Saya sebelumnya sudah membahas soal Poco F9 Pro.
Tapi membahas dari pemaparan panggung dan rilis pers tentu beda dari beneran memegang sendiri.
Nah apa sih yang saya sadari dari memegang langsung Poco F9 Pro? Mari kita bahas!

Saya sebelumnya sudah membahas soal Poco F9 Pro.
Tapi membahas dari pemaparan panggung dan rilis pers tentu beda dari beneran memegang sendiri.
Nah apa sih yang saya sadari dari memegang langsung Poco F9 Pro? Mari kita bahas!
Dalam rilis persnya, POCO mengklaim F9 Ultra dibekali baterai silicon-carbon berkapasitas 8.050 mAh yang mampu bertahan hingga dua hari dalam pemakaian normal. Sementara itu, POCO F9 Pro mengandalkan baterai 6.330 mAh yang dirancang untuk menemani aktivitas seharian.
Keduanya juga mendukung pengisian daya 100W wired HyperCharge dan 50W wireless HyperCharge, serta reverse charging hingga 27W melalui kabel dan 22,5W secara nirkabel.
Namun, bagaimana dengan pengalaman penggunaan nyata?
Pertama-tama, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengujian saya. POCO F9 Pro ini bukan ponsel utama saya (tentu saja berhubung ini barang review), sehingga sebagian besar aktivitas kerja sehari-hari masih ditangani perangkat pribadi saya.
Saya juga belum memasang aplikasi seperti WhatsApp yang dapat menjalankan berbagai aktivitas di latar belakang. Saya juga tidak login ke aplikasi Facebook, Instagram, dan sejenisnya. Selain itu, perangkat ini masih relatif baru, sehingga kondisi baterainya belum terpengaruh usia pemakaian panjang.
Dengan berbagai catatan tersebut, daya tahan baterai POCO F9 Pro tetap menarik.
Pada 27 Oktober, saya mengisi daya ponsel hingga 100%. Sepanjang hari, perangkat ini saya gunakan untuk tiga sesi PUBG Mobile, masing-masing sekitar 30 menit. Saya bertahan hingga dua pemain terakhir di setiap pertandingan, bahkan berhasil memenangkan dua pertandingan pertama.
Selain bermain game, saya juga memutar musik. Malam harinya, saya membiarkan ponsel memutar BGM Backrooms secara berulang sebagai pengantar tidur.
Tolong jangan hakimi selera musik pengantar tidur saya. Saya tahu musiknya terdengar seperti soundtrack ketika seseorang tersesat di gedung perkantoran yang tidak berujung, tetapi entah bagaimana, bagi saya, musik itu justru menenangkan.
Keesokan paginya, baterai POCO F9 Pro masih tersisa 73%. Artinya, perangkat hanya kehilangan 27 poin persentase sejak pengisian penuh, meskipun sudah digunakan bermain game, memutar musik, dan menemani tidur semalaman.
Tentu saja, pengujian ini belum bisa dijadikan patokan universal untuk semua pengguna. Pola penggunaan saya relatif ringan di luar sesi gaming, dan perangkat belum menjalankan seluruh aplikasi yang biasa saya gunakan pada ponsel utama.
Meski begitu, hasil awal ini cukup menjanjikan. POCO F9 Pro masih memiliki banyak daya tersisa untuk saya bawa ke kantor dan gunakan bermain lagi keesokan harinya.
Setidaknya dari pengalaman awal ini, klaim daya tahan baterai POCO F9 Pro bukan sekadar angka besar di atas kertas. Saya masih perlu mengujinya lebih jauh dalam pemakaian harian yang lebih lengkap, tetapi sejauh ini baterainya memberikan kesan yang positif.
Dalam rilis persnya, POCO mengklaim F9 Pro menggunakan dual symmetrical 1115F super-linear stereo speakers dengan Sealed Cavity Design racikan Bose. Sistem ini diklaim mampu menghadirkan vokal yang bersih dan detail nada tinggi yang jernih.
POCO juga menyediakan profil audio Dynamic dan Balanced, serta Game Audio Mode yang dirancang untuk memperjelas suara langkah kaki lawan dan letusan tembakan tanpa menutupi efek suara lainnya.
Sayangnya, saya bukan audiophile. Jadi, saya tidak akan berpura-pura bisa menilai separasi instrumen, soundstage, atau karakter frekuensi audio secara teknis.
Namun, kesan pertama saya ketika memutar musik melalui POCO F9 Pro cukup sederhana: “Ini speakernya nendang.”
Suara yang dihasilkan terasa kuat, penuh, dan cukup detail. Untuk mengujinya, saya memutar tiga lagu dengan karakter berbeda:
“Bohemian Rhapsody” — Queen
“Through the Fire and Flames” — DragonForce
“21st Century Schizoid Man” — King Crimson
Ketiganya memiliki aransemen yang relatif padat, sehingga menjadi pengujian praktis yang menarik untuk melihat bagaimana speaker menangani vokal, gitar, drum, dan berbagai lapisan instrumen.
Dalam pengalaman saya, speaker F9 Pro mampu menyajikannya dengan meyakinkan. Kesan yang paling menonjol adalah suara yang terasa lebih besar daripada yang biasanya saya harapkan dari speaker smartphone.
Lalu, bagaimana ketika digunakan bermain game?
Karena POCO secara khusus menonjolkan Game Audio Mode untuk memperjelas langkah kaki dan suara tembakan, saya mencoba fitur ini dalam PUBG Mobile.
Hasilnya cukup menyenangkan. Letusan senjata terdengar tegas, sementara suara langkah kaki musuh di atas rumput Erangel (“srek, srek, srek”) juga terdengar jelas. Efek suara permainan terasa lebih hidup tanpa harus menggunakan TWS.
Tentu saja, speaker internal tetap memiliki keterbatasan dibandingkan headset yang dirancang untuk mendengarkan detail posisi suara. Saya juga belum melakukan pengujian terkontrol untuk memastikan seberapa besar peningkatan yang diberikan Game Audio Mode dibandingkan profil audio biasa.
Namun, untuk pengalaman bermain sehari-hari, speaker POCO F9 Pro sudah memberikan kesan yang positif.
Menjamin kemenangan? Belum tentu. Menambah imersi meski tidak pakai TWS? Oh yes.
POCO F9 Pro mengandalkan kamera telefoto floating 50MP dengan pembesaran optik 2,5x. Kamera ini juga menawarkan kemampuan fotografi jarak dekat hingga 10 cm, sehingga bisa digunakan untuk memotret detail objek maupun mengambil gambar dengan perspektif yang lebih luas. Untuk kebutuhan selfie dan video, tersedia kamera depan 32MP serta dukungan perekaman 4K Ultra HD.
Dari beberapa foto yang saya ambil, POCO F9 Pro tampaknya memiliki kecenderungan menghasilkan gambar dengan warna yang lebih vibrant dan tampilan yang lebih halus ketika menggunakan mode kamera default. Hasilnya terlihat menarik tanpa perlu banyak penyesuaian setelah foto diambil.
Jika kebutuhanmu sebatas mengambil foto bersama teman, keluarga, pasangan, atau mengabadikan momen seru, karakter kamera POCO F9 Pro ini cukup menyenangkan.
Tapi bagaimana kalau digunakan untuk bekerja?
Behold, momen Fahrul R. U. Nurullah membawa POCO F9 Pro ke liputan peluncuran "saudara-saudaranya", POCO X8 dan POCO C95 Pro.
Ada beberapa hal yang saya coba selama liputan tersebut.
Pertama, perekaman video. Kemampuan merekam video 4K 60 FPS terasa mulus, bahkan ketika saya menggunakan zoom hingga 5x. Audio dari loudspeaker acara maupun percakapan orang-orang di sekitar saya juga dapat tertangkap dengan baik, meskipun saya tidak menggunakan mikrofon eksternal atau periferal audio tambahan.
Kedua, fotografi produk. Ketika menggunakan zoom 2,5x untuk memotret kotak kemasan POCO C95 Pro dan POCO X8, saya cukup puas dengan hasilnya. Detail tulisan, warna kemasan, dan eksposur foto sudah memenuhi kebutuhan dokumentasi produk untuk keperluan liputan.
Ketiga, memotret narasumber. Ketika Novita Krisutami, PR Manager POCO Indonesia, sedang memaparkan produk, saya mencoba menggunakan zoom 5x untuk mengambil fotonya. Hasilnya masih cukup baik. Detail wajah narasumber tetap terlihat jelas dan tidak mengalami pixelation yang mengganggu.
Perlu dicatat bahwa seluruh pengujian liputan ini dilakukan di dalam ruangan dengan pencahayaan yang memadai.
Lantas, bagaimana kesimpulan saya?
Kamera POCO F9 Pro terasa cukup oke. Ini bukan fitur yang akan menjadi alasan utama saya membeli ponsel tersebut.
Namun, jika suatu saat saya harus menggunakan POCO F9 Pro untuk kebutuhan pekerjaan seperti meliput acara, mengambil foto produk, merekam presentasi, atau mendokumentasikan narasumber, saya tidak merasa perangkat ini akan mengecewakan.
Kamera POCO F9 Pro mungkin bukan alasan utama saya ingin memilikinya, tetapi kemampuannya sudah cukup untuk membuat saya tidak keberatan mengandalkannya ketika dibutuhkan.
Saya pertama kali mencoba PUBG Mobile dengan pengaturan grafis Balanced. Hasilnya cukup memuaskan: permainan berjalan mulus dengan FPS terpantau di kisaran 70–80 FPS melalui GameTurbo, tanpa penurunan performa yang terasa selama sesi pengujian. Bahkan setelah beberapa pertandingan berturut-turut, suhu ponsel masih terasa terkendali.
Saya kemudian mencoba menaikkan pengaturan frame rate. Hasilnya, permainan bisa berjalan hingga 120 FPS, dengan fluktuasi yang terpantau di kisaran 110–120 FPS.
Perbedaan kelancaran permainan pun terasa, terutama ketika bergerak cepat dan menghadapi situasi pertempuran yang menegangkan. Dalam upaya meraih Chicken Dinner, respons permainan yang mulus tentu menjadi nilai tambah.
Dalam presentasinya, POCO turut menyoroti respons sentuh instan hingga 4.800 Hz, 10-point touch sampling 480 Hz, sensor gyro 200 Hz, serta fitur Game Color Enhancement.
Saya tidak melakukan pengukuran laboratorium untuk memverifikasi angka-angka tersebut. Namun, dalam pengalaman bermain, input terasa diterima dengan mulus, termasuk ketika pertandingan memasuki fase akhir yang menegangkan.
Dan sebagai umat “Gyro Always Active” di PUBG Mobile, saya cukup memperhatikan bagian ini. Respons gyro yang baik sangat membantu ketika saya perlu mengoreksi bidikan dan mengikuti pergerakan lawan dengan cepat.
Terutama karena gaya bermain saya memang agak nekat.
Saya cenderung menjadi ujung tombak tim, berlari lebih dahulu dengan SMG untuk memancing lawan memperlihatkan posisi atau menarik perhatian mereka. Setelah itu, rekan-rekan saya bisa memanfaatkan situasi untuk menyerang.
Atau, dalam skenario terburuk, saya menjadi orang pertama yang ditembak. Namanya juga breacher.
Menariknya, gaya bermain seperti ini justru memberi saya banyak kesempatan untuk merasakan respons kontrol dalam situasi yang menuntut gerakan cepat, perubahan arah bidikan, dan koreksi gyro secara spontan.
Secara keseluruhan, pengalaman bermain PUBG Mobile di POCO F9 Pro cukup meyakinkan. Performa terasa mulus pada pengaturan yang saya coba, frame rate dapat mencapai 120 FPS, dan suhu perangkat masih terasa terkendali selama sesi permainan tersebut.
Tentu, hasil ini tidak otomatis menjamin semua game akan memberikan pengalaman serupa. Namun, jika PUBG Mobile saja bisa berjalan dengan baik dalam pengujian saya, game yang lebih ringan seharusnya bukan tantangan besar bagi perangkat ini.
Wah, kalau yang satu ini…
Wuthering Waves sampai sekarang masih terasa seperti final boss untuk pengujian performa smartphone.
Namun, POCO F9 Pro tetap memberikan performa yang cukup mengesankan.
Hal pertama yang ingin saya puji adalah respons layarnya. Ketika memainkan konten endgame, saya bisa menekan tombol serangan, melakukan swap karakter, mengaktifkan Ultimate, dan menggunakan fungsi lainnya dengan nyaman. Input terasa responsif, tanpa kesan tombol sulit ditekan atau perintah terlambat diterima.
Lalu, bagaimana dengan performanya?
Secara default, Wuthering Waves merekomendasikan pengaturan grafis High Quality dengan frame rate 30 FPS pada perangkat yang saya gunakan.
Tapi, tentu saja, muncul pertanyaan yang sulit ditahan: bisa tidak main di 60 FPS?
Kalau bisa sih, bisa.
Ketika saya mencoba memaksakan pengaturan 60 FPS, Wuthering Waves memperingatkan bahwa beban perangkat sudah terlalu tinggi. Game bahkan menyarankan penyesuaian pengaturan untuk membantu mencegah panas berlebih.
Namun, ketika saya tetap mencobanya, hasilnya cukup mengejutkan. Bahkan saat memainkan konten endgame, permainan terasa mulus di 60 FPS, tanpa patah-patah atau penurunan frame rate mendadak yang saya sadari selama pengujian.
Jadi, dari segi pengalaman bermain, POCO F9 Pro mampu memberikan hasil yang mengesankan meskipun saya menggunakan pengaturan yang lebih agresif daripada rekomendasi game.
Tetapi ada satu masalah: Wuthering Waves termasuk game dalam pengujian saya yang bisa mendesak POCO F9 Pro sampai panas.
Setelah sesi bermain, bodi POCO F9 Pro terasa jauh lebih panas dibandingkan ketika saya memainkan PUBG Mobile selama tiga pertandingan penuh. Ini menarik perhatian saya karena Poco F9 Pro sudah dilengkapi POCO 3D IceLoop yang bekerja agresif menjaga suhu mesin tetap adem walau digeber tanpa henti, dan terasa jasanya dalam sesi PUBG Mobile dan Free Fire saya.
Ini menjadi catatan penting. Performa yang terasa mulus tidak otomatis berarti perangkat bekerja dengan santai. Mempertahankan frame rate tinggi dalam game seberat Wuthering Waves dapat menuntut kerja CPU dan GPU yang lebih intensif, sehingga suhu perangkat ikut meningkat.
Karena itu, meskipun 60 FPS bisa dicapai dalam pengujian saya, saya tidak akan menyarankan semua pemain memaksakan pengaturan tersebut untuk sesi panjang. Peringatan suhu dari game tetap perlu diperhatikan, terutama jika perangkat mulai terasa terlalu panas atau menunjukkan tanda penurunan performa.
Pada akhirnya, POCO F9 Pro memberikan pengalaman bermain Wuthering Waves yang cukup meyakinkan, tetapi dengan kompromi termal yang lebih terasa dibandingkan PUBG Mobile.
Bisa menjalankan 60 FPS? Bisa. Apakah itu berarti bisa mempertahankannya dengan nyaman tanpa kompromi? Itu masalah yang beda lagi.
Demi umur device, coba main aman saja jika sudah berurusan dengan WuWa.
Salah satu hal menarik dari POCO F9 Pro adalah posisinya yang hampir pasti akan membuat orang membandingkannya dengan saudaranya sendiri, POCO F9 Ultra.
Keduanya memiliki sejumlah keunggulan yang sama, tetapi F9 Ultra juga menawarkan beberapa kemampuan tambahan di aspek tertentu. Meski begitu, POCO F9 Pro punya satu keunggulan yang cukup jelas: harganya lebih terjangkau.
Dengan harga SRP Rp12.499.000, dibandingkan Rp13.999.000 untuk POCO F9 Ultra, selisih Rp1,5 juta tentu bukan sesuatu yang bisa diabaikan, terutama ketika kita sedang lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.
Selama pengujian, beberapa keunggulan yang dijanjikan POCO juga terbukti bukan sekadar pernyataan dalam press release. Performa gaming-nya memuaskan untuk PUBG Mobile, layar sentuhnya nyaman digunakan baik untuk bermain, speaker-nya memberikan pengalaman audio yang menyenangkan, dan baterainya mampu menemani aktivitas saya dengan cukup baik.
Tentu saja, bukan berarti ponsel ini tanpa kompromi. Wuthering Waves, misalnya, memperlihatkan bahwa menjalankan game berat dalam waktu lama tetap bisa menjadi tantangan dari sisi suhu perangkat. Kameranya juga belum bisa menandingi fleksibilitas beberapa ponsel. Namun, untuk kebutuhan dokumentasi dan liputan, hasilnya ternyata masih cukup bisa diandalkan.
Lantas, apakah saya akan mempertimbangkan POCO F9 Pro jika sedang mencari smartphone gaming di kisaran harga Rp12 jutaan?
Jawabannya: iya.
Saya bisa membayangkan POCO F9 Pro menjadi ponsel yang menarik untuk saya miliki. Saya bisa mengandalkannya untuk bermain game, mendengarkan musik, mengedit konten, hingga menjadi perangkat cadangan untuk pekerjaan sehari-hari.