Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Shoko Nishimiya dan Shoya Ishida (dok. Kyoto Animation/Koe no Katachi)
Shoko Nishimiya dan Shoya Ishida (dok. Kyoto Animation/Koe no Katachi)

Intinya sih...

  • Lagu Barat sering digunakan dalam anime sebagai opening, ending, atau lagu insert.

  • Beberapa lagu Barat yang pernah muncul di anime populer antara lain "Roundabout" by YES, "Sweet Child o’ Mine" by Guns N’ Roses, dan "Falling Down" by Oasis.

  • Pemilihan lagu Barat dalam anime membantu membangun atmosfer cerita, menonjolkan sisi emosional karakter, dan memberikan kontras dengan tema cerita.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam anime, musik biasanya identik dengan J-Pop atau lagu berbahasa Jepang. Namun, ada momen menarik ketika anime justru menggunakan lagu dari penyanyi Barat sebagai opening, ending, atau lagu insert. 

Tanpa banyak disadari, sejumlah lagu Barat pernah muncul di anime populer dan menjadi bagian penting dari atmosfer ceritanya. Mulai dari rock klasik hingga pop modern, berikut deretan lagu penyanyi Barat yang pernah menghiasi dunia anime.

1. Roundabout by YES — JoJo’s Bizarre Adventure

Para tokoh Steel Ball Run (Dok. STEEL BALL RUN JoJo’s Bizarre Adventure Official Website)

Lagu “Roundabout” dari band rock progresif asal Inggris, YES, digunakan sebagai lagu penutup Jojo’s Bizarre Adventure Part 1 (Phantom Blood) dan Part 2 (Battle Tendency). Nuansa musiknya yang epik dan penuh ketegangan dinilai selaras dengan atmosfer cerita JoJo yang dramatis dan tidak terduga. 

Bagian akhir lagu ini juga dimanfaatkan sebagai penutup adegan krusial, yang kemudian melahirkan momen ikonik “ To Be Continued” dan menjadikan “ Roundabout” salah satu lagu Barat paling dikenal dalam sejarah anime. 

2. Sweet Child o’ Mine by Guns N’ Roses — Gundam: Hathaway’s Flash

Gundam Hathaway’s Flash (Dok. Gundam Official/Gundam Hathaway’s Flash)

”Sweet Child O’ Mine” dari Guns N’ Roses digunakan sebagai lagu penutup Gundam: Hathaway’s Flash. Pemilihan lagu rock klasik Barat ini memberi nuansa emosional yang kuat, sekaligus menjadi kontrak menarik dengan visual anime yang modern dan penuh tekanan. 

Liriknya yang sarat perasaan dinilai sejalan dengan konflik batin Hathaway Noa, menjadikan lagu ini bukan sekadar pengiring, tetapi bagian penting dalam membangun suasana cerita.

3. Falling Down by Oasis — Eden of The East

Eden of The East (Dok. Netflix/Eden of The East)

Selanjutnya, “Falling Down” dari Oasis digunakan sebagai lagu opening Eden of the East. Nuansa musiknya yang reflektif selaras dengan tema pencarian jati diri dan kegelisahan sosial yang diangkat anime ini. 

Lirik seperti “Falling down on all that I’ve ever known” kerap dimaknai sebagai runtuhnya keyakinan lama dan datangnya perubahan besar, sejalan dengan perjalanan karakter utama yang harus menghadapi kenyataan pahit dan perubahan sosial yang tak terelakan. 

4. Invincible by OneRepublic — Kaiju No. 8

Kaiju No. 8 (dok. Shueisha/ Kaiju No. 8)

Salah satu lagu barat berjudul “Invincible” dari OneRepublic digunakan sebagai lagu tema Kaiju No. 8. Nuansa musiknya yang energik selaras dengan perjuangan para karakter dalam menghadapi ancaman kaiju yang terus membayangi.

Liriknya menekankan ketahanan dan tekad untuk bangkit, selaras dengan perjalanan karakter utama yang harus melawan rasa takut dan keterbatasan diri di tengah situasi berbahaya.

5. This Fffire by Franz Ferdinand — Cyberpunk: Edgerunners.

Cyberpunk: Edgerunners. (Netflix)

Lagu pembuka Cyberpunk: Edgerunners menggunakan Lagu “This Fffire” dari Franz Ferdinand. Dentuman rock yang agresif dengan tempo cepat langsung membangun atmosfer keras khas Night City, dunia futuristik yang sarat kekerasan dan tekanan.

Energi lagu ini mendukung tema perlawanan, ambisi, serta kehancuran yang dialami para karakternya. Pemilihan lagu Barat ini membantu mempertegas identitas Edgerunners sebagai anime dengan nuansa global dan modern, sekaligus memberi pembuka yang kuat sejak detik pertama episode.

Yang menarik perhatian saya adalah bagaimana bagian "We're going to burn this city, burn this city" dengan strategis dipotong. Seperti penanda bahwa pada akhirnya, api David tidak cukup untuk membakar Night City.

6. Paranoid Android by Radiohead — Ergo Proxy

Ergo Proxy (dok. Manglobe/ Ergo Proxy)

Anime Ergo Proxy menggunakan lagu “Paranoid Android” dari Radiohead sebagai penutup. Nuansa musiknya yang gelap, kompleks, dan eksperimental selaras dengan atmosfer distopia yang diusung ceritanya.

Lirik lagu yang penuh kegelisahan dan pertanyaan eksistensial turut memperkuat kondisi batin para karakter, menjadikan lagu ini pilihan yang pas untuk menutup setiap episode dengan meninggalkan kesan reflektif dan menekan.

7. Duvet by BOA — Serial Experiment Lain

Serial Experiment Lain (Dok. Prime Video/Serial Experiment Lain)

Judul lagu “Duvet” dari band Inggris Bôa digunakan sebagai lagu pembuka Serial Experiments Lain. Nuansa musiknya yang lembut namun melankolis langsung membangun atmosfer sunyi dan penuh kegelisahan yang menjadi ciri khas anime ini.

Lirik “Duvet” merefleksikan rasa keterasingan, kebingungan identitas, dan pencarian makna diri, selaras dengan perjalanan psikologis Lain di tengah batas yang kabur antara dunia nyata dan dunia digital. Lagu ini pun menjadi elemen ikonik yang tak terpisahkan dari identitas Serial Experiments Lain.

8. Fly Me to the Moon by Claire — Shinseiki Evangelion

Shinseiki Evangelion (dok. Gainax & Tatsunoko Production/Shinseiki Evangelion)

“Fly Me to the Moon” digunakan sebagai lagu penutup Shinseiki Evangelion dengan berbagai versi cover yang dinyanyikan oleh karakter berbeda. Tapi versi utamanya dinyanyikan oleh Claire Littley, penyanyi asal Inggris.

Pilihan lagu jazz klasik ini menghadirkan kesan tenang dan romantis yang kontras dengan isi cerita Evangelion yang sarat tekanan psikologis dan konflik batin.

Kontras tersebut justru memperkuat dampak emosional di akhir episode, seolah memberi jeda refleksi setelah pergulatan mental para karakter. Tak heran jika “Fly Me to the Moon” menjadi salah satu ending paling ikonik dalam sejarah anime.

9. Shine by Mr. Big — Hellsing

Hellsing (Dok. Prime Video/Hellsing)

Grup rock asal Amerika Serikat, Mr. Big menghadirkan lagu “Shine” sebagai lagu penutup Hellsing. Nuansa rock yang tenang namun emosional memberi kontras dengan atmosfer gelap dan penuh kekerasan yang mendominasi ceritanya.

Pilihan lagu ini membantu menutup setiap episode dengan kesan reflektif, sekaligus menonjolkan sisi manusiawi di balik dunia Hellsing yang brutal dan sarat konflik.

10. My Generation by The Who — Koe no Katachi

Shouko Nishimiya dan Shouya Ishida Menebar Roti (dok. Kyoto Animation/Koe no Katachi)

Koe no Katachi memilih lagu “My Generation” dari The Who sebagai lagu. Musik rock klasik ini menghadirkan energi yang kuat dan emosional, yang terasa cukup cocok dengan tema yang dibawa.

Nah, itulah daftar lagu Barat yang digunakan dalam anime. Dari sekian banyak pilihan tersebut, lagu mana yang paling berkesan menurut kamu?

Untuk informasi yang lebih lengkap soal anime-manga, film, game, dan gadget, yuk gabung komunitas Warga Duniaku lewat link berikut:

Discord: https://bit.ly/WargaDuniaku

Tele: https://t.me/WargaDuniaku

FAQ Seputar Penyanyi Barat yang Hadir di Anime

Apakah anime biasanya menggunakan lagu Barat?

Biasanya anime menggunakan lagu J-Pop atau musik Jepang, namun ada beberapa anime populer yang menggunakan lagu Barat sebagai opening, ending, atau insert song untuk menambah nuansa cerita.

Lagu Barat mana yang paling terkenal di anime?

Salah satu yang paling terkenal adalah Roundabout oleh YES, yang digunakan sebagai ending JoJo’s Bizarre Adventure, menciptakan momen ikonik “To Be Continued”.

Apa alasan anime menggunakan lagu Barat?

Lagu Barat dipilih karena nuansanya cocok dengan atmosfer cerita, bisa menambah emosi, dramatis, atau energi tertentu, serta memberi kesan modern dan global.

Bisakah lagu Barat membuat anime lebih berkesan?

Ya. Lagu Barat sering dipakai di momen penting, ending atau insert, sehingga meninggalkan kesan mendalam pada penonton dan kadang menjadi identik dengan anime itu sendiri.

Editorial Team