TUTUP

Review Lucid Temptation: Light Novel Menjanjikan yang Bisa Dikembangkan Lagi

Lucid Temptation adalah light novel penuh potensi karya seorang penulis asal Indonesia. Namun judul ini bisa dikembangkan lagi. Berikut pembahasannya!

Lucid Temptation adalah light novel penuh potensi karya seorang penulis asal Indonesia. Namun judul ini bisa dikembangkan lagi. Berikut pembahasannya!

[duniaku_baca_juga] Skena karya indie di Indonesia semakin berkembang. Banyak judul menarik yang bisa kamu temukan di ajang seperti Comifuro, dengan kualitas yang tidak kalah dengan novel fantasi lokal yang bisa rilis di toko buku besar. Salah satu judul light novel karya penulis asal Indonesia yang menarik dibahas adalah Lucid Temptation, yang review-nya sedang kamu baca ini. Judul yang satu ini ditulis oleh seseorang dengan nama pena Loka S. Ratimaya, dan dihiasi oleh ilustrasi dari Swordwaltz. Apakah novel yang satu ini menarik untuk kamu miliki? Tentu, kamu bisa membeli dan mencobanya sendiri. Tapi untuk membantumu memutuskan, mari kita mulai pembedahan sisi positif dan negatif buku ini.

Sinopsis

Lucid Temptation berlatar di Oukanajima, kota yang berdiri di atas sebuah pulau kecil. Kota ini mengalami fenomena di mana para penduduknya sangat mudah mengalami Lucid Dream alias mimpi sadar. [read_more id="332075"] Kalau kamu belum tahu, bila kamu bisa mencapai tahap lucid dreaming, kamu bisa mengutak-atik mimpi dengan sesuka hati. Kamu ingin terbang? Bisa. Kamu ingin memunculkan senjata dari anime untuk melawan monster dari mimpi buruk? Bisa. Jelas, fenomena ini pun membuat penduduk Oukanajima senang. Hanya satu sosok yang merasakan efek negatif dari fenomena ini: Maaya. Anak yang sering di-bully ini justru sering melihat visi mengerikan dan mengalami disorientasi. Kunci Maaya untuk memahami misteri ini mungkin adalah Madre, si guru baru yang misterius.

Kekuatan Gambar

[duniaku_adsense] Salah satu kekuatan utama dari Lucid Temptation jelas adalah kualitas dari setiap gambarnya. Swordwaltz mampu menyajikan ilustrasi-ilustrasi yang terlihat memiliki kualitas pro. Light novel memang terkadang diperkuat oleh gambar, dan visual yang disajikan terasa memikat dan bisa membawamu semakin mudah membayangkan dunia di kisahnya. Tapi jelas, berhubung ini novel, gambar bukanlah unsur utama bagi pembaca untuk menikmati kisahnya. Bagaimana dengan kekuatan plot, narasi, dan karakter?

Menyajikan Kumpulan Karakter yang Unik dan Berpotensi

Kekuatan lain dari novel ini adalah penulis mampu menyajikan karakter-karakter yang unik antara satu dengan lainnya. Setidaknya, dalam situasi di mana mereka berbicara satu sama lain, kamu akan mudah memahami siapa bicara dengan siapa, bahkan tanpa keterangan pembicara. Kumpulan karakter ini pun disajikan melalui alur cerita sendiri-sendiri, yang menyorot mereka lebih dalam, sebelum berganti ke kasus yang menyorot tokoh lain. Total, penulis merasa buku ini dibagi menjadi tiga kasus berbeda. Narasi cerita pun terasa cukup. Tidak terasa istimewa, namun kamu minimal bisa menikmati satu adegan ke adegan lain tanpa tersendat. Keanehannya paling adalah adanya sejumlah kata-kata yang terasa seperti terjemahan yang kurang bagus dari bahasa Inggris.

Menawarkan Aksi-Aksi yang Memukau

Adegan aksi bisa dibilang adalah keunggulan lain dari novel ini. Setiap adegan aksi dimulai, perhatian kamu pasti akan tertuju ke halaman-halaman kisahnya. Narasi di adegan ini biasanya ringkas, membangkitkan tempo membaca yang cepat dan dinamis.

Meski begitu, karakter-karakter menarik Lucid Temptation terasa kurang dimanfaatkan maksimal. Baca pembahasan kelemahan novel ini di halaman kedua!

Lucid Dreaming yang Terasa Kurang Dieksplorasi di Buku Ini

[duniaku_baca_juga] Kalau kamu membaca blurb buku ini, kamu mungkin akan mengira kalau kebanyakan konflik dan aksi Lucid Temptation akan mengambil latar di dunia mimpi, seperti Inception. Nyatanya tidak. Kebanyakan konflik di buku ini justru terjadi di dunia nyata. Bahkan, bisa dibilang, fenomena Lucid Dream yang ditulis di blurb juga secara keseluruhan kurang dieksplorasi. Selain mimpi-mimpi Maaya dan dialog beberapa karakter, pembaca tidak benar-benar diperlihatkan efek dari fenomena tersebut. Show, don't tell adalah mantera yang biasa digunakan sebagai nasihat untuk penulisan cerita. Fenomena Lucid Dreaming di Lucid Temptation, sayangnya, lebih banyak tell ketimbang menunjukkan apa yang terjadi.

Tokoh Utama yang Justru Kurang Disajikan Maksimal

[duniaku_adsense] Sebagai tokoh utama dari cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama, sebenarnya cukup menakjubkan menyadari Maaya terasa lebih hambar ketimbang tokoh lain. Karakter seperti si fotografer gerilya, Harumiya Rumi, atau duo bully Maaya, Yura dan Umi, terasa disajikan dengan oke. Namun saya merasa kalau penulis novel ini justru kurang mengeeksplorasi tokoh utamanya sendiri. Dengan sudut pandang orang pertama, saya seharusnya minimal bisa mengetahui lebih dalam apa yang disukai oleh gadis ini dan apa yang ia benci. Atau kesan mendalamnya tentang suatu kejadian. Namun, Maaya justru tersaji dengan agak hambar. Gadis ini tersaji seperti sosok yang tidak memedulikan hal lain selain misteri Madre dan mimpi-mimpi mengerikannya. Pembaca sulit untuk merasakan empati bila Maaya bahkan seperti tidak peduli saat ia di-bully. [read_more id="339055"] Selain itu, saya menemukan penulis ada kecenderungan untuk melindungi Maaya. Jarang terasa kalau ia berada dalam bahaya. Momen di mana ia ditindas oleh duo Yura dan Umi disajikan dengan begitu saja, tanpa impact. Bisa dimaklumi kalau seorang penulis sayang dengan karakternya sendiri dan tidak tega membuatnya menderita. Penderitaan terlalu panjang juga hanya akan membuat kesal. (Cek saja FTV religi). Tapi jika disajikan seperti ini, akan sulit juga untuk membuat pembaca peduli pada si tokoh utama. Saya justru lebih mudah memahami dan menyukai karakter lain.

Format Plot yang Kurang Tepat?

Dari yang penulis tangkap saat membaca, penulis novel ini berusaha menyajikan Lucid Temptation bak episode anime. Masing-masing episode memiliki konflik sendiri yang bermuara pada kemunculan Vragel, makhluk misterius yang tercipta dari konflik batin seseorang. Setiap episode juga punya tokoh korban yang disorot untuk ditangani oleh Maaya dan Madre. Sayangnya, format ini justru membuat ceritanya juga kurang tersaji maksimal. Plot yang paling seru, menurut saya, adalah alur Harumiya Rumi. Karena di sana ada sesuatu yang dipertaruhkan (nyawa dari korban di alur tersebut, yang diculik), dan juga musuh tangguh untuk dihadapi. Kalau dikembangkan dengan benar, alur ini bisa sangat memikat hingga akhir. [read_more id="338931"] Namun karena hanya diperlakukan sebagai alur mini, konflik ini pun berakhir terlalu cepat. Tokoh-tokoh yang diperkenalkan, termasuk penjahat di alur itu, belum disajikan dengan baik, namun tiba-tiba kisahnya sudah berakhir. Kalau penulis menggunakan inspirasi anime episodik untuk format buku ini, maka saya menyarankan agar di kesempatan lain beliau menggunakan format movie. Fokus ke satu alur panjang, perdalam karakter dari semua yang terlibat di alur tersebut, lalu berikan akhir yang menggigit. Dengan format tiga episode mini dalam satu buku ini, setiap konflik utama terasa dimulai terlalu mendadak dan berakhir begitu saja, seakan penulisnya tidak memiliki cukup halaman untuk menyajikannya dengan maksimal. Selain itu, cerita ini juga sering kali terasa terlalu santai. Selain alur Rumi, konfliknya terasa terjadi tiba-tiba. Risiko yang mengancam protagonis pun kurang terasa.
Mengesampingkan kelemahannya, Lucid Temptation LucidWerksadalah judul yang menarik untuk dicoba. Kalau kamu penasaran, kamu bisa mengunjungi halaman untuk keterangan lebih lanjut.