Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Yuji dan Naruto di masa dewasa - JJK Modulo & Boruto: Naruto Next Generations
Yuji dan Naruto di masa dewasa (Dok. Shueisha & Pierrot/JJK Modulo & Boruto: Naruto Next Generations)

Intinya sih...

  • Level kekuatan Yuji melampaui karakter lain, sementara Naruto terkadang lebih lemah dari musuh baru.

  • Sifat naif Yuji menghilang saat dewasa, sementara Naruto masih ragu-ragu dalam pengambilan keputusan.

  • Yuji tidak disetting sebagai batu loncatan generasi baru, sementara penulisan karakternya tetap konsisten dan terarah.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Seperti yang kita tahu, Yuji dan Naruto adalah para protagonis yang tetap eksis bahkan setelah cerita lama mereka digantikan oleh para protagonis penerus mereka. Namun dari segi penulisan karakter, Yuji bisa dibilang jauh lebih baik daripada Naruto meski keduanya sama-sama telah dewasa.

Apa saja alasannya? Berikut pembahasannya!

1. Level kekuatan Yuji yang benar-benar sudah melampaui karakter lain termasuk protagonis baru, sedangkan Naruto kadang lebih lemah dari musuh baru

Perbandingan Yuji dan Ishiki saat menghadapi musuh di masa dewasa (Dok. Shueisha & Pierrot/JJK Modulo & Boruto: Naruto Next Generations)

Seperti yang kita tahu, Yuji dan Naruto awalnya merupakan pemuda yang kekuatannya masih terus berkembang jika di atas. Bahkan di akhir cerita, level kekuatan mereka sudah melampaui para karakter lain.

Namun di cerita lanjutannya, perlakuan yang mereka terima sedikit berbeda.

Yuji tetap terus bertambah kuat. Ia bahkan sudah menguasai semua teknik yang dulu dipelajari saat berperang melawan Sukuna hingga ke level tingkat tinggi. Bayangkan saja, Black Flash bisa dikeluarkan sesuka hatinya, darah beracunnya bisa diatur agar tak membunuh musuh, kemampuan Piercing Bloodnya bisa dikeluarkan secara masif, dan yang paling dahsyat adalah Dismantle-nya yang sekarang benar-benar sudah berada di level Sukuna.

Sedangkan Naruto? Meski dianggap setara Dewa Shinobi, terkadang Naruto dianggap Kurama sudah terlalu tumpul karena lama tak bertarung. Ia bahkan kadang bisa dipojokkan oleh musuh seperti para Otsutsuki.

2. Sifat naifnya Yuji sudah lama menghilang saat dewasa, sedangkan Naruto kadang masih terbawa

Perbedaan sifat Yuji dan Naruto di masa dewasa (Dok. Shueisha & Pierrot/JJK Modulo & Boruto: Naruto Next Generations)

Selain kekuatan tempur, aspek lain yang menarik untuk dibandingkan adalah sifat mereka.

Di awal cerita, Yuji dan Naruto sama-sama digambarkan sebagai sosok yang ceria, optimis, dan selalu berusaha melihat sisi baik dari orang lain. Namun seiring berjalannya waktu, keduanya berkembang ke arah yang berbeda ketika memasuki masa dewasa.

Yuji perlahan berubah menjadi pribadi yang lebih dingin dan kalkulatif. Ia memang tetap kuat, tetapi tidak lagi sembarangan turun tangan untuk menolong. Baginya, urusan kutukan seharusnya mulai diserahkan kepada generasi muda, agar mereka tidak terus bergantung padanya dan menjadi rapuh. Ia bahkan tidak keberatan jika pemerintah membencinya, selama keputusan yang diambilnya mampu memaksa para penerusnya menghadapi kenyataan pahit. Yuji sadar bahwa panggung utama dunia kini bukan lagi miliknya sehingga cuma ingin mengambil peran "bersih-bersih" jika seandainya para cucu seniornya kalah.

Naruto justru berbeda. Sifat naif yang ia miliki sejak muda masih terbawa hingga era dirinya menjadi Hokage. Ia sering ragu ketika harus mengambil keputusan yang berisiko mengorbankan nyawa, sehingga tidak jarang Shikamaru harus turun tangan untuk menegaskan langkah yang lebih tegas. Keraguan inilah yang membuat Naruto terasa kurang efektif di masa dewasanya.

3. Yuji sadar diri akan perannya dan tak mau ikut campur dalam perkembangan generasi baru, Naruto malah jadi korban batu loncatan

Yuji dan Naruto di masa dewasa (Dok. Shueisha & Pierrot/JJK Modulo & Boruto: Naruto Next Generations)

Seperti yang kita tahu, salah satu “penyakit” yang sering muncul dalam genre shounen adalah ketika figur kuat dari generasi lama tiba-tiba diposisikan kesulitan menghadapi musuh baru, yang ironisnya justru baru bisa ditaklukkan oleh para protagonis muda.

Naruto adalah salah satu contohnya. Meski ia memiliki kekuatan para Bijuu dan chakra Ashura, ia kerap digambarkan kerepotan menghadapi ancaman para Otsutsuki. Pada akhirnya, musuh-musuh tersebut malah lebih banyak diselesaikan oleh Boruto dan Kawaki sebagai generasi penerus.

Yuji justru diperlakukan berbeda. Ia diposisikan sebagai salah satu petarung terkuat di bumi, dengan level yang disejajarkan dengan Gojo maupun Sukuna. Hal itu terlihat dari bagaimana ia mampu melumpuhkan para penyihir bumi dan suku Rumel tanpa kesulitan berarti, serta membantai ribuan kutukan hanya dengan satu kali Dismantle berskala besar.

Menariknya, Yuji juga sadar bahwa kini adalah giliran para penyihir baru untuk berkembang. Karena itu, ia tidak lagi memaksakan diri untuk selalu berada di pusat panggung, melainkan memilih menangani sisa-sisa kekacauan akibat pertarungan Yuka dan Tsurugi melawan para alien, memberi ruang bagi generasi berikutnya untuk tumbuh menghadapi tantangan mereka sendiri.

4. Yuji konsisten ditulis sebagai karakter yang menderita untuk berkembang, sedangkan Naruto malah mulai bingung mau dibawa kemana karakternya

Yuji yang terkesan jauh lebih dewasa daripada Naruto (Dok. Shueisha & Pierrot/JJK Modulo & Boruto: Naruto Next Generations)

Meski cerita sudah berganti fase, penulisan karakter Yuji masih terasa konsisten dan terarah.

Sejak awal, Yuji memang digambarkan sebagai sosok yang harus menanggung penderitaan akibat ulah kutukan-kutukan besar seperti Sukuna, Kenjaku, dan Mahito. Tragedi demi tragedi yang menimpanya bukan sekadar tempelan drama, melainkan menjadi fondasi yang perlahan membentuk dirinya. Penderitaan itu memaksa Yuji untuk terus bergerak maju, dan dari sanalah kekuatannya bertumbuh secara natural.

Namun menariknya, ketika Yuji akhirnya mencapai titik di mana ia sudah sangat kuat, cerita tidak serta-merta mengubah hidupnya menjadi lebih mudah. Beban yang ia pikul justru bergeser ke bentuk yang lebih eksistensial. Kali ini, ia harus menghadapi masalah baru: keabadiannya sendiri. Bukan lagi sekadar pertarungan fisik melawan kutukan, melainkan pergulatan batin tentang hidup yang tak kunjung selesai, tentang kesepian, dan tentang apakah dirinya masih memiliki tempat di dunia yang terus berubah. Hal inilah yang membuat penderitaan Yuji tetap terasa relevan bahkan sampai sekarang.

Sebaliknya, Naruto mengalami nasib yang berbeda dalam era Boruto. Dahulu, ia adalah sosok yang hidup dengan mimpi besar: menjadi Hokage dan diakui oleh semua orang. Namun setelah mimpi itu tercapai, perannya dalam cerita baru perlahan menjadi kabur. Naruto seakan kehilangan arah karena panggung utama kini sepenuhnya milik generasi anaknya.

Jika Naruto hanya diposisikan seperti Hokage-Hokage lama yang jarang mendapat sorotan, hal itu terasa cukup disayangkan mengingat ia adalah karakter yang sangat populer dan pernah menjadi pusat emosional dari seluruh seri. Akibatnya, perkembangan Naruto di masa dewasa tidak terasa sekuat Yuji, karena ia lebih sering dijadikan simbol generasi lama daripada karakter yang benar-benar terus digali konfliknya.

Itulah daftar alasan kenapa penulisan Yuji terkesan lebih baik daripada Naruto di lanjutan cerita serial mereka.

Bagaimana pendapat kalian?

Untuk informasi yang lebih lengkap soal anime-manga, film, game, dan gadget, yuk gabung komunitas Warga Duniaku lewat link berikut:

Discord: https://bit.ly/WargaDuniaku

Tele: https://t.me/WargaDuniaku

Editorial Team