Sosok Akaza muda dalam kenangan masa lalunya yang penuh emosi di Demon Slayer: Infinity Castle (2025). Adegan ini memperlihatkan sisi kemanusiaan yang jarang terlihat dari salah satu iblis paling kuat di serial ini. (Sumber: YouTube / Crunchyroll Official)
Faktor ini juga menjadi alasan kenapa, dalam daftar “Movie Anime Terbaik 2025”, saya menempatkan Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc di posisi pertama, di atas Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – Infinity Castle.
Tidak ada yang meragukan kualitas visual Infinity Castle. Ufotable kembali tampil luar biasa. Pertarungan melawan Akaza, ditambah flashback tragis sang iblis, menyuguhkan kombinasi aksi, emosi, dan momen haru yang kuat.
Namun, pada akhirnya Infinity Castle tetap terasa sebagai bagian dari kisah yang lebih besar dan bagian pemotongannya pun terasa kurang solid, dalam arti "kisahnya terasa belum beneran habis."
Sebaliknya, Chainsaw Man – The Movie: Reze Arc terasa nyaris ajaib karena mampu menyajikan satu arc penuh sebagai pengalaman menonton yang utuh, dengan awal, konflik, dan resolusi yang jelas, bahkan bagi penonton yang tidak sepenuhnya mengikuti serialnya.
Lalu ada KPop Demon Hunters. Kisah Huntr/x sejak awal dirancang sebagai cerita tunggal dengan arc karakter yang jelas dan penutup yang tuntas. Penonton tidak perlu konteks tambahan, tidak perlu menunggu kelanjutan, emosi dan ceritanya selesai di satu film.
Dari sudut pandang ini, keunggulan KPop Demon Hunters menjadi cukup jelas. Dalam konteks penghargaan film, terutama di ajang seperti Golden Globes, cerita yang utuh dan berdiri sendiri sering kali punya nilai lebih dibanding potongan dari narasi berseri.