih besar.

Semua itu membuat Hunter x Hunter tetap terasa unik bahkan dibandingkan banyak manga shonen yang terbit jauh setelahnya.

Banyak judul lain di daftar ini terasa beda karena jalurnya memang sejak awal memilih jalur beda dari shonen biasa. Hunter x Hunter sekilas mengambil jalur shonen awam... lalu memelintir banyak stereotipnya.

2. Attack on Titan

Attack on Titan (dok. WIT Studio/Attack on Titan)

Kekerasan brutal, tragedi, dan intrik politik dalam Attack on Titan sering membuat orang lupa bahwa seri ini sebenarnya adalah manga shonen.

Padahal karya Hajime Isayama ini terbit di Bessatsu Shōnen Magazine, majalah shonen milik Kodansha.

Sejak awal, Attack on Titan sudah terasa berbeda karena atmosfernya yang penuh ketidakpastian. Karakter penting bisa mati sewaktu-waktu, sementara konflik yang awalnya tampak sederhana berkembang menjadi persoalan politik, sejarah, dan siklus kebencian yang jauh lebih kompleks.

Paruh kedua ceritanya bahkan lebih berani lagi dalam mengangkat tema yang biasanya jarang menjadi fokus utama manga shonen.

3. Chainsaw Man

cuplikan anime Chainsaw Man (dok. MAPPA)

Chainsaw Man adalah contoh lain manga shonen yang sering disangka seinen.

Bahkan saat masih terbit di Weekly Shonen Jump, banyak pembaca baru yang terkejut mengetahui target demografinya sebenarnya adalah remaja laki-laki.

Salah satu alasannya adalah Denji. Alih-alih bermimpi menjadi yang terkuat atau menyelamatkan dunia, impian Denji pada awal cerita sangat sederhana dan sering kali terasa konyol.

Konflik dalam Chainsaw Man juga cenderung brutal, absurd, dan penuh kejutan. Karakter yang tampak penting bisa menghilang sewaktu-waktu, sementara arah ceritanya sering kali sulit ditebak.

4. Sousou no Frieren

Poster Frieren: Beyond Journey's End (tv.apple.com)

Sousou no Frieren mengambil pendekatan yang hampir berlawanan dengan banyak manga fantasi lainnya.

Biasanya cerita fantasi dimulai dengan perjalanan untuk mengalahkan Raja Iblis.

Frieren justru dimulai setelah Raja Iblis dikalahkan.

Alih-alih berfokus pada perjuangan menyelamatkan dunia, cerita ini lebih banyak membahas waktu, kenangan, kehilangan, dan bagaimana seseorang memahami orang lain setelah semuanya terlambat.

Penceritaannya cenderung lambat, reflektif, dan emosional.

Meski begitu, Frieren tetap merupakan manga shonen karena terbit di Weekly Shonen Sunday, majalah yang juga menerbitkan Detective Conan.

5. Death Note

Poster Kira dan Ryuk di Death Note (cbr.com)

Death Note adalah salah satu manga Weekly Shonen Jump paling unik yang pernah terbit.

Alih-alih mengandalkan pertarungan fisik, sebagian besar konfliknya diselesaikan melalui adu kecerdasan dan permainan psikologis.

Pertarungan terbesar dalam Death Note bukanlah adu pukulan, melainkan duel intelektual antara Light Yagami dan L.

Yang membuatnya semakin menarik, protagonisnya sendiri adalah sosok yang secara moral berada di pihak yang salah.

Light bukan pahlawan yang berusaha menyelamatkan dunia. Ia adalah karakter utama yang perlahan berubah menjadi ancaman terbesar dalam ceritanya sendiri.

6. The Promised Neverland

Tangkapan layar anime The Promised Neverland. (Dok. Netflix)

Saat pertama kali terbit di Weekly Shonen Jump, The Promised Neverland langsung terasa berbeda dari kebanyakan judul lain di majalah tersebut.

Alih-alih mengandalkan pertarungan besar, seri ini lebih dekat ke thriller psikologis.

Emma, Norman, dan Ray harus menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dan berkuasa. Karena itulah mereka mengandalkan kecerdasan, perencanaan, dan kemampuan membaca situasi untuk bertahan hidup.

Ketegangan cerita lebih sering berasal dari rahasia yang terungkap dan rencana pelarian dibandingkan duel besar antar karakter.

7. Devilman

cuplikan manga Devilman (dok. Go Nagai, Shounen Magazine/Devilman)

Jika berbicara soal manga shonen yang terasa jauh lebih gelap dibandingkan standar zamannya, Devilman layak masuk daftar.

Karya Go Nagai ini menghadirkan kekerasan, tragedi, dan tema-tema yang bahkan hingga sekarang masih terasa berat.

Akira Fudo tidak terasa seperti protagonis shonen klasik yang akan menyelamatkan semua orang melalui semangat dan keberanian.

Sebaliknya, Devilman terus membawa pembacanya menuju situasi yang semakin suram.

Bahkan hingga sekarang, ending Devilman masih sering disebut sebagai salah satu ending paling kelam dalam sejarah manga shonen.

Yang menarik, semua itu tetap lahir dari majalah Weekly Shōnen Magazine.

8. JoJo's Bizarre Adventure (sebelum Steel Ball Run)

JoJo’s Bizarre Adventure Part 6: Stone Ocean (dok. David Production)

JoJo's Bizarre Adventure adalah salah satu manga shonen yang paling berpengaruh sekaligus paling unik.

Alih-alih mengikuti satu protagonis sepanjang cerita, JoJo berganti tokoh utama di setiap bagian ceritanya.

Pendekatan pertarungannya pun unik. Terutama sejak era Stand dimulai, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang lebih kuat. Banyak pertarungan JoJo lebih terasa seperti duel strategi dan kreativitas. Karakter harus memahami kemampuan lawan, mencari kelemahannya, lalu menemukan cara memanfaatkan situasi.

Karena itulah banyak pertarungan JoJo terasa seperti teka-teki yang harus dipecahkan.

Oh dan yang menarik lagi adalah part terakhir JoJo yang shonen murni, Stone Ocean, memperlihatkan salah satu protagonis terbesarnya (Jotaro) dan protagonis aktifnya (Jolyne) terbunuh. Pada akhirnya antagonis seri itu bahkan tak dikalahkan oleh mereka.

Keunikan tersebut membuat JoJo tetap terasa berbeda dibandingkan mayoritas manga shonen lain meski usianya sudah puluhan tahun.

JoJo sendiri uniknya kemudian berganti target demografi ke seinen kira-kira sejak Steel Ball Run pada tahun 2005.

Editorial Team

Related Article