TUTUP

Kualitas Game Kurang dan Stigma Negatif? Inilah Solusi untuk Bangkitkan Industri Game Indonesia!

Apa saja tantangan yang dihadapi oleh industri game Indonesia dan bagaimana solusinya? Sesi panel di Game Networking Jakarta 2017 ini mencoba menjawabnya!

Pada acara Game Networking Jakarta 2017 yang diadakan pada 16 Maret 2017 lalu, terdapat sebuah sesi panelis yang berisi para developer game Indonesia. Di sini, mereka membicarakan tentang tantangan dari industri game lokal dan solusi yang bisa dilakukan.

[duniaku_baca_juga] Sesi panel ini diisi oleh tiga orang narasumber yang sudah malang melintang di industri game Indonesia. Mereka adalah Anton Soeharyo (CEO Touchten Games), Cipto Adiguno (CEO Ekuator Games), dan Andrew Pratomo (co-founder Agate Studio). Selain itu ada pula Jonathan Manuel Gunawan (COO Toge Productions) yang bertindak sebagai moderator. Dua hal utama yang dibahas di sesi panel ini adalah tantangan yang dihadapi oleh developer game Indonesia serta bagaimana cara untuk menanggulanginya. Tantangan yang dihadapi memang cukup besar. Sebagai gambaran, Cipto mengungkapkan bahwa dari 250 juta lebih penduduk Indonesia, sekitar 16 persen merupakan kalangan gamer. Dan dari 16 persen tersebut tahun lalu terjadi peningkatan pengeluaran sebesar 45 persen. Total USD 300 juta terserap dari pasar gamer Indonesia. Sayangnya, hanya 1 persen saja yang dinikmati oleh developer lokal, sisanya masuk ke penerbit atau developer luar. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Apa saja faktor tersebut dan bagaimana solusi untuk menanggulanginya? Inilah kata mereka:

Stigma Negatif terhadap Game Indonesia

Tebak Gambar, salah satu game Indonesia yang sukses besar di pasar lokal.[/caption] Hal ini diakui oleh ketiga panelis sebagai momok terbesar bagi developer game Indonesia untuk berjaya di kandang sendiri. Tak seperti Cina, Vietnam, atau Thailand, gamer Indonesia cenderung melihat game Indonesia dengan sebelah mata. Hal ini tentunya tidak tanpa alasan. Salah satu alasan yang paling kuat adalah dari segi kualitas game itu sendiri. Cipto mengakui hal tersebut, namun ia juga merasa dana yang dimiliki oleh developer juga tak mencukupi untuk membuat game berkualitas itu sendiri. Di sisi lain, ia mengungkapkan bahwa dana tak menghampiri karena gamenya kurang bagus. "Jadi, ini seperti situasi telur dan ayam. Yang mana nih yang duluan?" ungkap pria berambut panjang ini. Anton melanjutkan, bahwa jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Vietnam, Thailand, dan Cina, kecintaan masyarakat Indonesia terhadap game lokal cukup jauh. Memang ada faktor bahasa yang menjadi semacam "filter" bagi game luar yang masuk ke negara-negara tersebut, terutama karena aksara yang mereka pakai berbeda dengan game bahasa Inggris. Di Indonesia sendiri aksara yang dipakai adalah alfabet, sama dengan yang dipakai oleh bahasa Inggris. [duniaku_adsense] Tak hanya filter bahasa, negara-negara tersebut juga membuat peraturan cukup ketat bagi game luar yang ingin masuk. Contohnya adalah ada negara yang mewajibkan penerbit game untuk bekerja sama dengan minimal dua perusahaan lokal. Sedangkan di Indonesia, di sini penerbit luar bisa dengan leluasa mengiklankan game mereka. Lihat saja di setiap iklan yang ada di game kamu, pasti diisi oleh game luar negeri. Dengan dana yang "tak terbatas", tentu saja game Indonesia kalah dalam hal promosi. Dari Andrew menyampaikan bahwa Indonesia memang terlambat dalam memulai industri gamenya sehingga banyak tertinggal. Dibanding dengan Jepang atau Amerika Serikat yang telah jauh memulai duluan, ekosistem industri Indonesia jelas masih jauh dari dewasa.

Lalu Apa Solusinya?

Acara seperti Game Networking Jakarta turut membantu perkembangan industri game Indonesia.[/caption] Satu hal utama yang disepakati oleh ketiga panelis adalah perlunya "trust" alias kepercayaan gamer Indonesia terhadap game lokal. Kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diraih dalam waktu semalam, tetapi harus dibangun secara perlahan. Nah, kepercayaan ini sendiri bisa dibangun dengan berbagai cara. Menurut Andrew, pemerintah perlu membuat regulasi yang lebih melindungi produk dalam negeri, termasuk game. Selain itu, menjalin kerja sama dengan developer luar bisa menjadi tangga bagi developer lokal untuk belajar dan menyerap ilmu mereka untuk meningkatkan kualitas game dalam negeri. [read_more id="301319"] Anton menambahkan bahwa penting bagi para developer untuk memiliki jaringan yang kuat, terutama dari para pemegang platform distribusi seperti Google Play dan App Store. Dengan menjalin hubungan baik dengan mereka, developer akan memiliki kesempatan untuk muncul lebih sering di kolom featured masing-masing platform. Dengan begitu otomatis gamenya pun akan lebih terlihat dan diunduh lebih banyak orang. Cipto mewakili AGI mengatakan bahwa ia berharap dengan kepengurusan AGI yang baru ini rekan-rekan developer akan mendapatkan dukungan yang lebih dari sebelumnya. Dukungan dari BEKRAF juga akan sangat membantu, contohnya adalah acara networking seperti Game Networking Jakarta ini.
Itulah berbagai tantangan yang dihadapi oleh developer game Indonesia dan beberapa solusinya. Bagaimana menurutmu dengan langkah-langkah tersebut?