Dok. Marvel (Matthew Malloy)
Matthew Malloy diperkenalkan sebagai ancaman Omega-level di era modern X-Men: kekuatan telepati, telekinesis, manipulasi materi dan energi yang bekerja tanpa kontrol emosional. Dalam alur Uncanny X-Men Vol. 3 dia meledak dari trauma pribadi dan energi yang dilepaskannya menghancurkan area besar; cerita menekankan bahwa Professor X pernah menahan atau memblokir potensi Malloy karena Cerebro mencatatnya sebagai “sumber kekuatan terbesar” yang pernah terdeteksi. Karena sifatnya yang tak terlatih dan implikasi eksistensial dari kemampuannya, penanganan dalam komik berujung pada tindakan ekstrem (penggunaan time travel untuk mencegah kelahirannya).
Malloy muncul dalam cerita modern (dari tim Brian Michael Bendis / Kris Anka) yang ditulis untuk Uncanny X-Men (Vol. 3, arc sekitar 2014–2015). Pembacaan komiknya menegaskan dua hal: (1) bahaya terbesar Malloy bukan sekadar ledakan kekuatan, melainkan ketidakmampuan dunia komik untuk mengatasi konsekuensi keberadaannya, dan (2) solusi di-narrative-kan sebagai “menghapusnya dari garis waktu” tanda seberapa parah ancamannya terhadap kontinuitas.
Kalau ditanya mana yang paling “mengerikan” tanpa kosmik, jawabannya bukan cuma soal power level, tapi mode serangannya: ada yang merusak realitas pelan-pelan (Jaspers, Proteus), ada yang memicu pemangkasan genetik massal (Wanda), ada yang menghancurkan karena strategi dan nihilisme (Stryfe), dan ada yang murni merupakan “bug” kontinuitas (Malloy, Legion). Semua delapan ini menunjukkan satu hal: ketika kekuatan mutant bertemu trauma, ideologi, atau fragmentasi psikologis, hasilnya bisa jadi bukan sekadar pertempuran melainkan krisis eksistensial bagi dunia Marvel.