Discord: https://bit.ly/WargaDuniaku
3 Alasan Lagu Ending Steel Ball Run Menuai Banyak Protes!

Lagu ending “Shinukaikiruka” menuai protes karena Steel Ball Run tidak melanjutkan tradisi JoJo memakai lagu musisi Barat, yang dianggap selaras dengan nuansa perjalanan Amerika.
Keterlibatan Dr. Luke sebagai produser turut dipermasalahkan penggemar karena riwayat perseteruan hukumnya dengan Kesha, meski perkara tersebut berakhir melalui kesepakatan pada 2023.
Hirohiko Araki tidak dilibatkan dalam pemilihan lagu penutup Steel Ball Run, sehingga sebagian penggemar menilai sentuhan selera musik Barat sang kreator tidak hadir.
Setelah lama ditunggu perilisannya, akhirnya anime Steel Ball Run kembali berlanjut lengkap dengan lagu opening dan ending-nya. Opening-nya yang berjudul "Spin" menuai cukup banyak reaksi positif berhubung tradisi penggunaan CGI untuk adegan lagunya kembali berlanjut dan lagunya yang cukup nyambung dengan tema cerita yang dibawakan.
Namun berbeda dengan lagu ending-nya yang berjudul “Shinukaikiruka” yang dibawakan Yuki Chiba. Lagu satu ini malah menuai banyak hujatan sampai banyak yang meminta untuk segera menggantinya dengan lagu baru.
Kenapa lagu ending Steel Ball Run banyak yang diprotes fans? Ini dia tiga alasannya!
Table of Content
1. Merusak tradisi lagu barat jadi ending song serial JoJo

Gyro, Johnny, Sandman, dan Diego (Dok. Warner Bros Japan/Steel Ball Run) Selama ini, serial anime JoJo's Bizarre Adventure memiliki satu keunikan yang cukup membedakannya dari anime lain, yaitu pemilihan lagu ending yang hampir selalu menggunakan karya dari musisi Barat.
Tradisi tersebut sudah dimulai sejak Phantom Blood dan Battle Tendency melalui “Roundabout” dari Yes. Lagu ini bahkan begitu melekat dengan JoJo hingga bagian akhirnya sering dijadikan meme dengan kemunculan khas tulisan “To Be Continued”.
Tradisi tersebut kemudian berlanjut di Stardust Crusaders dengan “Walk Like an Egyptian” dari The Bangles dan “Last Train Home” dari Pat Metheny Group. Kemudian ada “I Want You” dari Savage Garden di Diamond is Unbreakable, “Freek'n You” dari Jodeci dan “Modern Crusaders” dari Enigma di Golden Wind, hingga “Distant Dreamer” dari Duffy di Stone Ocean.
Karena itu, Steel Ball Run terasa seperti membawa perubahan besar terhadap tradisi tersebut. Alih-alih menggunakan lagu dari musisi Barat, anime ini memilih lagu yang dibawakan oleh musisi Jepang. Bagi sebagian fans, pilihan tersebut terasa kurang menyatu dengan nuansa Western dan perjalanan melintasi Amerika yang begitu kental dalam Steel Ball Run.
Padahal, ada sejumlah lagu Barat yang dianggap bisa memberikan nuansa tersebut, seperti “A Horse with No Name” dari America, “The Chain” dari Fleetwood Mac, hingga “Pony” dari Ginuwine.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata soal apakah lagu yang dipilih bagus atau tidak. Bagi sebagian penggemar, pemilihan musik Barat sudah menjadi bagian dari identitas JoJo's Bizarre Adventure. Karena itu, ketika tradisi tersebut tidak diteruskan dalam Steel Ball Run, perubahan kecil pada lagu ending pun terasa cukup signifikan.
2. Produsernya memiliki rekam jejak yang kontroversial

Presiden Funny Valentine (Dok. Warner Bros Anime Japan/Steel Ball Run) Di Jepang, reputasi seseorang dapat menjadi hal yang sangat sensitif. Ketika sebuah karya melibatkan sosok yang pernah terseret kasus hukum atau kontroversi besar, latar belakang tersebut bisa kembali menjadi sorotan, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Hal inilah yang kemudian ikut mewarnai kontroversi lagu “Shinukaikiruka”. Persoalannya bukan terletak pada Yuki Chiba, melainkan pada nama Dr. Luke yang terlibat sebagai produser.
Dr. Luke sendiri pernah terlibat dalam perseteruan hukum dengan penyanyi Kesha. Pada 2014, Kesha mengajukan gugatan yang menuduh Dr. Luke melakukan kekerasan seksual serta berbagai bentuk pelecehan selama hubungan profesional mereka. Dr. Luke membantah tuduhan tersebut dan kemudian mengajukan gugatan pencemaran nama baik terhadap Kesha.
Perseteruan hukum keduanya berlangsung selama bertahun-tahun sebelum akhirnya diselesaikan melalui kesepakatan pada 2023. Rincian penyelesaian tersebut tidak dipublikasikan secara lengkap, sehingga perkara tersebut tidak berakhir dengan putusan pengadilan yang menetapkan bahwa tuduhan serangan seksual Kesha terhadap Dr. Luke terbukti benar.
Meski demikian, kontroversi tersebut membuat nama Dr. Luke tetap menjadi sorotan hingga sekarang. Karena itulah, keterlibatannya sebagai produser “Shinukaikiruka” kemudian menjadi salah satu hal yang dipermasalahkan oleh sebagian penggemar.
3. Bukan pilihan Araki sendiri

Johnny menguasai Spin (Dok. Warner Bros Anime Japan/Steel Ball Run) Hirohiko Araki memang dikenal sebagai mangaka yang begitu menggemari kultur musik Barat. Kecintaannya tersebut bahkan kerap ia tuangkan ke dalam JoJo’s Bizarre Adventure, salah satunya dengan menggunakan nama penyanyi, grup band, hingga judul lagu sebagai inspirasi penamaan para Stand.
Tak hanya itu, Araki juga diketahui beberapa kali memilih sendiri lagu favoritnya untuk dijadikan lagu ending dalam adaptasi anime JoJo’s Bizarre Adventure. Karena itu, selera musik sang mangaka seolah sudah menjadi salah satu bagian yang melekat dalam identitas anime JoJo.
Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi pada adaptasi Steel Ball Run kali ini. Araki tidak dilibatkan dalam pemilihan lagu penutupnya, sehingga sentuhan personal dari selera musik sang mangaka yang selama ini menjadi ciri khas seri tersebut terasa absen.
Bagi sebagian fans, ketiadaan keterlibatan Araki dalam menentukan lagu ending ini cukup disayangkan. Pasalnya, musik penutup bukan sekadar pelengkap episode, tetapi juga menjadi salah satu elemen yang selama ini mampu memberikan cita rasa khas JoJo melalui pilihan musik sang kreator.
Itulah penjelasan kenapa lagu penutup anime Steel Ball Run menuai banyak protes dari para penggemar.
Bagaimana menurut kalian?
Untuk informasi yang lebih lengkap soal anime dan manga, film, game, serta gadget, yuk gabung komunitas Warga Duniaku lewat link berikut:
WA Channel: https://bit.ly/WAChannelDuniaku
















